Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini menyatakan bahwa dirinya tidak gentar untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Iran guna mendukung gerakan protes di negara tersebut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan narasi Washington berbanding terbalik dengan kapabilitas yang tersedia saat ini.
Meskipun Trump tampak bersemangat menyusul keberhasilan operasi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, para analis menilai Iran adalah tantangan yang jauh lebih kompleks. Sejarah intervensi AS di Timur Tengah yang jarang membuahkan kesuksesan menjadi bayang-bayang kelam bagi ambisi sang Presiden.
Berikut adalah poin-poin krusial mengapa opsi militer AS terhadap Iran dianggap sangat terbatas:
1. Minimnya Kekuatan Tempur di Lokasi
Secara mengejutkan, AS saat ini tidak memiliki kapal induk yang bertugas di Timur Tengah sejak Oktober lalu. Hal ini terjadi setelah dua tahun pengerahan terus-menerus pasca-serangan Hamas ke Israel.
Kapal induk USS Gerald R. Ford telah ditarik ke Karibia pada musim panas, sementara USS Nimitz kembali ke pantai barat AS pada musim gugur. Tanpa armada kapal induk, setiap serangan udara harus bergantung pada pangkalan darat di negara sekutu, yang membawa risiko politik tinggi bagi negara tuan rumah seperti Qatar, Bahrain, atau Arab Saudi.
2. Risiko Balas Dendam Rudal Iran
Meskipun kekuatan militer Iran sempat terdegradasi akibat perang 12 hari dengan Israel pada musim panas lalu, Teheran masih menyimpan ancaman serius. Diperkirakan Iran memiliki 2.000 rudal balistik berat yang tersimpan di pangkalan bawah tanah di pegunungan.
Jika diluncurkan dalam jumlah besar, rudal-rudal ini mampu menembus sistem pertahanan udara AS maupun Israel.
3. Dilema Target: Apa yang Harus Dibom?
Jika AS memutuskan untuk menyerang, muncul pertanyaan besar yakni apa targetnya?
Serangan udara di wilayah urban berisiko tinggi memakan korban warga sipil. Di sisi lain, bila membahayakan warga, AS akan terancam karena sejarah intervensi AS sejak kudeta CIA tahun 1953 justru berpotensi menyatukan rakyat Iran untuk melawan "agresor asing".
4. Sulitnya Melakukan "Operasi Maduro" di Teheran
Menangkap atau melenyapkan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei jauh lebih sulit dibandingkan operasi di Venezuela. Geografi Teheran yang terletak ratusan mil dari perbatasan membuatnya sulit dijangkau operasi darat.
"Pemerintah Iran menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki 'garis merah'. Mereka akan mengamankan jalanan dengan cara apa pun, dan jumlah kantong mayat yang luar biasa menunjukkan tekad mereka," ujar Roxane Farmanfarmaian, pakar dari Royal United Services Institute.
5. Opsi Perang Siber dan Starlink
Mengingat risiko perang terbuka yang sangat besar, opsi non-militer mulai dilirik. Salah satunya adalah serangan siber.
Trump mengklaim pernah mematikan listrik di Caracas untuk menangkap Maduro. Namun, di Iran, mematikan listrik justru akan lebih menyengsarakan warga sipil daripada melumpuhkan pemerintah.
Selain itu, ada usulan untuk membanjiri Iran dengan layanan internet satelit milik Elon Musk guna menembus blokade internet pemerintah. Namun, para ahli siber meragukan apakah penyebaran informasi saja cukup untuk menghentikan kekerasan di jalanan.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5165907/original/040062200_1742202626-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5342106/original/027230600_1757384899-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-20.jpg)




