Bank-Bank China Diminta Rem Pembelian Utang AS, Ada Apa?

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping mengimbau bank-bank domestiknya untuk membatasi eksposur terhadap utang pemerintah Amerika Serikat (AS). Menurut laporan RT mengutip Bloomberg, langkah ini diambil di tengah meningkatnya volatilitas pasar obligasi serta risiko geopolitik dan keuangan global.

Mengutip sumber yang mengetahui kebijakan itu, Beijing disebut telah menyarankan lembaga keuangan utama agar menahan pembelian baru obligasi pemerintah AS dan mengurangi posisi yang dinilai terlalu besar. Namun, pedoman tersebut tidak berlaku untuk kepemilikan obligasi AS yang dimiliki secara resmi oleh negara.

"Risiko pasar obligasi AS meningkat, baik dari sisi volatilitas imbal hasil maupun ketidakpastian geopolitik global," ujar salah satu sumber yang mengetahui arahan tersebut, dikutip Selasa (10/2/2026).

Dalam satu dekade terakhir, China memang secara bertahap memangkas kepemilikan surat utang pemerintah AS. Dari posisi puncak sekitar US$1,3 triliun pada 2013, kepemilikan tersebut kini menyusut menjadi sekitar US$650-700 miliar (setara Rp10.270-11.060 triliun) atau sekitar separuh dari posisi puncaknya.

Penurunan itu membuat China tersalip oleh Jepang dan Inggris sebagai pemegang utang pemerintah AS terbesar di luar negeri. Fakta ini sekaligus menempatkan kepemilikan Beijing pada level terendah sejak 2008.

Berdasarkan data Administrasi Negara untuk Pertukaran Valuta Asing China (SAFE), bank-bank China tercatat memegang sekitar US$298 miliar (Rp4.708 triliun) obligasi berdenominasi dolar AS pada September lalu. Namun, tidak dirinci berapa porsi yang merupakan obligasi pemerintah AS.

Arahan pembatasan eksposur ini muncul menjelang komunikasi tingkat tinggi antara Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, pada Oktober, kedua negara sepakat pada gencatan senjata perdagangan selama satu tahun, termasuk pelonggaran tarif dan kontrol ekspor tertentu.

Langkah Beijing juga sejalan dengan kekhawatiran global terhadap fluktuasi imbal hasil obligasi AS dan ketergantungan besar pada aset berdenominasi dolar. Otoritas pengawas keuangan Jerman, BaFin, bahkan memperingatkan bahwa peran dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia dapat menghadapi tantangan mulai 2026 akibat guncangan geopolitik dan tekanan pendanaan.

Di pasar, obligasi pemerintah AS pada awal pekan dilaporkan kembali melemah dengan imbal hasil yang naik tipis, sementara dolar AS tertekan terhadap mata uang utama. Meski demikian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan permintaan asing terhadap obligasi pemerintah AS masih kuat.

"Pasar obligasi pemerintah mencatat kinerja terbaik sejak 2020 dan permintaan pada lelang tetap tinggi," ujarnya pekan lalu.

(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |