7 Jenderal Terbesar dalam Sejarah Amerika: Siapa Paling "Blood dan Guts"

9 hours ago 8

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

05 April 2026 09:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang sejarahnya yang hampir 250 tahun, Amerika Serikat (AS)melahirkan sejumlah komandan paling luar biasa yang berjuang  di medan perang.

Dari Perang Revolusi Amerika hingga Perang Saudara Amerika, Perang Dunia II, dan seterusnya, banyak tokoh Amerika yang dengan piawai memimpin pasukan dan tentaranya. George Washington hingga Robert E. Lee adalah beberapa nama yang dikenal luas sebagai jenderal terbesar di AS.

1. George Washington

George Washington ditunjuk untuk memimpin penyerangan terhadap Inggris dengan pasukan tentara kontinental yang baru dibentuk. Penunjukan ini dilakukan oleh para delegasi Kongres Kontinental Kedua, Juni 1775.

Meskipun Washington pernah memimpin pasukan provinsi dan bertugas bersama Inggris dalam Perang Perancis dan Indian, Ia tidak merasa telah melakukan peran yang berarti.

Pada pelantikannya Ia memberikan pidato yang sangat rendah hati, menegaskan rasa percaya dirinya yang rendah terhadap posisi barunya itu.

Tugas yang Ia emban sangat berat. Selain membangun pasukan baru dari awal, ia juga harus memimpin pasukan yang sama melawan musuh yang dikenal kuat pada masa itu.

George WashingtonFoto: https://www.whitehousehistory.org/
George Washington

Hambatan internal seperti kurangnya makanan, senjata, dan pasokan turut membebani pasukannya saat itu. Washington juga harus menguatkan dan menjaga kesolidan tentaranya saat mereka tidak termotivasi akibat kurangnya gaji yang diberikan.

Kondisi ini mengantarkan Washington ke berbagai kegagalan dan kekalahan pertempuran. Alih-alih menyerah, Washington justru semakin giat mempelajari pola dari kegagalannya dan terus beradaptasi.

Pada akhirnya, kemenangan Amerika mungkin tampak seperti "mukjizat", tetapi peran George Washington menjadi faktor penentunya. Dengan ketekunan dan kepemimpinan yang kuat, ia mampu menjaga pasukan tetap bertahan hingga meraih kemenangan.

Karena itu, Washington tidak hanya menjadi tokoh kunci dalam Revolusi Amerika, tetapi juga menetapkan standar kepemimpinan yang terus diikuti hingga kini.

2. Winfield Scott

Winfield Scott merupakan salah satu jenderal paling berpengaruh dalam sejarah militer Amerika Serikat.

Selama 53 dari 79 tahun hidupnya, ia mengabdikan diri sebagai tentara, dengan 47 tahun di antaranya menjabat sebagai jenderal, menjadikannya sebagai jenderal dengan masa dinas terlama dalam sejarah Amerika.

Karier militernya membentang di tiga perang besar, yaitu Perang 1812, Perang Meksiko-Amerika, dan Perang Saudara Amerika. Pengalaman panjang ini membentuk Scott sebagai sosok pemimpin militer yang matang, disiplin, dan berpengaruh lintas generasi.

Winfield ScottFoto: https://www.battlefields.org/
Winfield Scott

Bakat kepemimpinannya mulai terlihat pada Perang 1812, di mana ia dikenal berani di medan tempur serta piawai dalam mengorganisasi pasukan. Ia juga memiliki kemampuan untuk melatih tentara sukarelawan menjadi pasukan yang lebih profesional.

Puncak karier Scott terjadi pada Perang Meksiko-Amerika. Ia memimpin operasi pendaratan amfibi besar di Veracruz pada tahun 1847, sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Mexico City dengan pasukan yang relatif kecil.

Dalam perjalanannya, ia berhasil memenangkan berbagai pertempuran hingga akhirnya menguasai ibu kota Meksiko. Keberhasilan ini membuatnya mendapat pengakuan luas, bahkan dianggap sebagai salah satu prajurit terbaik pada masanya.

Pada saat Perang Saudara Amerika pecah, Scott telah berusia lanjut dan dalam kondisi kesehatan yang menurun. Walaupun tidak lagi aktif memimpin di medan perang, gagasan strategis Scott memberikan kontribusi penting terhadap kemenangan pihak Utara.

Profesionalisme, kemampuan strategi, serta dedikasinya sepanjang hidup menjadikan Winfield Scott sebagai salah satu jenderal paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat.

3. Robert E. Lee

Robert E. Lee merupakan salah satu jenderal paling terkenal dalam sejarah Perang Saudara Amerika. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin sejak muda, terbukti dari prestasinya di Akademi Militer West Point, di mana ia lulus pada tahun 1829 tanpa menerima satu pun pelanggaran dan menempati peringkat kedua di kelasnya.

Ketika Perang Saudara Amerika pecah pada tahun 1861, Lee sebenarnya ditawari untuk memimpin pasukan Union. Namun, setelah negara bagian asalnya, Virginia, memisahkan diri, ia menghadapi dilema besar.

Pada akhirnya, ia memilih untuk tetap setia kepada tanah kelahirannya dan bergabung dengan pihak Konfederasi, meskipun keputusan ini sangat berat baginya.

Robert LeeFoto: https://www.battlefields.org/
Robert Lee

Awal kariernya di pihak Konfederasi tidak berjalan mulus. Namun, titik baliknya terjadi pada tahun 1862 ketika ia dipercaya memimpin pasukan untuk mempertahankan Richmond. Dalam serangkaian pertempuran, ia berhasil menahan laju pasukan Union dan mulai membangun reputasinya sebagai pemimpin militer yang tangguh.

Di bawah kepemimpinannya, Army of Northern Virginia menjadi salah satu pasukan paling kuat dan solid dalam sejarah Amerika. Meskipun sering kali kalah jumlah dan menghadapi kondisi yang sulit, Lee dan pasukannya mampu meraih berbagai kemenangan besar.

Kemampuan strategi, kepemimpinan, serta loyalitas yang ia tunjukkan menjadikan Robert E. Lee sebagai salah satu jenderal paling dihormati dalam sejarah Amerika.

Banyak yang menganggapnya sebagai sosok pemimpin yang mampu menginspirasi pasukannya untuk tetap bertahan dalam kondisi seberat apa pun.

4. Ulysses S. Grant

Ulysses S. Grant merupakan salah satu tokoh kunci dalam kemenangan Union pada Perang Saudara Amerika. Dari bekerja sebagai pegawai di toko kulit milik ayahnya di Illinois, Ia malah sukses menjadi panglima tertinggi dengan lebih dari satu juta pasukan di bawah komandonya.

Grant merupakan lulusan West Point dan pernah bertugas dalam Perang Meksiko-Amerika. Namun, ia sempat mengundurkan diri dari militer pada tahun 1854 dan mengalami masa sulit sebelum perang saudara pecah.

Ulysses S. GrantFoto: https://www.battlefields.org/
Ulysses S. Grant

Ketika perang dimulai pada tahun 1861, Grant segera bergabung kembali untuk membela Union. Awalnya ia kesulitan mendapatkan posisi, tetapi setelah menunjukkan kemampuannya dalam melatih pasukan, ia diangkat menjadi kolonel pada Juni 1861 dan kemudian brigadir jenderal hanya sebulan setelahnya.

Sepanjang perang, Grant menunjukkan kemampuan yang tidak hanya unggul secara taktis, tetapi juga strategis. Kepemimpinan, keteguhan, dan visinya menjadikannya sebagai sosok yang berperan besar dalam menyelamatkan Union.

Sebagaimana diungkapkan oleh William T. Sherman, jika George Washington dikenang sebagai pendiri negara, maka Grant akan selalu dikenang sebagai penyelamatnya.

6.George S. Patton 

Dijuluki "Old Blood and Guts," atau "Jenderal Tua yang Brutal dan Berani", George S. Patton benar-benar berada di habitatnya di medan perang. Dengan garis panjang tradisi militer keluarganya yang telah berlangsung sejak Perang Revolusi Amerika, Perang Meksiko-Amerika, dan Perang Saudara Amerika.

Patton seolah memang dilahirkan untuk menjadi seorang prajurit. Bahkan, sebagai penganut reinkarnasi, ia yakin pernah menjadi tentara dalam kehidupan sebelumnya, termasuk sebagai legiun Romawi, seorang marsekal bagi Napoleon Bonaparte, dan lainnya. Lulusan United States Military Academy di West Point, Patton kemudian menonjol sebagai salah satu komandan paling inovatif, agresif, dan cepat dalam sejarah.

Pada tahun 1917, Amerika Serikat memasuki Perang Dunia I, dan Patton menginjakkan kaki di medan perang berdarah di Eropa bersama American Expeditionary Force.

Setahun sebelumnya, ia telah membuktikan dirinya dalam pengalaman tempur pertamanya saat ekspedisi militer ke Meksiko. Dalam kampanye selama 11 bulan tersebut, Patton membantu memimpin serangan bermotor pertama dalam sejarah militer Amerika. Sebagai perwira pertama yang ditugaskan di korps tank Amerika Serikat yang baru dibentuk selama Perang Dunia I, ia terus menunjukkan kemampuannya dalam memaksimalkan teknologi baru di medan perang.

George S. PattonFoto: battlefields.org
George S. Patton

Dalam Perang Dunia I, Patton masih merupakan perwira muda. Namun sekitar 23 tahun kemudian, ketika Amerika Serikat terlibat dalam Perang Dunia II, ia telah menjadi seorang jenderal dengan pengetahuan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan negaranya.

Sejak ia tiba di Afrika Utara pada November 1942 hingga kekalahan akhir Nazi Jerman pada Mei 1945, Patton menjalani filosofi perangnya: "kita akan menyerang dan terus menyerang sampai kita kelelahan, dan kemudian kita akan menyerang lagi." Prinsip ini terbukti sangat efektif bagi dirinya dan pihak Sekutu.

Setelah mengalami serangkaian kemunduran di Afrika Utara, Jenderal Dwight D. Eisenhower meminta Patton untuk membantu membalikkan situasi militer Amerika yang sedang bermasalah.

Patton berhasil melakukannya, menghidupkan kembali keberuntungan Amerika dan menumbuhkan kepercayaan diri melalui kemenangan.

Setelah Afrika Utara, ia memimpin Angkatan Darat Ketujuh AS dalam invasi sukses ke Sisilia pada Juli 1943, memimpin Angkatan Darat Ketiga AS yang bergerak cepat melintasi Prancis utara pada musim panas 1944, serta memainkan peran penting dalam memukul mundur ofensif besar terakhir Jerman dalam perang di Pertempuran Bulge pada musim dingin 1944/45.

Hingga akhir perang di Eropa pada Mei 1945, menurut sejarawan Alex Lovelace, "Angkatan Darat Ketiga Patton telah bertempur selama sembilan bulan sejak mulai beroperasi, merebut lebih dari 80.000 mil persegi wilayah." Pasukannya menderita sekitar 137.000 korban, tetapi berhasil menimbulkan korban lebih dari 10 kali lipat pada pihak musuh.

Ketika ditanya komandan Amerika mana yang paling mengesankannya selama Perang Dunia II, Marsekal Lapangan Jerman Gerd von Rundstedt menjawab, "Patton adalah yang terbaik." Ia memang merupakan komandan tempur terbaik Amerika dalam Perang Dunia II, dan lebih dari itu, nama George S. Patton layak disejajarkan dengan Washington, Scott, Lee, dan Grant sebagai salah satu dari lima jenderal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

7.Dwight David "Ike" Eisenhower

Dwight D. Eisenhower dikenal sebagai salah satu jenderal terbesar dunia bukan karena agresivitasnya di medan tempur, melainkan kemampuannya mengelola perang paling kompleks dalam sejarah modern. Dalam Perang Dunia II, ia menjadi arsitek utama kemenangan Sekutu di Eropa.

Keunggulan Eisenhower terletak pada kemampuannya memimpin koalisi besar lintas negara-mulai dari AS, Inggris hingga Kanada-sembari meredam ego jenderal-jenderal kuat seperti George S. Patton dan Bernard Montgomery. Ia juga menjadi otak di balik Operasi Overlord, invasi terbesar dalam sejarah yang menjadi titik balik kekalahan Nazi Jerman.

Dwight David Foto: https://www.battlefields.org/
Dwight David "Ike" Eisenhower

Tak hanya itu, Eisenhower dikenal sebagai ahli "grand strategy"-fokus pada kemenangan akhir, bukan sekadar pertempuran. Dengan gaya kepemimpinan tenang, rasional, dan minim ego (berbeda dengan Douglas MacArthur), ia mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan perang.

Hasilnya jelas yakni minim kegagalan besar, momentum terjaga, dan kemenangan Sekutu di Eropa berhasil diamankan.

Eisenhower juga memiliki karier militer yang mengesankan di bidang dunia politik. Saat menjabat sebagai presidensebagai presiden Amerika Serikat ke-34 dari tahun 1953 hingga 1961, ini menjadi periode asa keemasan bagi kelas menengah Amerika. Pertumbuhan ekonomi melonjak hingga 3,5%

Eisenhower tidak membawa negaranya ke dalam perang, meskipun ia sebenarnya bisa saja melakukannya di Indochina pada 1954. Ia juga berhasil merundingkan gencatan senjata dalam Perang Korea hanya enam bulan setelah menjabat. Sepanjang masa kepresidenannya, perdamaian relatif terjaga, meskipun ketegangan Perang Dingin terkadang memanas.

Eisenhower juga tidak mengambil kebijakan yang membahayakan pertumbuhan ekonomi kuat pada 1950-an. Sebaliknya, ia mendorong kebijakan yang merangsang ekonomi, seperti mendukung pembangunan sistem jalan raya antarnegara bagian melalui Federal-Aid Highway Act of 1956.

Meski belanja pertahanan cukup tinggi pada masa pemerintahannya, ia tidak tergoda untuk meningkatkannya secara berlebihan. Ketika Uni Soviet meluncurkan satelit buatan pertama di dunia, Sputnik 1, pada 4 Oktober 1957, Eisenhower menolak tekanan publik yang panik untuk meningkatkan anggaran militer secara besar-besaran, karena ia yakin pertahanan negaranya tetap kuat. Ia menegaskan tidak akan mengeluarkan satu sen pun lebih sedikit dari yang diperlukan untuk keamanan nasional-namun juga tidak satu sen pun lebih banyak.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |