Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS), Iran, dan Oman dikabarkan hampir mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut menargetkan pengumuman resmi pada Rabu (5/8/2026) waktu setempat.
Mengutip Axios, pembahasan kesepakatan tersebut telah berlangsung selama beberapa pekan dan bertujuan menghidupkan kembali gencatan senjata antara AS dan Iran. Sekaligus membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan mengenai program nuklir Teheran.
Perkembangan ini terjadi setelah Trump pada akhir pekan lalu memutuskan menunda rencana serangan militer besar terhadap Iran guna memberi ruang bagi jalur diplomasi. Namun, apabila kesepakatan gagal tercapai dalam waktu dekat, opsi serangan militer disebut masih berada di atas meja.
Berdasarkan informasi dari dua sumber kawasan dan seorang pejabat AS, rancangan kesepakatan mengatur pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz selama 60 hari sebagai masa transisi, dengan kemungkinan diperpanjang. Dalam skema tersebut, seluruh kapal yang memasuki Teluk Persia akan melewati jalur utara yang berada di perairan Iran.
Sementara itu, kapal yang keluar menuju Laut Arab akan menggunakan jalur selatan di perairan Oman dengan koordinasi bersama Iran. Selama periode 60 hari tersebut tidak akan dikenakan biaya maupun pungutan bagi kapal yang melintas.
Selain itu, para pihak akan bekerja sama membersihkan ranjau laut di jalur tengah Selat Hormuz dalam waktu 30 hari. Setelah jalur tersebut dinyatakan aman, lintasan itu akan digunakan untuk lalu lintas dua arah berdasarkan kesepakatan permanen yang akan dirundingkan Oman dan Iran.
Jika terealisasi, kesepakatan ini juga akan memberikan Iran peran yang lebih besar dalam pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Hal ini menjadi sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki sebelum konflik bersenjata pecah.
Meski demikian, upaya serupa pernah hampir tercapai sekitar tiga pekan lalu. Saat itu para mediator meyakini Iran telah menyetujui kesepakatan, tetapi Teheran kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan sehingga memicu pertempuran selama dua pekan dan membawa kawasan ke ambang perang yang lebih luas.
Sumber-sumber regional menyebut proses mediasi tidak hanya melibatkan Oman, tetapi juga Qatar, Pakistan, dan Arab Saudi. Gedung Putih juga berperan aktif dalam negosiasi, termasuk melalui komunikasi intensif antara utusan khusus Presiden Trump Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, dan Menlu Oman Badr al-Busaidi.
Menurut dua sumber kawasan, Araghchi telah menyetujui kesepakatan secara prinsip pada akhir pekan lalu, namun masih menunggu persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei serta Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Seorang pejabat AS dan satu sumber regional menyebut proses persetujuan tersebut telah rampung pada Selasa, sehingga membuka peluang pengumuman resmi dalam waktu dekat.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit tersebut, sehingga setiap perkembangan terkait keamanan kawasan selalu menjadi perhatian utama pasar energi dan investor global.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5184643/original/048516500_1744333162-488001811_993409769659603_1165058740409053021_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4936730/original/025851900_1725466519-1725444595272.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393838/original/002135200_1761616295-SnapInsta.to_572361050_18431712469108400_6389749718744703427_n.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554928/original/044276700_1776137094-u-17.jpg)