Bersiap Perang Nuklir, Musuh Bebuyutan AS Sebut Tak Ada Pilihan Lain

1 day ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya bahwa negara itu "tidak akan memiliki pilihan lain" selain mengejar senjata nuklir jika menghadapi serangan militer.

Peringatan ini disampaikan oleh Ali Larijani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai respons terhadap ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengebom Iran jika Teheran menolak kesepakatan nuklir baru.

Pernyataan ini menambah ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS, di mana kebijakan tekanan maksimum yang diterapkan oleh Trump telah memperburuk hubungan kedua negara. Pemerintah AS telah memberlakukan kembali sanksi berat untuk melemahkan ekonomi Iran dan menghentikan program nuklirnya.

Meskipun Iran secara konsisten membantah memiliki niat mengembangkan senjata nuklir, ancaman terbaru ini menandakan bahwa ketegangan dapat berujung pada eskalasi lebih lanjut.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Larijani menegaskan bahwa Iran tidak sedang mengejar senjata nuklir, tetapi bisa dipaksa untuk mempertimbangkannya jika diserang.

"Kami tidak bergerak menuju senjata nuklir, tetapi jika Anda (AS dan sekutunya) melakukan kesalahan dalam masalah nuklir Iran, Anda akan memaksa Iran untuk mengambil langkah tersebut demi membela diri," ujar Larijani, sebagaimana dikutip dari Newsweek, Rabu (2/4/2025).

Ia juga memperingatkan bahwa tindakan militer dari AS atau Israel akan membuat Teheran mempertimbangkan kembali sikapnya terhadap program nuklir.

Pernyataan ini muncul setelah Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, menyatakan bahwa Washington tidak percaya Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, ia juga mencatat bahwa tabu mengenai diskusi senjata nuklir di Iran tampaknya makin melemah.

Ancaman Trump Memanaskan Situasi

Pernyataan Trump pada akhir pekan lalu makin memperburuk situasi. Dalam wawancara dengan NBC, ia memperingatkan bahwa "akan ada pemboman" jika Iran menolak kesepakatan nuklir baru.

Selain itu, Trump juga mengancam akan menerapkan tarif sekunder terhadap Iran, sebuah langkah yang dapat memperburuk krisis ekonomi di negara tersebut.

Namun, ancaman ini langsung ditanggapi dengan tegas oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pidatonya pada Senin lalu, ia menepis ancaman AS dan menyatakan bahwa Iran siap memberikan balasan yang setimpal jika AS benar-benar melakukan tindakan militer.

"Mereka mengancam akan melakukan kekacauan. Jika itu terjadi, mereka pasti akan menerima balasan yang kuat," tegas Khamenei.

Negosiasi Tak Langsung dan Upaya Diplomasi

Sementara ketegangan meningkat, ada indikasi bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Bulan lalu, Trump mengirimkan surat kepada Khamenei untuk meminta negosiasi nuklir dan memperingatkan kemungkinan tindakan militer.

Iran mengonfirmasi bahwa surat tersebut telah dibalas melalui Oman, meskipun mereka menegaskan bahwa negosiasi langsung tidak akan terjadi selama masih berada di bawah tekanan sanksi.

Kementerian Luar Negeri Iran juga telah memanggil kuasa usaha kedutaan Swiss, yang mewakili kepentingan AS di Teheran, sebagai bentuk protes terhadap ancaman Trump. Ini menandakan bahwa meskipun eskalasi terus terjadi, masih ada upaya diplomatik yang dilakukan di balik layar.

Ketegangan antara AS dan Iran telah memicu berbagai reaksi dari pengamat internasional. Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, mengatakan kepada Newsweek bahwa situasi ini bisa menjadi makin berbahaya jika kedua pihak tidak mengadopsi pendekatan yang lebih realistis dalam negosiasi.

"Perang kata-kata antara Washington dan Teheran semakin memanas, dengan Trump mengancam pemboman skala penuh dan Teheran memperingatkan balasan cepat. Kedua pihak sebenarnya tidak menginginkan perang, dan tampaknya mereka melihat ini sebagai bagian dari strategi negosiasi. Namun, tanpa sikap yang lebih fleksibel dan tanpa mengesampingkan pendekatan maksimalis, retorika yang meningkat ini bisa menjebak mereka dalam perang yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak," ujar Parsi.


(luc/luc)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Beri Iran Waktu 2 Bulan Capai Kesepakatan Nuklir Baru

Next Article Pemimpin Tertinggi Iran Enggan Berunding dengan AS: "Tak Cerdas"

Read Entire Article
| | | |