Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
20 February 2026 15:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2025 mencatatkan defisit yang sekaligus menjadi tertinggi nya sejak 2004.
Melansir dari rilis Bank Indonesia (BI), NPI secara tahunan pada 2025 tercatat defisit US$7,84 miliar. Angka ini menjadi defisit terbesar dalam lebih dari dua dekade terakhir. Perlu dicatat, data historis NPI yang tersedia pada publikasi BI tercatat hingga 2004.
Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI merupakan catatan statistik yang disusun oleh BI untuk merangkum seluruh transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dan nonresiden dalam periode tertentu.
NPI menggambarkan arus devisa yang masuk dan keluar Indonesia, mulai dari kegiatan perdagangan barang dan jasa, pembayaran pendapatan dan transfer, hingga aliran investasi serta pembiayaan. NPI kemudian menjadi salah satu indikator penting untuk membaca ketahanan eksternal perekonomian dan stabilitas nilai tukar.
Saat melihat defisit NPI yang besar pada 2025, banyak yang biasanya langsung menduga penyebabnya adalah pelebaran defisit transaksi berjalan. Namun pada 2025 kondisinya justru sedikit berbeda.
Defisit Transaksi Berjalan Justru Mengecil
Transaksi berjalan memang masih mencatat defisit, tetapi angkanya jauh membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada 2025 sebesar US$1,45 miliar, membaik dari 2024 yang mencapai US$8,5 miliar. Artinya, pada 2025 defisit transaksi berjalan menyusut sekitar US$7 miliar.
Defisit Transaksi Finansial Jadi Penyebab Besarnya Defisit NPI 2025
Jika dilihat lebih dalam, penyebab utama membengkaknya defisit Neraca Pembayaran Indonesia pada 2025 adalah memburuknya transaksi finansial hingga berbalik defisit.
Transaksi finansial merupakan komponen NPI yang mencatat arus masuk dan keluar modal dan investasi, seperti investasi langsung, investasi portofolio, serta transaksi pinjaman dan instrumen keuangan lainnya.
Pada 2025, transaksi finansial tercatat defisit sebesar US$4,54 miliar. Kondisi inilah yang menjadi pemicu utama tingginya defisit NPI tahun lalu.
Secara historis sejak 2004, transaksi finansial kerap menjadi penopang NPI saat transaksi berjalan mengalami defisit. Artinya, ketika transaksi berjalan defisit, transaksi finansial umumnya mencatat surplus, atau sebaliknya.
Karena itu, 2025 menjadi momen yang tidak biasa karena transaksi berjalan dan transaksi finansial sama sama mencatat defisit dalam waktu yang bersamaan.
Defisit pada neraca finansial artinya, arus investasi langsung asing di indonesia mengecil dan keluarnya modal asing dari pasar keuangan Tanah Air.
Investasi Langsung Turun Hingga Defisit Investasi Portofolio Melebar
Melihat angkanya, investasi langsung atau direct investment ke indonesia di 2025, turun menjadi US$14,08 miliar dari tahun sebelumnya US$15,88 miliar di 2024. Angka ini sekaligus menjadi yang terendah dalam 7 tahun atau sejak 2018.
Melambatnya investasi langsung perlu menjadi perhatian karena aliran dana ini bersifat jangka panjang dan selama ini menjadi salah satu penopang penting bagi ketahanan eksternal Indonesia.
Pelemahan ini juga memberi sinyal bahwa pelaku usaha masih menimbang risiko untuk berkomitmen dalam proyek jangka panjang, baik akibat ketidakpastian di luar negeri maupun dinamika penyesuaian kebijakan di dalam negeri saat ini.
Padahal, investasi langsung punya efek berantai yang besar ke ekonomi riil, terutama penciptaan lapangan kerja.
Ketika investor menanam modal langsung, mereka biasanya membangun pabrik, fasilitas produksi, atau ekspansi operasional yang menyerap tenaga kerja.
Hal yang sama juga terjadi pada investasi portofolio atau yang biasa disebut sebagai "hot money". Investasi portofolio tercatat defisit US$9,24 miliar di 2025. Berbanding terbalik di tahun sebelumnya, ketika investasi portofolio surplus sebesar US$11,63 miliar.
Berbeda dengan investasi langsung, investasi portofolio lebih mengarah pada investasi di pasar saham dan obligasi yang cenderung bergerak cepat dan lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5048041/original/074776600_1734010897-20241212AA_Asean_Cup_2024_Indonesia_vs_Laos-17.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5182679/original/046922700_1744100626-Timnas_Indonesia_-_Beragam_ekspresi_Nova_Arianto_copy.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

