Pedagang Bakso Beri Kabar Harga Daging Sapi Naik Rp 5.000/Kg

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga daging sapi mulai menunjukkan kenaikan menjelang bulan suci Ramadhan yang bakal dimulai pekan depan. Pelaku usaha bakso hingga industri pengolahan daging merasakan tekanan yang sama, yakni lonjakan harga bahan baku di tengah kebijakan impor yang dinilai semakin membatasi ruang gerak pasar. Namun, harga di tingkat pedagang sudah bergerak naik dalam beberapa hari terakhir.

"Pasokan aman, tapi memang harga sudah naik Rp5.000/kg dibandingkan sebelum aksi mogok. Harga sebelum mogok Rp130.000/kg, sekarang sudah Rp135.000/kg," kata Ketua Umum Perkumpulan Bakso Wonogiri Mendunia, Maryanto dalam keterangannya, Kamis (12/2/2026).

Kenaikan ini kontras dengan ketentuan Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah, khususnya untuk daging kerbau beku. Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 12 Tahun 2024, HAP di tingkat konsumen dipatok Rp80.000 per kilogram. Namun di lapangan, harga produk impor justru jauh melampaui angka tersebut sehingga menimbulkan pertanyaan soal efektivitas pengawasan.

Keluhan serupa datang dari sektor industri pengolahan daging. Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA), Hastho Yulianto, menilai dinamika kebijakan kuota impor tahun ini membawa dampak besar terhadap struktur pasar. Ia menyoroti alokasi kuota impor daging sapi 2026 yang dipangkas menjadi 30.000 ton dan dinilai mengubah peta persaingan usaha.

"Perkembangan kebijakan terbaru terkait alokasi kuota impor daging sapi tahun 2026 sebesar 30.000 ton telah memicu perubahan struktural yang signifikan di pasar daging sapi dan industri pangan Indonesia, khususnya yang berdampak pada sektor pengolahan daging," kata Hasto.

Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Pedagang daging segar di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (23/1/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Menurut Hastho, jatah impor yang diterima pihak swasta maupun anggota asosiasi semakin menyusut dan hanya berkisar 17.000 ton. Situasi ini dinilai berpotensi menciptakan kekurangan bahan baku di tengah kebutuhan produksi yang terus berjalan. Ia melihat konsentrasi pasokan yang semakin dominan di tangan BUMN membuat fleksibilitas pasar berkurang dan meningkatkan risiko gangguan distribusi.

"Apabila kebijakan kuota impor tahun 2026 tidak ditinjau secara komprehensif, risiko penurunan kapasitas produksi, penundaan rencana ekspansi, bahkan penghentian usaha bagi sebagian pelaku industri akan semakin nyata," tandasnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah tidak menyamakan perlakuan antara daging untuk konsumsi langsung dengan daging yang diperuntukkan sebagai bahan baku industri. Menurutnya, sektor pengolahan hingga hotel, restoran, dan katering membutuhkan kepastian pasokan yang berbeda karakteristiknya.

"Karena daging impor itu merupakan bahan baku dan bukan untuk konsumsi akhir. Tapi diolah menjadi nilai tambah produk berbeda," paparnya.

Di tengah momentum meningkatnya permintaan jelang Ramadhan, tekanan harga bahan baku menjadi perhatian utama industri. Hastho menilai kebijakan yang tidak sinkron justru menjauhkan tujuan pembangunan industri pangan nasional.

"Dengan pembatasan kuota, harga bahan baku industri melonjak tajam," pungkasnya.

(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |