Bukan dari Keluarga Atlet, Yanto Basna Bersyukur Masuk SAD dan Berguru Sepak Bola Modern di Uruguay

6 hours ago 3

Bola.com, Jakarta - Papua tak pernah gagal melahirkan bakat-bakat luar biasa di pentas sepak bola nasional. Satu di antaranya adalah Yanto Basna. Kelahiran Sorong, 30 tahun silam ini sosok pemain bertahan yang sangat disegani di masanya.

Bakatnya sudah terlihat sejak kecil dan puncaknya ia masuk skuad muda Deportivo Indonesia yang berguru sepak bola modern di Uruguay.

Ia juga pernah ditempa di tim junior Persib Bandung dan Sriwijaya FC sebelum akhirnya menjadi bintang di sejumlah klub Indonesia.

Tak hanya di kompetisi dalam negeri, pemilik nama lengkap Rudolof Yanto Christianto juga berkarier di Liga Thailand, memperkuat PT Prachuap

Di Timnas Indonesia, nama Yanto Basna juga terbilang akrab di telinga rakyat Indonesia, terlebih fans setia Skuad Garuda.

Menariknya, meski disibukkan dengan sepak bola, Yanto Basna masih meluangkan waktu untuk mengejar ilmu hingga sukses meraih gelar sarjana S1 dari Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Bukan dari Keluarga Atlet

Siapa nyana, Yanto Basna ternyata bukan dari keluarga atlet. Ia merasa bersyukur karena sepak bola telah memberinya kesempatan menimba ilmu hingga ke negara yang sangat jauh, Uruguay.

"Kalau cerita ke belakang, background keluarga saya sebenarnya bukan atlet. Jadi mungkin waktu saya muncul, saya yang pertama yang bermain sepak bola. Jadi, ya bersyukur tumbuh besar di Papua, sepak bola itu sudah menjadi sesuatu yang dari lahiriah," kata Yanto Basna via kanal YouTube Dens.TV.

Mantan palang pintu Persib dan Sriwijaya ini mengatakan mulai benar-benar fokus ke sepak bola sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas 6.

"Lahir dan dari kecil sudah kenal dengan sepak bola, di mana pun kita bermain sepak bola. Makanya tidak heran kalau banyak pemain yang muncul dari Papua. Makanya itu mulai dari kecil, mulai fokus itu mulai SD kelas 6 atau SMP kelas 1," tukasnya.

Kerja Keras Seperti Cristiano Ronaldo

Di Papua, imbuh Yanto Basna, banyak bakat muda yang tak mendapat kesempatan seperti dirinya. Ia mengaku lebih suka kerja keras dan menjadikan Cristiano Ronaldo sebagai panutan.

"Sebenarnya kalau saya melihat sih, sebenarnya ada dua tipe. Ada yang lahir dengan bakat, dan ada yang karena kerja keras. Contohnya Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Ronaldo dari kerja keras, Messi punya bakat atau talenta," tukasnya.

"Mungkin saya di bagian Ronaldo. Jadi kalau untuk bakat, dari kecil sebenarnya tidak kelihatan. Saya unggul di postur tinggi badan saja sebenarnya. Makanya ketika bermain, beberapa kali dipilih karena tinggi badan," tuturnya lagi.

Kerja keras akhirnya membawa Yanto Basna masuk skuad muda SAD atau Sociedad Anonima Deportiva yang menimba ilmu sepak bola modern di Uruguay.

"Ketika masuk dalam tim pasti cadangan. Akhirnya dulu sempat pernah jadi striker juga di SMP, tapi akhirnya dikembalikan ke belakang dan berkat kerja keras tadi bisa mendapat kesempatan. Salah satunya di SAD Uruguay. Itu menjadi titik awal saya keluar dari Papua," kata Yanto Basna.

Mentalitas Jadi Kunci

Ditanya soal banyak bakat-bakat muda Papua yang gagal sampai ke liga profesional dan berkarier di luar negeri, Yanto Basna mengatakan semua kembali ke mental masing-masing.

"Kembali ke mental masing-masing. Kalau dalam beberapa studi dan saya baca, saya sadar bahwa banyak faktor yang memengaruhi pemain muda terutama ya. Apalagi, bakat saja tidak cukup," tukasnya.

"Dulu saya memikirkan 15 tahun lalu bakat saja tidak cukup. Namun, dengan berjalannya waktu, 10 tahun ke sini, ditambah kecerdasan juga tidak cukup. Jadi semakin berat, karena dunia sepak bola modern sekarang menuntut lebih," lanjutnya.

Yanto Basna menuturkan dalam sepak bola kesempatan juga sangat penting bagi seorang pemain untuk mengejar karier. Tanpa kesempatan, sama saja bohong.

"Satu tahun ini saya mulai ikuti, kulik-kulik, bakat dan kecerdasan saja tidak cukup. Harus ditambah faktor paling penentu, yaitu kesempatan. Makanya kalau saya melihat perjalanan saya, 'oh benar juga'. Kesempatan saya keluar dari Papua ke Uruguay yang bisa membawa membuka pintu," jelasnya.

"Jadi, kalau saya dulu tidak ke Uruguay, saya tidak tahu. Mungkin sekarang juga jadi tukang ojek misalnya."

"Kalau di Papau saya latihan di lapangan di pinggir pantai, jelek. Namun, ketika kita menguasai lapangan itu dengan baik, maka ketika kita pindah ke lapangan yang bagus, akan lebih mudah mengontrol situasi. Nah, lapangan yang bagus itu ada kalau kita dapat kesempatan."

"Jadi kesempatan itu harus dicari dan diciptakan. Ketika gagal di sini, tidak harus serta merta pasrah di situ. Artinya harus menciptakan peluang. Mungkin harus keluar daerah misalnya. Jadi harus bisa menciptakan peluang sendiri," pungkas Yanto Basna.

Read Entire Article
| | | |