Ayat Al-Qur'an yang Membuka Rahasia Langit, Guncang Ilmu Pengetahuan

2 hours ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

23 February 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Langit selalu menjadi objek refleksi manusia sejak zaman kuno. Dalam Al-Qur'an, fenomena langit menjadi tanda kebesaran Allah SWT yang mengajak manusia berpikir, mengamati, dan merenungkan keteraturan alam semesta.

Sejumlah ayat Al-Qur'an bahkan menggambarkan langit dengan perspektif yang sering dikaitkan dengan fenomena kosmik modern. Mulai dari struktur langit, orbit benda langit, hingga fungsi perlindungan atmosfer. Berikut lima ayat Al-Qur'an yang sering dikaitkan dengan keajaiban langit.

1. Langit Berlapis dan Tanpa Cacat (QS. Al-Mulk: 3)

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ ۝٣

alladzî khalaqa sab'a samâwâtin thibâqâ, mâ tarâ fî khalqir-raḫmâni min tafâwut, farji'il-bashara hal tarâ min futhûr

(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?

Ayat ini menyebut Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis tanpa ketidakseimbangan. Bahkan manusia diajak "melihat kembali" apakah ada cacat dalam ciptaan tersebut.

Ayat ini sebagai dorongan untuk observasi alam. Dalam perspektif modern, langit atau kosmos memang menunjukkan keteraturan luar biasa yang membuat kehidupan di bumi tetap berlangsung.

2. Langit Tanpa Tiang dan Orbit Matahari-Bulan (QS. Ar-Ra'd: 2)

للّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ ۝٢

allâhulladzî rafa'as-samâwâti bighairi 'amadin taraunahâ tsummastawâ 'alal-'arsyi wa sakhkharasy-syamsa wal-qamar, kulluy yajrî li'ajalim musammâ, yudabbirul-amra yufashshilul-âyâti la'allakum biliqâ'i rabbikum tûqinûn

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang yang (dapat) kamu lihat. Kemudian, Dia berkuasa atas 'Arasy serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang telah ditentukan (kiamat). Dia (Allah) mengatur urusan (makhluk-Nya) dan memerinci tanda-tanda (kebesaran-Nya) agar kamu meyakini pertemuan (kamu) dengan Tuhanmu.

Al-Qur'an menyebut langit ditinggikan tanpa tiang yang terlihat, serta matahari dan bulan beredar hingga waktu tertentu.

Dalam kajian ilmiah, benda langit bergerak dalam orbit karena gravitasi, bukan penopang fisik. Keteraturan orbit ini memungkinkan prediksi gerhana, kalender astronomi, hingga navigasi modern.

Ayat ini sering dipahami sebagai pengingat akan keteraturan sistem kosmik yang presisi.

3. Langit sebagai Atap yang Terpelihara (QS. Al-Anbiya': 32)

وَجَعَلْنَا السَّمَاۤءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًاۚ وَهُمْ عَنْ اٰيٰتِهَا مُعْرِضُوْنَ

wa ja'alnas-samâ'a saqfam maḫfûdhâ, wa hum 'an âyâtihâ mu'ridlûn

Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, tetapi mereka tetap berpaling dari tanda-tandanya (yang menunjukkan kebesaran Allah, seperti matahari dan bulan).

Al-Qur'an menyebut langit sebagai "atap yang terjaga". Banyak penafsir mengaitkan ini dengan fungsi atmosfer bumi.

Secara ilmiah, atmosfer memang melindungi bumi dari radiasi berbahaya, meteor kecil, serta menjaga suhu tetap stabil. Tanpa lapisan ini, kehidupan kemungkinan sulit bertahan.

Namun dalam penafsiran lain, langit ditetapkan sebagai hijab, yaitu pembatas antara alam dunia dan alam ghaib.

4. Bintang sebagai Hiasan Langit (QS. As-Saffat: 6)

اِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِزِيْنَةِ ࣙالْكَوَاكِبِۙ ۝٦

innâ zayyannas-samâ'ad-dun-yâ bizînatinil-kawâkib

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang.

Ayat ini menyatakan langit dunia dihiasi bintang-bintang. Selain fungsi ilmiah sebagai objek astronomi, Al-Qur'an juga menyoroti dimensi estetika langit.

Langit malam yang penuh bintang sejak dulu menjadi sumber navigasi, inspirasi seni, hingga refleksi spiritual manusia. Keindahan kosmos ini kerap dipandang sebagai tanda kebesaran Sang Pencipta.

5. Langit dan Alam Semesta Bertasbih (QS. Al-Isra': 44)

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا ۝٤٤

tusabbiḫu lahus-samâwâtus-sab'u wal-ardlu wa man fîhinn, wa im min syai'in illâ yusabbiḫu biḫamdihî wa lâkil lâ tafqahûna tasbîḫahum, innahû kâna ḫalîman ghafûrâ

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Ayat ini menyebut langit, bumi, dan seluruh isinya bertasbih kepada Allah, meski manusia tidak memahami cara tasbih tersebut.

Makna tasbih sendiri adalah bentuk menyucikan dan memuji Allah. Dalam konteks ini, alam semesta digambarkan sebagai makhluk yang tunduk dan taat kepada penciptanya.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |