AS Kirim Destroyer-Kapal Induk ke Hormuz, Seberapa Ngeri Kekuatannya?

4 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

13 April 2026 19:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mulai menaikkan tensi di Timur Tengah setelah memutuskan akan memblokade seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026) waktu setempat.

Langkah ini diambil setelah perundingan akhir pekan antara Washington dan Teheran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung sekitar enam pekan.

Meski begitu, militer AS mengatakan bahwa kapal-kapal milik negara lain selain Iran tidak akan dihalangi atau artinya diperbolehkan melintasi selat tersebut.

Di saat yang sama, Washington juga menyatakan akan mulai menghancurkan ranjau laut yang ditebar Iran di sepanjang selat Hormuz.

Misi ini cukup mulia untuk dilakukan karena akan membuka kembali jalur lalu lintas kapal-kapal khususnya yang mengangkut energi. Namun dalam praktiknya, menjaga sekaligus membersihkan Selat Hormuz bukanlah operasi militer yang mudah. Operasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan adanya aksi serangan dari pihak militer Iran.

Selat ini merupakan salah satu choke point paling penting di dunia, dan memang masuk dalam area operasi Armada Kelima AS atau U.S. 5th Fleet yang bermarkas di Bahrain.

Wilayah tanggung jawab armada ini mencakup Arabian Gulf, Gulf of Oman, Laut Merah, hingga sebagian Samudra Hindia.

Lalu, armada apa saja yang paling mungkin dipakai AS untuk menjaga jalur ini?

Kapal Perusak

Melansir dari komando pusat AS yang membawahi Timur Tengah yakni US Central Commnand (CENTCOM), saat ini militer AS telah menurunkan dua kapal perang jenis perusak (destroyer). Dua kapal tersebut adalah USS Frank E. Petersen Jr (DDG-121) dan USS Michael Murphy (DDG-112).

Keduanya merupakan Arleigh Burke-class guided-missile destroyer, yakni kapal perusak milik Angkatan Laut AS yang dirancang untuk membawa rudal, mengawal armada, dan menjalankan berbagai misi tempur di laut.

USS Frank E. Petersen Jr (DDG-121Foto: www.surfpac.navy.mil
USS Frank E. Petersen Jr (DDG-121

Kedua kapal tersebut dilaporkan CENTCOM telah melintasi selat Hormuz pada 11 April lalu dan mulai menjalankan operasi awal untuk membuka jalur bagi pelayaran kapal-kapal disana.

CENTCOM juga menjelaskan bahwa dua kapal tersebut dipakai juga untuk mengamankan kondisi disana sebelum tim pemberishan ranjau laut di selat tersebut diturunkan.

Drone Bawah Air Milik Task Force 59

Salah satu alutsista yang paling penting justru bukan kapal besar, melainkan drone bawah air atau unmanned underwater vehicle (UUV).

CENTCOM sudah menyatakan bahwa unsur tambahan, termasuk underwater drones, akan ikut bergabung dalam operasi pembersihan ranjau dalam beberapa hari ke depan. Ini penting karena ancaman utama di Hormuz saat ini bukan hanya konfrontasi terbuka, tetapi juga bahaya ranjau laut yang bisa melumpuhkan arus kapal-kapal yang melintas.

Langkah ini sejalan dengan arah pengembangan kekuatan laut AS di Timur Tengah. Angkatan Laut AS sebelumnya membentuk Task Group 59.1 di bawah Task Force 59, yang fokus pada penggunaan sistem tak berawak yang dipadukan dengan operator manusia untuk memperkuat keamanan maritim di kawasan Timur Tengah.

Artinya, dalam misi membersihkan Selat Hormuz, AS kemungkinan besar tidak hanya mengandalkan kapal perang biasa.

Mereka juga akan menggabungkan teknologi nirawak untuk mendeteksi, memetakan, dan membantu menyingkirkan ancaman di bawah permukaan laut.

Meski begitu, sampai saat ini CENTCOM belum merinci secara terbuka jenis drone bawah air apa yang akan dipakai dalam operasi pembersihan ranjau di Hormuz.

Kapal Induk Abraham Lincoln

Di belakang dua destroyer itu, AS juga punya USS Abraham Lincoln yang saat ini beroperasi di Laut Arab dalam dukungan operasi militer AS di Timur Tengah. Kapal induk ini menjadi payung karena membawa kekuatan udara yang besar, mulai dari jet tempur, pesawat peringatan dini (AWACS), hingga helikopter.

USS Abraham Lincoln adalah kapal induk milik Amerika Serikat yang termasuk dalam kelas Nimitz, yakni kelompok kapal induk besar bertenaga nuklir.

Kapal ini merupakan unit kelima dalam kelas tersebut dan dibangun oleh Newport News Shipbuilding. Proses pembangunannya dimulai pada 3 November 1984, lalu resmi mulai bertugas pada 11 November 1989. Sejak saat itu, USS Abraham Lincoln telah menjadi salah satu kekuatan penting angkatan laut AS selama lebih dari 30 tahun.

Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) sails in support of Operation Epic Fury, March 3, 2026. (U.S. Navy photo)Foto: U.S. Central Command Public Affa/NAVCENT Public Affairs
Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln (CVN 72) sails in support of Operation Epic Fury, March 3, 2026. (U.S. Navy photo)

Kekuatan utama kapal induk ini bukan cuma pada badan kapalnya, tetapi pada kemampuan udaranya. USS Abraham Lincoln dapat membawa hingga sekitar 90 pesawat dan helikopter. Dalam operasi tempur, komposisinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan misi.

Gugus tempurnya saat ini membawa lebih dari 60 pesawat sayap tetap dan helikopter, termasuk pesawat tempur, pesawat peringatan dini, pesawat perang elektronik, dan helikopter anti-kapal selam maupun pencarian-penyelamatan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |