5 Makanan Asal China yang Kini Halal Karena Hasil "Kawin Campur"

1 hour ago 2

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

17 February 2026 11:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa dan ajaran Islam di Indonesia telah membentuk akulturasi budaya dan makanan. Akulturas ini kemudian membuat banyak makanan asal China yang semula non-halal kini menjadi halal.

Akulturasi ini terasa istimewa pada 2026 karena perayaan Imlek dan jatuhnya Ramadan sangat berdekatan yakni berselisih sehari.

Imlek dan Ramadan tahun ini berdekatan, terlihat dari dekorasi hingga kuliner di kota besar seperti Jakarta yang memadukan unsur keduanya.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kuliner.

Berbagai makanan khas Tionghoa pun mengalami adaptasi, terutama dari sisi bahan dan cita rasa, agar lebih sesuai dengan selera serta nilai masyarakat Indonesia.

1. Bakpao: Dari Mantau Isi Babi ke Kudapan Sehari-hari

Di Tiongkok, bakpao dikenal sebagai mantou berisi daging babi yang dikukus dan lazim dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari.

Ketika masuk ke Indonesia, bakpao mengalami perubahan signifikan. Isian daging babi digantikan dengan pilihan yang lebih sesuai dengan masyarakat lokal, seperti kacang hijau, ayam, cokelat, hingga daging sapi.

Tak hanya soal rasa, maknanya pun ikut bergeser. Jika dalam budaya Tionghoa bakpao kerap diasosiasikan dengan simbol keberuntungan atau perayaan tertentu, di Indonesia bakpao telah menjadi camilan umum yang bisa dinikmati kapan saja, dari pasar tradisional hingga minimarket.

2. Bakmi: Adaptasi Rasa dan Sejarah Panjang

Secara etimologis, bakmi berasal dari bahasa Hokkien yang berarti "mi daging" atau "mi babi". Bakmi dibawa para perantau Tionghoa yang kemudian menetap di berbagai wilayah Nusantara. Ada yang mengatakan bahwa hidangan bakmi ini muncul setelah perang antara Tentara Mongolia dan Singosari (Jawa), tepatnya pada zaman Kerajaan Kertanegara.

Pedagang meembuat Bakpao yang di hias berlangsungnya Bakpao di pulau Cheung Chau, Hong Kong. (Getty Images/Anthony Kwan)Foto: Pedagang meembuat Bakpao yang di hias berlangsungnya Bakpao di pulau Cheung Chau, Hong Kong. (Getty Images/Anthony Kwan)
Pedagang meembuat Bakpao yang di hias berlangsungnya Bakpao di pulau Cheung Chau, Hong Kong. (Getty Images/Anthony Kwan)

Seiring waktu, bakmi di Indonesia beradaptasi dengan cita rasa lokal lewat penggunaan bumbu seperti kecap manis dan sambal, serta topping halal seperti ayam, sapi, atau bakso. Bahkan muncul variasi khas daerah seperti bakmi Jawa dan bakmi Bangka, membuatnya tetap relevan dari kuliner tradisional hingga modern.

3. Siomay: Dari Shumai ke Jajanan Favorit

Siomay juga merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim sejak lama. Nama "siomay" sendiri berasal dari kata Mandarin "shumai" yang mengalami penyesuaian pelafalan oleh masyarakat lokal.

Siomay. (Dok. Detikcom/Niken Widya Yunita)Foto: Siomay. (Dok. Detikcom/Niken Widya Yunita)
Siomay. (Dok. Detikcom/Niken Widya Yunita)

Jika shumai di China umumnya berisi daging babi, versi Indonesia berkembang menggunakan ayam, udang, hingga ikan tenggiri sebagai bahan utama. Perubahan ini membuat siomay lebih sesuai dengan preferensi masyarakat Indonesia, terutama dari sisi kehalalan.

Kini siomay dikenal luas sebagai jajanan khas Bandung, lengkap dengan bumbu kacang, kentang, tahu, kol, dan telur.

4. Bakcang Ayam: Tradisi Lama, Rasa Baru

Bakcang, makanan berbahan beras ketan yang dibungkus daun dan diisi daging, memiliki akar sejarah panjang dalam budaya Tionghoa. Hidangan ini biasanya hadir dalam perayaan tradisional tertentu.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan Betawi, bakcang mengalami adaptasi cukup signifikan. Isian daging babi diganti dengan ayam, telur asin, kelapa, atau sayuran agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Perubahan tersebut membuat bakcang lebih mudah diterima lintas komunitas. Meski bentuk dan teknik pembungkusannya tetap dipertahankan, cita rasanya menjadi lebih dekat dengan selera lokal.

5. Lumpia: Perpaduan Tionghoa-Jawa yang Ikonik

Sejarah lumpia di Indonesia berawal dari pertemuan seorang pendatang Tionghoa yang menjual makanan berisi daging babi dan rebung dengan perempuan Jawa yang menjual hidangan mirip namun berisi kentang dan udang bercita rasa manis.

Keduanya kemudian menikah dan menggabungkan usaha kuliner mereka. Dari sinilah lahir lumpia khas Semarang dengan isi rebung, ayam atau udang, serta rasa yang lebih manis gurih sesuai selera lokal.

Kini lumpia menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang populer lintas generasi dan latar belakang budaya.

LumpiaFoto: Pexels
Lumpia

(mae/mae)

Read Entire Article
| | | |