Tantangan Baru Iran untuk AS, Trump "Mimpi" Caplok Selat Hormuz

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendalinya dan tidak akan dibuka tanpa terpenuhinya syarat Iran. Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta warga bersiap menghadapi harga bensin yang lebih mahal dan bahkan mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.

Pernyataan tersebut muncul pada Sabtu (15/8/2028) ketika upaya menuju perundingan damai masih terhenti. Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menjadi rute bagi sekitar seperlima minyak dunia, juga belum kembali normal.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran tidak akan menyerah atas pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

"Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup berdasarkan perintah Iran. Selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan berhenti larut dalam khayalan, Iran akan terus memberlakukan blokade," tulis Gharibabadi melalui X.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga mengatakan Teheran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington.

Dalam wawancara dengan media Iran Shahrara News yang diterbitkan pada Sabtu, Araqchi mengatakan AS harus memenuhi sejumlah persyaratan terkait Selat Hormuz sebelum lalu lintas pelayaran dapat kembali berlangsung.

Sebelum perang, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Terhentinya lalu lintas melalui Hormuz karena itu memberikan tekanan terhadap pasar energi sekaligus meningkatkan kekhawatiran mengenai harga bahan bakar.

Trump, sementara itu, meminta warga AS menerima kenaikan harga bensin yang menurutnya merupakan konsekuensi yang layak selama perang berlangsung.

Dalam sebuah kampanye politik di Garden City, New York, pada Jumat, Trump mengatakan warga AS perlu membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" sebagai biaya untuk memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu alasan yang dikemukakan Trump untuk perang tersebut.

Trump juga kembali mengeluarkan ancaman terkait Selat Hormuz.

"Setelah kami selesai mengalahkan Iran ... sebentar lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, sebagaimana dikutip Reuters.

Adapun sepanjang konflik, Trump telah berganti-ganti antara ancaman untuk meningkatkan eskalasi dan pernyataan bahwa kesepakatan damai sudah semakin dekat.

Teheran dalam beberapa hari terakhir juga meningkatkan retorikanya setelah upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang terlihat menemui jalan buntu.

Gharibabadi menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz tidak bisa begitu saja diambil melalui ancaman politik atau pengerahan militer Amerika.

"Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan atau kapal induk, dengan mengeluarkan perintah atau dengan menyampaikan pidato kampanye pemilu," katanya.

Namun, di tengah sikap tegas tersebut, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataannya di televisi pemerintah menyalahkan tingginya inflasi akibat blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Lalu lintas di Selat Hormuz pun kini berada jauh di bawah kondisi sebelum perang.

Analisis perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah dalam lalu lintas tersebut.

Kpler mengakui sejumlah kapal mungkin melintasi selat tanpa terdeteksi karena mematikan transponder mereka. Namun, jumlah kapal yang terlihat tetap sangat jauh dari kondisi sebelum perang, ketika lebih dari 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari.

Kapal-kapal yang berani melewati selat tanpa izin Iran menghadapi risiko serangan rudal atau drone.

Kondisi tersebut membuat jalur perdagangan energi global berada di bawah tekanan besar.

Iran menyebut tindakan pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz sebagai blokade. Sementara itu, Washington menggunakan istilah blokade untuk menggambarkan ancamannya terhadap kapal-kapal Iran yang meninggalkan pelabuhan negara tersebut.

Sementara itu, kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni untuk mengakhiri perang kini praktis berada dalam kondisi berantakan.

Araqchi menegaskan bahwa menurut Iran, kesepakatan tersebut bukan sekadar gencatan senjata yang dapat diperpanjang.

"Kami sebenarnya tidak memiliki gencatan senjata sejak awal yang sekarang ingin kami perpanjang," kata Araqchi. "Kami memiliki 'akhir perang', dan sekarang ada situasi baru," lanjutnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak melihat kondisi saat ini sebagai kelanjutan dari gencatan senjata sebelumnya, melainkan sebagai fase baru dalam konflik.

Kesepakatan Juni sebelumnya bertujuan mengakhiri perang secara permanen. Namun, kesepakatan tersebut runtuh beberapa minggu kemudian setelah Iran kembali melakukan serangan terbatas terhadap kapal-kapal yang menurut Teheran berlayar bertentangan dengan ketentuan kesepakatan.

AS kemudian kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah wilayah di Iran bagian selatan.

Washington mengatakan serangan tersebut ditujukan untuk mengurangi kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal di kawasan Teluk.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |