Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membeberkan sumber hewani khususnya ikan yang memiliki kandungan Omega-3 tertinggi di dunia berasal dari Indonesia. Hal itu menepis fakta ikan yang selama ini terkenal memiliki kandungan Omega-3 tinggi berasal dari salmon dan gabus.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Gadis Sri Haryani menyebutkan bahwa ikan sidat memiliki nilai gizi tertinggi bila dibandingkan dengan salmon dan gabus.
"Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi," ujar Gadis, pada Seminar bertajuk 'Penguatan Tata Kelola dan Hilirisasi Industri Sidat Sebagai Dasar Perumusan Kebijakan Nasional Perikanan Berkelanjutan', dilansir dari laman resmi BRIN, dikutip Minggu (30/11/2025).
Ikan sidat memiliki kandungan omega-3 (DHA dan EPA) tertinggi, serta kaya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.
DHA (asam dokosaheksaenoat) sendiri berperanan penting dalam perkembangan dan fungsi otak manusia. Sementara, EPA (asam eikosapentaenoat) dapat membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.
Gadis menilai, pendekatan pengelolaan berkelanjutan dan berbasis sains dapat mengurangi eksploitasi berlebih yang dapat mengancam populasi ikan sidat di masa mendatang. Mengingat, ikan sidat menjadi salah satu sumber daya perikanan yang memiliki potensi ekonomi strategis di Indonesia.
Selain itu, ikan sidat termasuk biologi kritis, yaitu siklus hidup katadromus.
Foto: Ilustrasi Belut. (Dok. Dinas Perikanan Kabupaten Bandung)
Ilustrasi Belut. (Dok. Dinas Perikanan Kabupaten Bandung)
"Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang," ungkapnya.
"Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai, di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel," tambahnya.
Berdasarkan penelitiannya, terungkap siklus hidup sidat dari tiga ekosistem, yaitu laut, estuari, dan air tawar sangat rawan terhadap berbagai ancaman dan gangguan. Tingginya permintaan pasar dan tekanan penangkapan glass eel di alam menimbulkan permasalahan terkait kelestarian populasi sidat di Indonesia.
Mulai dari glass eel liar yang ditangkap berlebih, perubahan lingkungan muara, dan pola migrasi yang terganggu, serta perubahan pola musim panen mengakibatkan ketersediaan pasokan untuk industri menjadi tidak stabil.
"Ketersediaan pasokan glass eel ini mengakibatkan harga fluktuatif di lapangan, dari harga tinggi hingga harga terendah. Bahkan, ada kalanya glass eel tidak terserap di pasar industri karena kapasitas hatchery yang sudah tidak dapat menampung," paparnya.
Sebagai upaya menjaga kelestarian sumber daya dan memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan kebijakan pembatasan kuota penangkapan glass eel serta penetapan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor.
Regulasi tersebut dimaksudkan untuk mengurangi tekanan eksploitasi terhadap populasi liar sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah melalui kegiatan pembesaran di dalam negeri.
"Efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan kapasitas pembesaran dan hatchery, ketergantungan pada pakan impor, serta lemahnya sistem pengawasan dan koordinasi antar pemangku kepentingan," terangnya.
Dia juga menekankan tata kelola ekologi adalah fondasi hilirisasi industri sebagai sinergi. Tata kelola ekologi mencakup implementasi rencana aksi nasional, penerapan konservasi berbasis bukti ilmiah, dan perlindungan terhadap struktur serta fungsi alami ekosistem perairan.
"Transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen bernilai tinggi, melalui budidaya domestik dan pengembangan industri pengolahan ikan sidat sebagai hilirisasi industri," imbuhnya.
Dengan begitu, Gadis menilai ketahanan ekologi dapat tercipta ketika populasi sidat terjaga dan pulih sehingga ekosistem tetap sehat. Sementara ketahanan ekonomi terwujud melalui industri sidat bernilai tinggi yang stabil dan kompetitif di pasar global.
"Pada akhirnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa," tandasnya.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319082/original/060228700_1755504247-pspr.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4939096/original/049996300_1725747991-000_36FT7CN.jpg)



