Agenda Penting Pekan Depan: Sinyal The Fed hingga Inflasi China

5 hours ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

05 July 2026 20:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar keuangan pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi sederet rilis data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri. Investor akan mencermati risalah rapat The Fed, inflasi China, hingga sejumlah indikator ekonomi Indonesia sebagai petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Setelah pekan sebelumnya diwarnai rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, perhatian investor kini bergeser pada sejumlah indikator yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah pertumbuhan ekonomi global dan prospek kebijakan moneter bank sentral.

Dari luar negeri, pelaku pasar akan mencermati aktivitas sektor jasa Amerika Serikat, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), inflasi China, hingga perkembangan pasar properti AS dan kondisi ketenagakerjaan Kanada. Rangkaian data tersebut akan menjadi acuan dalam membaca kekuatan ekonomi global di tengah suku bunga yang masih tinggi dan tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia dijadwalkan merilis sejumlah indikator penting, mulai dari posisi cadangan devisa, uang primer (M0), Survei Konsumen hingga Survei Penjualan Eceran.

ISM Services PMI Amerika Serikat

Mengawali pekan, Institute for Supply Management (ISM) akan merilis data ISM Services PMI Amerika Serikat periode Juni 2026 pada Senin malam waktu Indonesia.

Pada Mei 2026, aktivitas sektor jasa AS meningkat ke level 54,5 dari 53,6 pada April dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 53,8. Angka tersebut menjadi ekspansi terkuat dalam tiga bulan terakhir, didorong percepatan aktivitas bisnis, peningkatan pesanan baru, serta lonjakan persediaan. Di sisi lain, indeks ketenagakerjaan masih berada di zona kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut karena banyak perusahaan memilih menunda perekrutan atau tidak menggantikan posisi yang kosong. Tekanan harga juga semakin tinggi dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022, terutama dipicu kenaikan harga energi seperti minyak, solar, dan bensin.

Untuk periode Juni, konsensus memperkirakan ISM Services PMI sedikit melandai ke level 54,2. Investor akan mencermati apakah sektor jasa masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi AS sekaligus menilai apakah tekanan harga yang masih tinggi berpotensi memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve.

Statistik Cadangan Devisa Indonesia

Pada Selasa, Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan posisi cadangan devisa Indonesia periode Juni 2026.

Sebelumnya, cadangan devisa pada akhir Mei tercatat sebesar US$144,9 miliar, turun dibandingkan posisi April sebesar US$146,2 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik. Di sisi lain, penerbitan global bond pemerintah dan penerimaan pajak maupun jasa turut menopang posisi cadangan devisa.

Meski menurun, Bank Indonesia menilai posisi tersebut masih sangat memadai karena setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pasar akan mencermati apakah posisi cadangan devisa kembali menguat sebagai sinyal terjaganya ketahanan eksternal Indonesia.

Uang Primer dan Survei Konsumen Indonesia

Masih pada Selasa, Bank Indonesia juga akan merilis data uang primer (M0) serta hasil Survei Konsumen periode Juni 2026.

Pada survei sebelumnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 120,9, turun dari 123,0 pada April namun tetap bertahan di zona optimistis. Optimisme masyarakat masih ditopang persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi enam bulan mendatang. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini tercatat sebesar 112,2, sedangkan Indeks Ekspektasi Konsumen berada di level 129,7.

Investor akan memperhatikan apakah keyakinan masyarakat tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian global. Stabilnya optimisme konsumen umumnya menjadi indikator bahwa konsumsi rumah tangga masih berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Ivey PMI Kanada

Pada Selasa malam, Ivey Business School akan mempublikasikan data Ivey PMI Kanada periode Juni.

Pada Mei, indeks tersebut meningkat menjadi 58,2 dari 57,7 sekaligus menjadi level tertinggi sejak September 2025. Aktivitas bisnis tumbuh lebih cepat dibanding bulan sebelumnya dengan dukungan pasar tenaga kerja yang masih solid. Di sisi lain, tekanan harga terus meningkat, sementara persediaan barang mengalami penurunan cukup tajam yang mengindikasikan stok mulai menipis.

Untuk Juni, konsensus memperkirakanIvey PMI sedikit meningkat menjadi 58,7. Data ini akan menjadi indikator awal mengenai kekuatan aktivitas ekonomi

Kanada sekaligus memberi gambaran mengenai tekanan inflasi yang masih dihadapi pelaku usaha.

Risalah Rapat FOMC

Memasuki Rabu dini hari, perhatian pasar global akan tertuju pada publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Dokumen tersebut akan menjadi sumber utama bagi investor untuk membaca pandangan para pejabat Federal Reserve mengenai inflasi, kondisi ekonomi, serta prospek suku bunga ke depan. Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan bahwa inflasi memang mulai mereda, namun bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan inflasi menuju target 2%. Ia juga menegaskan The Fed tidak lagi memberikan panduan eksplisit mengenai arah suku bunga dan seluruh keputusan akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Pelaku pasar akan mengurai setiap pernyataan dalam risalah tersebut guna mencari sinyal apakah mayoritas pejabat The Fed masih mendukung kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan dalam beberapa pertemuan mendatang.

Inflasi China

Pada Kamis pagi, Biro Statistik Nasional China akan mengumumkan data inflasi konsumen periode Juni 2026.

Pada Mei, inflasi tahunan China bertahan di level 1,2%, sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,3%. Kenaikan harga masih didorong sektor nonpangan, terutama transportasi akibat mahalnya energi dan gangguan rantai pasok yang dipicu konflik di Timur Tengah. Sebaliknya, harga pangan kembali mengalami penurunan karena lemahnya harga daging babi dan buah segar. Inflasi inti tercatat sebesar 1,1%, sedangkan secara bulanan indeks harga konsumen turun 0,1%.

Untuk Juni, pasar memperkirakan inflasi meningkat tipis menjadi 1,3%. Data ini akan menjadi acuan penting dalam menilai kekuatan permintaan domestik China yang selama beberapa kuartal terakhir masih menjadi perhatian investor global.

Survei Penjualan Eceran Indonesia

Rangkaian agenda domestik ditutup dengan rilis Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia pada Kamis.

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan Indeks Penjualan Riil Mei 2026 berada di level 225,0. Secara bulanan, kontraksi penjualan diperkirakan menyempit menjadi 0,9% dibandingkan penurunan 11,6% pada April. Perbaikan tersebut ditopang meningkatnya aktivitas konsumsi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.

Dari sisi harga, ekspektasi inflasi jangka pendek diperkirakan relatif stabil, sementara tekanan harga enam bulan mendatang mulai meningkat akibat potensi kenaikan harga bahan baku. Investor akan mencermati hasil survei ini untuk melihat apakah konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal paruh kedua tahun ini.

Existing Home Sales Amerika Serikat

Pada Kamis malam, National Association of Realtors akan merilis data penjualan rumah bekas Amerika Serikat periode Juni.

Pada Mei, penjualan rumah bekas meningkat 3,2% menjadi 4,17 juta unit secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 4,07 juta unit. Kenaikan terutama terjadi di wilayah Selatan dan Midwest, sementara persediaan rumah naik ke level tertinggi dalam sepuluh bulan. Peningkatan tersebut terjadi meskipun suku bunga kredit pemilikan rumah masih relatif tinggi.

Untuk Juni, konsensus memperkirakan penjualan sedikit melambat ke kisaran 4,20 juta unit. Investor akan melihat apakah sektor properti AS masih mampu bertahan di tengah biaya pinjaman yang tinggi.

Tingkat Pengangguran Kanada

Sebagai penutup pekan, Statistics Canada akan mengumumkan data tingkat pengangguran Juni 2026 pada Jumat malam.

Pada Mei, tingkat pengangguran turun menjadi 6,6% dari 6,9% pada bulan sebelumnya, jauh lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan tetap di level 6,9%. Penurunan tersebut ditopang lonjakan penyerapan tenaga kerja sebesar 87.800 orang, menjadi pertumbuhan lapangan kerja terbesar sejak Desember 2024. Jumlah penganggur juga turun sekitar 84 ribu orang, sementara tingkat partisipasi angkatan kerja bertahan di level 65%.

Untuk Juni, konsensus memperkirakan tingkat pengangguran kembali berada di level 6,6%. Apabila pasar tenaga kerja tetap solid, peluang bank sentral Kanada untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat berpotensi semakin besar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |