Tiba-Tiba Kementan Minta Hitung Ulang Harga Acuan Daging Sapi, Kenapa?

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) memberi peringatan terkait lonjakan harga sapi bakalan impor dari Australia yang dinilai sudah melampaui asumsi normal. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan pelaku usaha hingga berdampak pada harga daging sapi, khususnya di wilayah yang bergantung pada impor seperti Jabodetabek.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun mengungkapkan kenaikan harga sapi di negara asal sudah signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

"Ini menjadi warning juga buat kita semua. Karena harga sapi di Australia itu sudah naik. Jadi feeder heifer (sapi betina penggemukan) itu per tanggal 20 April harganya sudah di US$4," ungkap Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (20/4/2026.

Menurutnya, angka tersebut jauh di atas tren historis. "Pengalaman kami tahun-tahun sebelumnya tidak pernah melebihi angka US$3,5 dolar," sambung dia.

Sementara itu, untuk sapi bakalan jantan, harga juga ikut terdongkrak.

"Sedangkan yang bakalan jantan sudah di angka US$4,56, dan kalau dibuat rata-rata US$4,32," jelasnya.

Berdasarkan perhitungan Kementan, kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada nilai CIF (Cost, Insurance and Freight) hingga harga landed di Indonesia. Setelah memperhitungkan ongkos kirim, asuransi, kurs, serta biaya penanganan dan kehilangan, harga sapi bakalan impor tercatat sudah jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP).

"Ditambah dengan asuransi perjalanan sampai kemudian tindakan karantina di Indonesia, itu harga per kilogram hidup sapi bakalan betina ada di angka Rp77.177. Kalau yang bakalan jantannya sudah Rp86.139. Sementara HAP kita maksimalnya Rp58.000 per kg berat hidup," kata Makmun.

Ia menilai kondisi ini menjadi dilema bagi pelaku usaha lantaran disparitas harga yang cukup lebar.

"Ini posisi yang agak rumit kelihatannya. Karena harga kita di HAP-nya Rp58.000 per kg hidup maksimal, sementara harga belinya teman-teman (importir) ini sudah sangat tinggi begitu," ujarnya.

Karena itu, Kementan mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera mengambil langkah penyesuaian kebijakan.

"Ini menjadi warning-lah mudah-mudahan teman-teman dari Badan Pangan ada pada kesempatan ini, mungkin nanti bagaimana langkah-langkah kita untuk menjembatani kenaikan harga di asalnya," ucap dia.

Lebih lanjut, Makmun menilai kenaikan harga sapi impor ini juga diperkirakan akan berdampak langsung pada harga daging sapi di pasar domestik, terutama di wilayah yang sangat bergantung pada pasokan impor.

"Ini ber-impact pada harga daging sapi di Jabodetabek. Kalau di luar Jawa kelihatannya masih lumayan aman ya, tapi kalau yang mengandalkan sapi impor, wilayah khususnya Jabodetabek, ini pasti akan mengalami lonjakan begitu, dari potret pembelian teman-teman yang ada," jelasnya.

Makmun mengatakan, pihaknya bersama Bapanas sebelumnya telah membahas revisi HAP agar lebih realistis dengan kondisi pasar saat ini.

"Kemarin kami juga sudah sampaikan, dan juga bersama dengan Badan Pangan untuk merevisi HAP-nya dengan kondisi yang ada," ujar Makmun.

Menurutnya, penyesuaian ini penting untuk menjaga keseimbangan antara harga beli dan harga jual, sekaligus menghindari tekanan terhadap pelaku usaha.

"Supaya nanti jangan sampai teman-teman Satgas Pangan juga mempersoalkan, sementara memang belinya sudah tinggi," ucap dia.

Makmun turut mengingatkan risiko yang lebih besar jika kebijakan tidak segera disesuaikan, yakni potensi terganggunya pasokan.

"Kalau kita tekan, khawatirnya mereka tidak belanja, nanti malah kita kekurangan stok. Nah ini lebih-lebih berbahaya lagi kalau kemudian stoknya tidak ada, karena mereka ditekan harus menjual dengan harga HAP yang ada saat ini," pungkasnya.

Tangkapan layar paparan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui siaran YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026). (Dok. YouTube/Kemendagri)Foto: Tangkapan layar paparan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui siaran YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026). (Dok. YouTube/Kemendagri)
Tangkapan layar paparan Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, melalui siaran YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026). (Dok. YouTube/Kemendagri)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |