Benteng Alam Tsunami Megathrust di Selatan Jawa Mengecil, Ada Apa?

8 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan kerusakan serius pada benteng alami penahan tsunami yang membentang di pesisir selatan Jawa. Struktur berupa punggungan pasir yang terbentuk ribuan tahun lalu dan berfungsi sebagai pelindung utama dari terjangan tsunami, kini terus terkikis akibat penambangan pasir yang kian meluas.

Peringatan ini disampaikan Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto belum lama ini. Ia bilang, kerusakan benteng alam tersebut bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi menyangkut keselamatan jutaan warga di sepanjang pesisir selatan Jawa.

"Benteng alam ini terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun. Jika rusak, kita kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunami," kata dia dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (30/11/2025).

Hasil riset BRIN yang didanai melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN 2025 menunjukkan, punggungan pasir di Kebumen-Purworejo hingga Cilacap terbentuk sekitar 6.000 tahun lalu ketika permukaan laut lebih tinggi 3-5 meter dibanding sekarang. Secara ilmiah, formasi ini dikenal sebagai Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM).

Struktur tersebut membentang sekitar 40 kilometer, dengan ketinggian 6-13 meter. Ini terletak hanya 400-500 meter dari garis pantai di Kebumen-Purworejo, lalu makin menjauh hingga 8 kilometer di wilayah Cilacap.

Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. (BRIN)Foto: Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. (BRIN)
Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. (BRIN)

Perbedaan tinggi dan jarak dari laut inilah yang membuat tingkat kerawanan tsunami di setiap wilayah berbeda. Permukiman di Kebumen dan Purworejo yang berada di atas punggungan dengan ketinggian lebih dari sembilan meter di atas permukaan laut relatif lebih aman dari tsunami berskala menengah.

"Sebaliknya, kawasan Cilacap yang hanya berada di ketinggian nol hingga empat meter lebih rentan karena berada langsung di dataran pantai modern" jelas Eko.

Ia juga menegaskan, secara morfologi, Cilacap jauh lebih rawan dibanding Kebumen karena datarannya lebih rendah dan lebih dekat ke laut. Kajian BRIN menunjukkan, zona megathrust di selatan Jawa-Nusa Tenggara berpotensi memicu gempa besar hingga magnitudo 9,6 dengan siklus sekitar 675 tahun.

Gempa sebesar ini dapat memicu tsunami yang mampu menyapu beberapa kilometer ke daratan. Dalam skenario tersebut, punggungan pasir menjadi penghalang pertama yang memperlambat dan mengurangi energi gelombang.

"Benteng alami ini sangat penting untuk menahan kekuatan tsunami sebelum mencapai kawasan penduduk," kata Eko.

Meski memiliki fungsi vital, punggungan pasir tersebut kini rusak akibat penambangan yang tidak terkendali. Eko menyebut kerusakan ini sebagai ironi besar, mengingat negara lain harus mengeluarkan biaya fantastis untuk membangun pelindung buatan.

Sebagai perbandingan, tanggul laut Jepang setelah tsunami 2011 dengan tinggi 12-15 meter, panjang hampir 400 km, biaya Rp 138 triliun. Jika Indonesia harus membuat struktur serupa, minimal Rp 14 triliun, setara 14 kali lipat anggaran BNPB 2025.

"Menghancurkan punggungan pasir sama saja dengan melepas pelindung terakhir masyarakat. Ini bukan hanya soal geologi, tapi soal kemanusiaan," tegas Eko.

BRIN mengingatkan, benteng pasir tersebut merupakan anugerah alam yang tidak ternilai harganya. Struktur yang terbentuk perlahan selama ribuan tahun itu bisa hilang hanya dalam hitungan dekade jika eksploitasi pasir dibiarkan terus berlangsung.

"Menyelamatkan benteng alam tsunami bukan hanya soal menjaga lingkungan. Ini soal memastikan masa depan anak cucu kita tetap terjaga," tutupnya.

(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |