Aisha Mayra, CNBC Indonesia
17 June 2026 18:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran berpotensi membuat Israel tak memperoleh keuntungan strategis.
Ketika Washington dan Teheran bersiap menandatangani kesepakatan baru pada Jumat mendatang (19/6/2026) muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab di Tel Aviv yakni apa sebenarnya yang berhasil dicapai dari perang tersebut?
Pertanyaan itu muncul karena sejumlah isu yang selama ini menjadi perhatian utama Israel justru belum terselesaikan dalam rancangan kesepakatan terbaru. Program nuklir Iran masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan. Sementara itu, kemampuan rudal balistik Iran dan jaringan kelompok proksinya di kawasan belum masuk dalam kesepakatan awal.
Perang memang berhenti. Namun sebagian tujuan strategis yang menjadi alasan utama konflik masih menggantung.
Perang Selesai, Masalah Utama Belum
Gencatan senjata antara Iran dan Israel diperpanjang pekan ini setelah pemerintahan Donald Trump dan Teheran mencapai kesepakatan untuk melanjutkan proses diplomatik. Dokumen final dijadwalkan ditandatangani di Jenewa pada 19 Juni.
Meski begitu, rincian yang muncul sejauh ini belum banyak menjawab kekhawatiran utama Israel.
Program nuklir Iran yang selama bertahun-tahun menjadi fokus kebijakan keamanan Israel tidak langsung diselesaikan dalam kesepakatan tersebut. Isu itu justru dipindahkan ke putaran perundingan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari.
Tidak ada jaminan pembicaraan itu akan menghasilkan kesepakatan final. Negosiasi bahkan dapat diperpanjang kembali apabila kedua pihak belum mencapai titik temu.
Di saat yang sama, Iran masih mempertahankan kemampuan rudal balistik yang selama ini dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi Israel dan sejumlah negara lain di Timur Tengah.
Netanyahu Klaim Berhasil
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap menyebut operasi militer terhadap Iran sebagai keberhasilan.
Dalam konferensi pers pada 15 Juni, ia mengatakan perang tersebut telah "menyelamatkan Israel dari ancaman pemusnahan nuklir."
Namun perkembangan di lapangan menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Meski sejumlah fasilitas dan aset strategis Iran mengalami kerusakan, rezim di Teheran tetap bertahan. Kelompok garis keras justru disebut memperoleh pengaruh yang lebih besar setelah konflik berlangsung. Kemampuan militer utama Iran juga belum sepenuhnya hilang.
Kontras itulah yang mulai memunculkan perdebatan mengenai hasil akhir perang.
Ketika Tujuan Washington dan Tel Aviv Berbeda
Pada awal konflik, Amerika Serikat dan Israel tampak bergerak ke arah yang sama. Namun semakin lama perang berlangsung, semakin terlihat bahwa keduanya mengejar tujuan yang berbeda.
Bagi Netanyahu, perang dipandang sebagai peluang untuk secara permanen melemahkan Iran, bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim di Teheran. Sebaliknya, pemerintahan Trump tampak lebih fokus pada satu hal: mencapai kesepakatan yang dapat menghentikan konflik.
Perbedaan itu semakin terlihat ketika proses negosiasi dimulai.
Menurut laporan The Economist, Israel tidak dilibatkan secara langsung dalam pembicaraan terbaru antara Washington dan Teheran. Pemerintah Israel bahkan belum menerima salinan resmi rancangan kesepakatan yang sedang dibahas.
Bagi banyak pengamat di negara tersebut, perkembangan itu menjadi sinyal bahwa pengaruh Tel Aviv terhadap arah akhir perang mulai berkurang.
Trump Mulai Kehilangan Kesabaran
Ketegangan juga mulai terlihat dalam hubungan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Salah satu titik balik terjadi ketika Israel melancarkan serangan ke Beirut beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan. Serangan tersebut dilakukan setelah Hizbullah kembali meluncurkan drone.
Alih-alih menggagalkan proses diplomatik, langkah itu justru mempercepat upaya Washington untuk menyelesaikan kesepakatan.
Dalam sejumlah wawancara setelahnya, Trump secara terbuka menunjukkan kekesalannya terhadap Netanyahu. Ia menyebut mitranya itu "tidak punya penilaian yang baik" dan menggambarkannya sebagai sosok yang "sangat sulit diajak bekerja sama."
Pernyataan seperti itu jarang terdengar dari presiden Amerika Serikat terhadap pemimpin Israel, terutama ketika kedua negara baru saja menjalankan operasi militer bersama selama lebih dari satu bulan.
Ikut Berperang, Tidak Menentukan Akhirnya
Meski terlibat langsung dalam konflik, Israel tidak menjadi bagian dari negosiasi yang menentukan arah penyelesaiannya.
Beberapa isu yang selama ini menjadi perhatian utama juga belum mendapat jawaban yang jelas. Program nuklir Iran masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan. Kemampuan rudal balistik diperkirakan tidak masuk dalam kesepakatan awal.
Kekhawatiran lain datang dari Hizbullah di Lebanon.
Kelompok yang selama ini dianggap sebagai salah satu proksi terkuat Iran justru berpotensi memperoleh perlindungan tambahan dari kesepakatan baru. Iran juga disebut mendorong agar penarikan pasukan Israel dari wilayah yang dikuasai di Lebanon selatan ikut dibahas dalam proses diplomatik.
Israel ikut berperang. Namun tidak ikut menentukan bagaimana perang itu diakhiri.
Tekanan Baru untuk Netanyahu
Selama bertahun-tahun, Iran menjadi salah satu isu yang paling sering ia angkat dalam politik domestik. Karena itu, ekspektasi terhadap hasil perang kali ini terlanjur tinggi.
Netanyahu masih dapat menunjuk pada kerusakan yang dialami Iran selama konflik berlangsung. Namun rezim di Teheran tetap bertahan, program nuklirnya belum diselesaikan, dan sebagian isu keamanan utama masih menunggu hasil negosiasi.
Persoalan itu menjadi semakin sensitif karena Israel dijadwalkan menghadapi pemilu pada Oktober mendatang.
Ketika Perang Berakhir di Meja Perundingan
Israel berhasil menimbulkan kerusakan signifikan terhadap aset dan kemampuan militer Iran. Namun hasil akhir konflik ini tampaknya tidak akan ditentukan oleh serangan udara, melainkan oleh isi kesepakatan yang sedang dirundingkan di Jenewa.
Dan di meja perundingan itulah pengaruh Israel terlihat jauh lebih terbatas dibandingkan ketika perang masih berlangsung.
Semua ini juga berpotensi merusak peluang Benjamin Netanyahu untuk kembali terpilih dalam pemilu Oktober mendatang. Akan sulit baginya menjual citra sebagai penjamin keamanan Israel ketika hasil yang dicapai terkait Iran dinilai sangat terbatas.
Di sisi lain, Netanyahu juga tidak bisa terlihat berseberangan dengan Donald Trump. Selama ini ia kerap menonjolkan kedekatannya dengan presiden AS tersebut, yang memiliki tingkat popularitas tinggi di Israel.
Meski demikian, para penantangnya juga belum memiliki strategi alternatif yang jelas terhadap Iran. Para pemimpin partai-partai oposisi utama bahkan menunjukkan sikap yang sama agresifnya ketika perang dimulai.
Untuk saat ini, kritik mereka terhadap Netanyahu lebih berfokus pada kegagalannya menghasilkan hasil yang nyata, bukan pada keputusan melancarkan perang itu sendiri.
"Kami sangat membutuhkan kebijakan baru terhadap Iran," ujar seorang perencana militer Israel. Namun sejauh ini, Israel belum memiliki prospek untuk mendapatkan strategi baru tersebut.
(mae/mae)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506324/original/047698600_1771428617-1000366559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)