China Kirim 5 Sinyal Bahaya Buat RI, Bersiaplah untuk Kondisi Terburuk

6 hours ago 8

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

09 March 2026 20:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyeksi pertumbuhan ekonomi China kini tidak lagi setinggi dulu. Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini di kisaran 4,5% hingga 5%, yang menjadi level terendah sejak 1991. Angka tersebut juga menandai penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi pertama sejak 2023.

Target itu diumumkan dalam rangkaian sidang tahunan Two Sessions, forum politik penting di China yang mencakup pertemuan National People's Congress (NPC) dan Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC).

Dalam sidang pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, Kamis (5/3/2026), Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan langsung laporan kerja pemerintah yang memuat target tersebut.

Turunnya target pertumbuhan ini mencerminkan bahwa ekonomi China memang sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Sejumlah indikator terbaru menunjukkan perlambatan itu terjadi di banyak sisi, mulai dari sektor properti yang belum pulih, konsumsi rumah tangga yang masih lemah, tekanan deflasi, berkurangnya penduduk usia kerja, hingga pasar tenaga kerja yang semakin menantang.

Di tengah kondisi itu, ekspor memang masih menjadi penopang, tetapi belum sepenuhnya bisa menutup lemahnya permintaan domestik.

Lalu, seperti apa gambaran terbaru ekonomi China? berikut lima indikator utama yang menjelaskan kenapa laju ekonomi negara tersebut diproyeksi melambat.

1. Sektor Properti Belum Keluar dari Tekanan

Selama beberapa dekade, perumahan menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi China yang paling kuat. Sektor properti bahkan menjadi tempat utama penyimpanan kekayaan rumah tangga.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini justru masuk ke masa penurunan.

Pengetatan aturan terhadap utang berlebihan oleh pengembang pada 2020, lalu disusul lockdown pandemi yang menekan penjualan dan merusak kepercayaan rumah tangga, membuka kelemahan dari boom properti yang selama ini ditopang utang.

Setelah itu, sektor ini terjebak dalam lingkaran buruk berupa permintaan yang turun, pembiayaan yang makin ketat, dan proyek-proyek yang belum selesai.

Menurut perkiraan ekonom, harga rumah secara nasional telah jatuh 30% dari puncaknya pada 2021. Kondisi ini menggerus kekayaan rumah tangga.

Calon pembeli memilih menunggu karena khawatir harga masih bisa turun lebih dalam dan enggan mengambil utang jangka panjang untuk aset yang nilainya belum tentu pulih.

Pemilik rumah yang sudah ada pun sering kali tidak bisa menjual tanpa menanggung kerugian. Di saat yang sama, pengembang yang sarat utang dibebani apartemen yang belum terjual, proyek yang mandek, serta kewajiban yang terus menumpuk, sehingga banyak yang akhirnya gagal bayar.|

Sejak pertengahan 2024, pemerintah China berupaya menopang sektor ini. Langkah yang diambil antara lain memangkas suku bunga kredit pemilikan rumah untuk pinjaman yang sudah berjalan, melonggarkan pembatasan pembelian rumah di kota-kota besar, dan menurunkan pajak transaksi. Namun langkah tersebut baru memberi stabilisasi sementara dan belum mampu membalikkan tren penurunan.

Pada masa puncaknya, sektor properti dan industri terkait menyumbang hingga seperempat produk domestik bruto, melansir dari Bloomberg.

Kini kontribusinya turun menjadi kurang dari seperlima, dan kemungkinan masih akan terus menurun seiring pemerintah China mengalihkan fokus ke manufaktur berteknologi tinggi dan industri hijau.

Masalahnya, sektor-sektor baru ini lebih padat modal dan menciptakan lebih sedikit lapangan kerja, sehingga sulit menggantikan properti sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi secara luas.

2. Belanja Warga Masih Tertahan

Kelesuan sektor properti China menjalar ke ekonomi yang lebih luas. Ketika nilai rumah turun, rumah tangga merasa lebih miskin dan menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

Permintaan yang lemah telah menekan harga berbagai barang dan jasa sejak 2023. Untuk menarik konsumen yang semakin hemat, perusahaan memangkas harga agar bisa mengalahkan pesaing. Kondisi ini justru memperkuat siklus deflasi.

Deflasi yang berlangsung lama menjadi tantangan besar. Saat konsumen memperkirakan harga akan turun lagi, mereka cenderung menunda pembelian. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan tertekan, investasi melemah, dan perusahaan makin sulit menaikkan upah. Pada akhirnya, permintaan makin lemah dan penurunan harga semakin mengakar.

Pemerintah China menyebut persaingan yang berlebihan sebagai "involution" dan menjadikan upaya menekan perang harga yang merusak sebagai prioritas utama di berbagai sektor, mulai dari kendaraan listrik hingga layanan pesan-antar makanan.

Otoritas China terus berupaya memulihkan daya tawar harga agar perusahaan dapat membangun kembali margin keuntungan dan menaikkan upah, dengan harapan konsumsi ikut pulih. Namun ketika deflasi sudah telanjur terjadi, membalikkannya bukan perkara mudah.

3. Populasi Menyusut, Tantangan Jangka Panjang Membesar

Jumlah penduduk China yang sekitar 1,4 miliar jiwa kini menyusut dengan kecepatan yang tidak terlihat selama beberapa dekade. Ini menjadi perubahan besar bagi negara yang selama ini dikenal karena besarnya populasi.

Jumlah kelahiran turun menjadi 7,93 juta pada 2025, level terendah setidaknya sejak 1949. Angka ini turun setiap tahun sejak 2016, kecuali sempat naik tipis pada 2024 yang kemungkinan dipengaruhi Tahun Naga dalam kalender China, yang secara tradisional dianggap sebagai waktu baik untuk memiliki anak.

Penduduk usia kerja China, yaitu kelompok umur 16 hingga 59 tahun, juga terus menyusut. Pada 2025, kelompok ini mencakup sekitar 61% dari total populasi, turun dari lebih dari 70% satu dekade sebelumnya. Dengan populasi yang menua cepat, rasio penduduk usia kerja terhadap penduduk berusia di atas 65 tahun, yang saat ini sekitar empat banding satu, diperkirakan turun setengah dalam dua dekade ke depan.

Tenaga kerja yang semakin sedikit dan populasi yang menua cepat akan berdampak pada banyak hal, mulai dari permintaan konsumen, output manufaktur, hingga inovasi teknologi. Kondisi ini pada akhirnya menekan potensi pertumbuhan jangka panjang China.

Beijing berharap kenaikan produktivitas melalui otomatisasi bisa mengimbangi berkurangnya jumlah pekerja. Presiden Xi Jinping menekankan bahwa investasi di bidang sains dan teknologi, terutama bioteknologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, dan robotika, menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi China.

4. Pasar Kerja Semakin Sulit, Terutama bagi Anak Muda

Meski tingkat pengangguran secara umum relatif stabil, pengangguran usia muda melonjak seiring jutaan lulusan baru masuk ke pasar kerja yang sedang melemah.

Para lulusan ini umumnya mencari pekerjaan kantoran. Akibatnya muncul ketidaksesuaian struktural antara keterampilan yang mereka miliki dan kebutuhan pasar tenaga kerja, terutama di sektor pabrik yang justru kesulitan mencari pekerja.

Ketidakpastian kerja dan lemahnya pertumbuhan upah membuat upaya memulihkan konsumsi semakin sulit. Rumah tangga yang tidak yakin terhadap prospek pendapatannya cenderung memilih menabung daripada belanja, sehingga perlambatan ekonomi makin berlanjut.

Adopsi otomatisasi yang sangat cepat juga menambah tekanan baru. Penggunaan teknologi seperti robot dan kecerdasan buatan (AI) di sektor manufaktur maupun jasa kini mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya ketergantungan pada sistem kerja kontrak atau fleksibel, yang umumnya menawarkan manfaat lebih sedikit dan tingkat kepastian kerja yang lebih rendah.

5. Ekspor Masih Menolong, Tapi Tidak Bisa Jadi Andalan Selamanya

Ekspor menjadi penopang penting bagi ekonomi domestik China yang sedang melemah. Ekspor neto menyumbang sekitar sepertiga pertumbuhan PDB pada 2025, proporsi tertinggi sejak 1997.

Meski tarif Amerika Serikat terhadap barang-barang China terus naik dan bahkan sempat menyentuh 145% pada awal 2025, sehingga menekan pendapatan eksportir di pasar AS, pengiriman ke Eropa dan pasar negara berkembang di Asia Tenggara mampu menyerap sebagian tekanan tersebut.

Permintaan terhadap peralatan dan mesin industri buatan China khususnya diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global. Pada saat yang sama, produsen China juga naik kelas dalam rantai nilai dengan meningkatkan penjualan produk bernilai lebih tinggi seperti kendaraan listrik, panel surya, dan peralatan manufaktur. Hal ini membantu surplus perdagangan China mencapai rekor US$1,2 triliun pada 2025.

Meski begitu, ketergantungan pada ekspor untuk menopang ekonomi China dalam jangka panjang tetap mengandung risiko.

Ekonomi China perlu tumbuh rata-rata 4,17% dalam 10 tahun ke depan agar pemerintah dapat mencapai target menjadikan negara itu sebagai ekonomi dengan tingkat pembangunan menengah pada 2035.

Namun tensi dagang masih tinggi. Semakin banyak negara, bukan hanya AS, mulai menahan lonjakan impor dari China melalui tarif, kuota, dan berbagai langkah perlindungan lainnya. Hal ini memunculkan pertanyaan, sampai kapan permintaan dari luar negeri bisa terus menopang ekonomi China.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |