1.800 Produk RI Bebas Tarif Impor 0% dari AS, Pengusaha Happy

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia usaha menyambut positif kesepakatan pembebasan tarif impor 0% untuk sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia ke Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini dinilai memberi kepastian pasar sekaligus memperkuat daya saing ekspor nasional, terutama bagi sektor-sektor unggulan yang selama ini bergantung pada pasar AS.


Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sanny Iskandar, mengatakan dunia usaha mengapresiasi kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha hingga kesepakatan tersebut tercapai.


"Dunia usaha mengapresiasi kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha sehingga kesepakatan ART (Agreement on Reciprocal) ini dapat dicapai. Adanya pembebasan tarif 0% untuk sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia merupakan sinyal bahwa perjanjian ini juga mengakomodasi kepentingan Indonesia," kata Sanny kepada CNBC Indonesia, Jumat (20/2/2026).


Menurutnya, dampak tarif 0% tersebut setidaknya dapat dilihat dari tiga dimensi utama. Pertama adalah kepastian pasar. Pembebasan tarif dinilai mampu menurunkan ketidakpastian perdagangan bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur tinggi ke pasar AS.


Sanny mencontohkan, sekitar 61% ekspor pakaian dan aksesori pakaian rajutan Indonesia selama ini ditujukan ke Amerika Serikat. Dengan tarif 0%, risiko penurunan permintaan akibat kenaikan biaya dapat ditekan, sehingga utilisasi kapasitas produksi dan perencanaan investasi industri menjadi lebih terjaga.


Dimensi kedua adalah penguatan daya saing relatif Indonesia dibandingkan negara pesaing. Dengan tarif resiprokal 19%, posisi Indonesia saat ini setara dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Bangladesh, sementara China masih menghadapi tarif efektif yang jauh lebih tinggi, yakni 30% atau lebih di banyak kategori.


Kondisi tersebut membuka peluang perluasan pangsa pasar Indonesia di AS, khususnya pada sektor pakaian dan aksesori pakaian rajutan. Saat ini, China masih menguasai sekitar 22% impor AS di kategori tersebut, disusul Vietnam 18%. Indonesia sendiri berada di kisaran 4,9% dari total impor AS.


Sanny menilai, penerapan tarif 0% menjadi faktor pembeda penting bagi produk apparel Indonesia, meski persaingan tetap ditentukan oleh faktor domestik seperti efisiensi biaya berusaha.


Dimensi ketiga berkaitan dengan ketahanan rantai pasok. Skema tarif 0% berbasis tarif rate quota untuk produk garmen yang menggunakan kapas asal AS dinilai dapat memperkuat stabilitas pasokan bahan baku industri tekstil nasional.


Industri tekstil dan garmen Indonesia saat ini mengimpor kapas lebih dari US$1,5 miliar per tahun, dengan sekitar US$150 juta atau 10% berasal dari Amerika Serikat. Kepastian pasokan bahan baku tersebut dinilai penting untuk menjaga struktur biaya sekaligus meningkatkan daya saing ekspor secara berkelanjutan.


Sementara itu, ia menegaskan pembebasan tarif tidak selalu menjadi ancaman bagi industri dalam negeri. Untuk komoditas tertentu yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, impor justru berfungsi sebagai input penting bagi industri nasional.


"Untuk komoditas yang memang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri, seperti kapas, kedelai, dan gandum, impor justru berfungsi sebagai input intermediate yang menopang industri nasional. Dalam konteks ini, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi domestik," jelasnya.


Dengan kepastian tarif dan akses pasar yang lebih baik, dunia usaha menilai momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan ekspor sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

(hoi/hoi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |