Jakarta, CNBC Indonesia - Sentra penjualan tekstil pakaian di Pasar Cipulir, Jakarta Selatan tampak tidak seperti dahulu. Kini kondisinya makin sepi ditinggal pembeli. Bukan hanya pembeli yang makin hari makin menghilang, banjir yang kerap menerjang pasar legendaris tersebut ikut memperburuk kondisi pasar.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, tampak di depan pasar memang cukup ramai, namun menurut pedagang kondisinya tidak seramai dahulu. Tepi jalan raya yang dahulu dipadati oleh motor terparkir sampai bikin jalan macet, kini terlihat lapang. Pasar tekstil yang dahulunya menjadi salah satu destinasi para pembeli dari berbagai daerah di Indonesia untuk dijual kembali itu kini perlahan ditinggalkan, membuat pedagang di pasar makin menjerit.
Jeritan pedagang Pasar Cipulir akan sepinya pembeli kini bertambah setelah pasar tersebut kerap dilanda banjir saat hujan tiba. Pedagang kini takut dagangannya semakin tidak laku karena sepi pembeli dan takut juga diterjang banjir. Belum lagi kewajiban mereka untuk membayar uang sewa.
Salah satunya yakni Cece, pedagang pakaian remaja ini mengeluhkan kondisi penjualan pakaian di Pasar Cipulir makin berat. Selain jumlah pelanggan turun, ancaman banjir dan kenaikan harga barang-barang makin memberatkannya.
"Makin ke sini, makin terlihat jelas sepinya, kondisi makin berat, penghasilan terus tergerus," kata Cece saat ditemui CNBC Indonesia, dikutip Jumat (29/5/2026).
Ia mengungkapkan Pasar Cipulir mulai sepi justru setelah pandemi Covid-19. Saat Covid-19, kondisinya justru lebih ramai, namun tidak seramai sebelum Covid-19.
Pedagang Pasar Cipulir, Jakarta Selatan makin resah karena pembeli semakin berkurang, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Pedagang Pasar Cipulir, Jakarta Selatan makin resah karena pembeli semakin berkurang, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
"Malah mulai sepinya pas Covid-19 sudah selesai, kalau enggak salah 2023, pas Covid-19 di 2020-2022, masih agak ramai itungannya," lanjutnya.
Dampak dari penurunan jumlah pelanggan, Ia mengungkapkan omzet penjualan sudah turun 40%. Namun, ketika banjir tiba, omzetnya bisa lebih turun lagi hingga 50%.
"Kalau kondisi saat ini, omzet sudah turun banget, ya ada 40%, tapi pas banjir, bisa makin boncos," terangnya.
Senada dengan Cece, Yono, pedagang pakaian anak-anak juga mengungkapkan kondisi saat ini sangat sulit. Bahkan dalam sehari saja, terkadang pakaian yang dijual tidak laku.
"Kalau sekarang, berat banget ngerasainnya, kadang sehari enggak kejual satu pun, jadi susah untuk memprediksi penjualan," kata Yono.
Bahkan di Lebaran lalu, penjualan juga tak terkerek naik karena minimnya pembeli.
"Lebaran kemarin saja kami tidak merasakan momentumnya, biasanya kan Lebaran yang kami tunggu-tunggu karena biasanya lebih ramai, ini justru sepi," terangnya.
Pedagang lain yakni Susi, pedagang celana pendek nasibnya lebih parah, di mana dalam sepekan terakhir, dagangannya baru laku hingga lima buah.
"Kondisi sekarang bukan sulit lagi, tapi sudah enggak bisa dibuat kata-kata, ini aja dari Senin lalu sampai hari ini (Kamis), baru laku 5 celana," kata Susi.
Begitu juga Idris, pedagang pakaian dewasa, juga mengaku resah karena jumlah pembeli makin sedikit.
"Rasanya mau meringis kalau setiap hari begini, pembeli makin berkurang, penghasilan seret banget, tapi bayar sewa lanjut," kata Idris.
(chd/wur)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)











