Jakarta, CNBC Indonesia - Temperatur Bumi terus-menerus menunjukkan kenaikan gara-gara aktivitas perekonomian dan kehidupan manusia yang menghasilkan emisi karbon. Dampaknya sudah tampak jelas di Antartika.
Benua beku tersebut mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat ketimbang berbagai wilayah lain di dunia. Hal ini mengancam kelangsungan ekosistem, menyebabkan kenaikan permukaan air laut, hingga mengganggu kestabilan pasokan pangan global.
Sebuah studi yang dipublikasikan jurnal Frontiers in Enviromental Science menekankan bahwa nasib Antartika akan ditentukan pilihan-pilihan hidup manusia dalam satu dekade ke depan. Dalam hal ini, pemerintah dan pemangku kebijakan di seluruh dunia memiliki andil besar dalam menentukan arah kelangsungan kehidupan di Bumi.
Tim peneliti yang dipimpin profesor glasiologi dari Newcastle University, Bethan Davies, membuat pemodelan untuk melihat skenario terbaik dan terburuk di Semenanjung Antartika, yakni bagian paling hangat di benua tersebut.
Untuk menghindari skenario terburuk, dunia perlu mengambil tindakan drastis dan konkrit dalam mewujudkan emisi nol (net-zero emission) secepat mungkin, dikutip dari Gizmodo berdasarkan laporan tersebut, Jumat (20/2/2026).
"Tentu saja kita bisa melakukan ini [menghindari skenario terburuk]. Artinya, kita harus berpikir logis tentang bagaimana mengoperasikan energi untuk negara kita, bagaimana memanaskan rumah kita, [membuat] keputusan dan kebijakan tentang bagaimana kita menjalani gaya hidup kita. Semua ini dapat dikelola dan dilakukan," Davies menjelaskan.
Tiga Skenario Masa Depan Antartika
Davies dan rekan-rekannya menganalisa data iklim CMIP6, yakni serangkaian simulasi terstandarisasi yang terkoordinasi dari puluhan model iklim. CMIP6 memungkinkan para ilmuwan memprediksi bagaimana sistem Bumi akan merespons berbagai tingkat emisi gas rumah kaca sambil meminimalkan ketidakpastian.
Studi yang dilakukan mempertimbangkan tiga skenario berbeda. Masing-masing adalah emisi rendah, emisi menengah-tinggi, hingga emisi sangat tinggi.
Emisi rendah merupakan skenario terbaik yang akan menghasilkan temperatur tak lebih dari 1,8 derajat Celcius untuk pemanasan global di atas level pra-industri hingga 2100 mendatang.
Dalam skenario ini, Semenanjung Antartika akan terhindar dari kerusakan lingkungan terburuk dan terhindar dari konsekuensi global paling parah akibat kerusakan tersebut. Luas es laut di musim dingin hanya akan sedikit lebih kecil daripada saat ini, dan kontribusi Semenanjung terhadap kenaikan permukaan laut hanya akan berjumlah beberapa milimeter. Gletser dan lapisan es pendukungnya akan tetap utuh.
Kehidupan Penguin Terancam
Sayangnya, saat ini belum ada tanda-tanda dunia bergerak ke arah sana. Dunia sedang bergerak ke skenario emisi menengah-tinggi, dengan temperatur 3,6 derajat Celcius di atas level pra-industri pada 2100.
Dalam skenario ini, temperatur Semenanjung Peninsula akan menjadi 3,4 derajat Celcius lebih panas dari saat ini. Kemungkinan akan ada 19 hari di atas 0 derajat Celcius per tahun. Curah hujan akan lebih banyak ketimbang salju.
Peningkatan suhu laut dan arus naik juga akan mempercepat penyusutan gletser. Semenanjung itu juga akan mengalami peristiwa cuaca ekstrem yang lebih sering, dan spesies asli seperti penguin Adélie akan terusir akibat kondisi iklim yang tidak ramah.
"Penguin Adélie adalah hewan kecil yang tangguh, tetapi ia tidak tahan jika anak-anaknya basah," jelas Davies.
"Apa yang terjadi ketika hujan turun di Semenanjung Antartika adalah kita bisa kehilangan seluruh koloni perkembangbiakan. Kita bisa kehilangan semua anak penguin," ia menambahkan.
Davies mengatakan para peneliti sudah melihat populasi Adélie di Semenanjung menyusut karena spesies penguin lain pindah ke sana.
Kiamat di Antartika: Es Meleleh, Cuaca Ekstrem Mengintai
Terakhir, ada skenario emisi sangat tinggi, di mana rata-rata temperatur global akan meningkat 4,4 derajat Celcius di atas level pra-industri pada 2100. Tim peneliti menyebut hal ini akan membawa kehancuran bagi Semenanjung Antartika.
Skenario ini memicu runtuhnya lapisan es, hilangnya es laut dalam jumlah besar, kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan parah, serta penurunan drastis spesies asli.
Davies menegaskan kerusakan yang ditimbulkan akan bersifat permanen. Meskipun dunia saat ini tidak menuju skenario terburuk tersebut, hal itu menggambarkan apa yang bisa terjadi jika umat manusia melampaui target emisi dan gagal mengekang emisi dalam beberapa dekade mendatang.
"Risikonya adalah, bahkan jika kita mengubur semua karbon di dalam tanah dan menemukan teknologi ajaib untuk melakukannya, kita telah melewati titik kritis utama di lapisan es Antartika, serta titik kritis lainnya secara global," kata Davies.
Manusia Cuma Punya Waktu Sedikit
Bagi para peneliti seperti Davies yang melakukan penelitian lapangan di Semenanjung Antartika, dampak pemanasan global sudah sangat terlihat. Ia menyaksikan lapisan es meleleh dan dipenuhi genangan air. Badai hujan menghadang bahkan selama berbulan-bulan musim dingin.
Dalam beberapa kasus, para peneliti terpaksa meninggalkan lokasi penelitian karena pencairan es membuat beberapa lokasi penelitian terlalu berbahaya untuk diakses.
"Kita bisa menganggap Semenanjung Antartika, khususnya, sebagai burung kenari di tambang batu bara," kata Davies.
"Wilayah itu adalah bagian terhangat dari Antartika [dan] tempat di mana Anda melihat perubahan terjadi pertama kali," Davis menambahkan.
Ia menekankan apa yang terjadi di Antartika akan memicu perubahan di seluruh benua dan dunia.
Kesimpulan utama dari temuan timnya adalah manusia masih punya waktu, meskipun tak banyak. Ia mengatakan belum terlambat untuk mengubah arah.
Jika dunia bertindak cepat untuk mengurangi emisi karbon, masa depan Antartika bisa terlihat sangat berbeda dari skenario yang paling mungkin diuraikan dalam studi ini. Sekali lagi, pilihan umat manusia selama dekade berikutnya akan sangat penting untuk menstabilkan wilayah vital ini.
(fab/fab)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5182679/original/046922700_1744100626-Timnas_Indonesia_-_Beragam_ekspresi_Nova_Arianto_copy.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)



