Alhamdulillah Tak Jadi Perang Nuklir, AS-Rusia Bahas Lagi New START

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) memastikan masih bernegosiasi dengan Rusia untuk merumuskan versi terbaru perjanjian pengendalian senjata nuklir New START. Meski, perjanjian tersebut secara resmi telah berakhir pada 5 Februari lalu.

Wakil Presiden AS J.D. Vance mengatakan pembicaraan nonproliferasi nuklir tetap berlangsung. Kemungkinan besar perjanjian baru nantinya tidak akan sama dengan versi sebelumnya.

"Ini akan berubah dibandingkan dengan sebelumnya, dan itu adalah bagian dari negosiasi yang sedang kami lakukan dengan Rusia," kata Vance kepada wartawan saat kunjungan ke Azerbaijan Rabu waktu setempat, seperti dikutip RT, Kamis (12/2/2026).

Vance menegaskan, pencegahan penyebaran senjata nuklir masih menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, meningkatnya jumlah negara yang memiliki senjata nuklir merupakan ancaman serius bagi keamanan global dan kepentingan Amerika Serikat.

"Semakin banyak rezim di seluruh dunia yang mendapatkan senjata nuklir adalah hal terburuk yang dapat terjadi bagi rakyat Amerika," ujarnya.

Pernyataan Vance tersebut muncul setelah laporan Axios pekan lalu menyebutkan bahwa pejabat AS dan Rusia membahas masa depan New START di sela-sela perundingan perdamaian Ukraina yang digelar di Abu Dhabi. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa kedua negara sepakat untuk "beroperasi dengan itikad baik" dan memulai diskusi terkait pembaruan perjanjian.

Sejumlah sumber juga menyebut adanya indikasi kepatuhan sementara selama enam bulan terhadap ketentuan New START.

Sebagai informasi, perjanjian New START ditandatangani pada 2010 dan membatasi jumlah hulu ledak serta peluncur senjata nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh AS dan Rusia. Perjanjian ini juga mengatur mekanisme pemantauan terhadap persenjataan kedua negara. Awalnya berakhir pada 2021, New START diperpanjang lima tahun hingga 2026.

Namun, Rusia menangguhkan mekanisme verifikasi perjanjian tersebut pada 2023. Moskow menilai langkah itu diambil menyusul serangan Ukraina terhadap elemen pencegahan nuklir Rusia dan menuding Barat terlibat langsung dalam konflik.

(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |