Bos Hotel Blak-blakan, Turis Bule ke Bali Kini Banyak Berdompet Tipis

1 day ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramainya wisatawan asing ke Bali belakangan ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku industri perhotelan. Salah satu isu yang sering mencuat adalah dugaan menjamurnya vila dan homestay ilegal yang disebut-sebut menjadi tempat menginap favorit turis asing dengan bujet terbatas. Namun, pelaku usaha menilai persoalan ini tidak sesederhana itu.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menegaskan, lonjakan kunjungan wisatawan asing sejatinya berjalan seiring dengan bertambahnya pasokan akomodasi. Menurutnya, pertumbuhan jumlah hotel dan hunian wisata di Bali membuat pasar menjadi jauh lebih padat dibandingkan beberapa tahun lalu.

"Enggak, dengan kenaikan 11% kunjungan tapi kan di sini ada supply-nya. Jadi penambahan baik hotel, vila, apartemen, kondotel, pondok wisata, guesthouse itu kan lumayan ya meningkat juga. jadi peningkatan kunjungan paralel dengan peningkatan daripada supply kita kan. Itu penyebabnya," kata Rai kepada CNBC Indonesia, Kamis (8/1/2025).

Ia juga menyoroti perubahan profil wisatawan asing yang datang ke Bali. Saat ini, tidak semua turis mancanegara berasal dari kelompok berdaya beli tinggi. Banyak di antaranya justru berasal dari segmen menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap harga.

"Nah yang kedua juga adalah wisatawan yang datang ini kebanyakan menengah ke bawah. Sehingga dia menyasar penginapan-penginapan yang sesuai dengan isi kantongnya mereka. Jadi banyak yang nginep di vila-vila, guesthouse, apartemen. Jadi sebagian saja yang nginep di hotel-hotel berbintang."

Di sisi lain, Rai tidak menampik adanya persoalan serius terkait kepemilikan dan pengelolaan akomodasi. Ia mengakui memang ada indikasi praktik ilegal yang dilakukan oleh oknum asing, terutama dalam pengelolaan vila dan guesthouse yang tidak tercatat secara resmi.

"Iya emang disinyalir ada juga akomodasi seperti vila-vila itu, guesthouse yang dimiliki orang asing, itu oknum-oknum juga ada yang ilegal. Artinya begini dia dapat menyewa, misalnya nih orang asing nyewa guesthouse kemudian dia sewakan lagi ke tamu-tamunya melalui online. Nah ini kan dia akhirnya tidak membayar pajak ya karena reservasi yang dilakukan pemesanan kamar melalui online kemudian pembayarannya pun melalui rekeningnya masuk ke bank yang ada di luar negeri kan. Jadi gimana kita bisa mengenakan pajak," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat persaingan usaha akomodasi di Bali diprediksi akan semakin ketat ke depan. Rai menyebut, tahun 2026 akan menjadi periode yang penuh tantangan bagi pelaku industri pariwisata, baik dari sisi persaingan internal maupun eksternal.

"Yang jelas persaingan akan lebih ketat di tahun 2026 ini. Jadi tantangannya juga akan lebih keras. Jadi kalau kita tidak mempunyai strategic plan yang jitu ya, ya itu akan kalah dalam berkompetisi baik internal maupun eksternal nanti."

Ia juga membandingkan situasi saat ini dengan masa pascapandemi Covid-19. Kala itu, wisatawan cenderung memiliki keinginan berlibur yang tinggi dengan pengeluaran besar setelah lama tertahan. Namun, pola tersebut kini mulai berubah.

"Iya waktu pasca pandemi kan mereka semua orang ingin berwisata ya. Jadi apalagi yang punya-punya duit kan? Sudah dua tahun misalnya di rumah, terkekang begitu kan karena pandemi begitu pasca pandemi banyak yang berwisata dia spending-nya cukup tinggi. Dan sekarang untuk tahun ini kan mereka juga berpikir-pikir ya, pasti juga melirik destinasi lain gitu," kata Rai.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |