Israel Kirim Pasukan ke Kompleks Al-Aqsa Jelang Ramadan, Mau Apa?

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Israel mulai mengerahkan personel kepolisian di sekitar Masjid Al-Aqsa jelang Ramadan 2026. Upaya ini ditentang oleh pemerintah Palestina dan menuduh Israel memberlakukan pembatasan di kompleks tersebut.

Ketika Ramadan tiba, umat muslim Palestina menghadiri salat di Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam, yang terletak di Yerusalem timur, yang direbut Israel pada 1967 dan kemudian dianeksasi.

Perwira polisi senior Yerusalem, Arad Braverman mengatakan pasukan akan dikerahkan siang dan malam di seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, dan di daerah sekitarnya.

"Ribuan polisi juga akan bertugas untuk salat Jumat, yang menarik jumlah jamaah Muslim terbesar. Kami telah merekomendasikan penerbitan 10.000 izin bagi warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki, yang memerlukan izin khusus untuk memasuki Yerusalem," kata Braverman, dikutip dari AFP, Selasa (17/2/2026).

Namun, Braverman tidak menyebutkan apakah akan ada batasan usia, dan menambahkan bahwa jumlah akhir orang yang akan dilibatkan akan ditentukan oleh pemerintah.

Pemerintah Provinsi Yerusalem Palestina dalam pernyataan terpisah mengatakan bahwa mereka telah diberi informasi bahwa izin akan kembali dibatasi untuk pria di atas 55 tahun dan wanita di atas 50 tahun, seperti tahun lalu.

Disebutkan bahwa pihak berwenang Israel telah menghalangi Waqf Islam, sebuah badan yang dikelola Yordania yang mengelola lokasi tersebut, untuk melakukan persiapan rutin, termasuk memasang struktur peneduh dan mendirikan klinik medis sementara.

Sebuah sumber dari Waqf membenarkan pembatasan tersebut dan mengatakan bahwa 33 karyawannya dilarang memasuki kompleks tersebut pada minggu sebelum Ramadan.

Kompleks Al-Aqsa adalah simbol utama identitas Palestina dan juga sering menjadi titik konflik.

Berdasarkan kesepakatan yang telah lama berlaku, orang Yahudi boleh mengunjungi kompleks tersebut, yang mereka hormati sebagai lokasi kuil kedua mereka, yang dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70 M. Tetapi mereka tidak diizinkan untuk berdoa di sana.

Israel mengatakan pihaknya berkomitmen untuk mempertahankan status quo ini, meskipun warga Palestina khawatir terhadap status quo tersebut sedang terkikis.

Braverman menegaskan kembali bahwa tidak ada perubahan yang direncanakan.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak kelompok ultranasionalis Yahudi yang menentang larangan berdoa, termasuk politisi sayap kanan Itamar Ben-Gvir, yang berdoa di tempat tersebut saat menjabat sebagai menteri keamanan nasional pada 2024 dan 2025.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |