Cinta vs Uang: Survei Ungkap Prioritas Baru Kaum Lajang

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Stabilitas finansial kini tak lagi sekadar pelengkap dalam hubungan romantis. Di tengah tekanan ekonomi dan biaya hidup yang meningkat, faktor keuangan justru menjadi pertimbangan utama dalam memilih pasangan.

Mengutip CNBC.com, Senin (16/2/2026), survei terbaru dari The Harris Poll terhadap lebih dari 2.100 warga Amerika Serikat berusia 18 tahun ke atas menunjukkan 74% responden lajang menganggap stabilitas finansial sebagai salah satu sifat paling menarik dari pasangan. Bahkan, 60% menyatakan kecocokan finansial lebih penting dibanding chemistry dalam kondisi ekonomi saat ini.

Temuan ini mengindikasikan bahwa uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan cerminan nilai, pola pikir, hingga cara seseorang memandang masa depan.

Valerie Galinskaya, Head of the Merrill Center for Family Wealth di Merrill, menyebut pendekatan seseorang terhadap uang kerap merefleksikan isu yang lebih dalam seperti kontrol, kekuasaan, dan rasa aman. Tanpa komunikasi yang sehat, perbedaan cara mengelola keuangan bisa menjadi sumber konflik jangka panjang.

Lalu, apa saja tanda ketidakcocokan finansial yang patut diwaspadai?

1. Tidak Transparan Soal Keuangan

Di awal hubungan, membahas gaji atau utang mungkin terasa sensitif. Namun seiring hubungan berkembang, ketidaksediaan membuka informasi keuangan bisa menjadi sinyal masalah.

Menyembunyikan utang, kebiasaan belanja impulsif, atau kondisi keuangan yang sebenarnya dapat menghambat rencana besar seperti membeli rumah atau merencanakan pensiun bersama. Transparansi menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan.

2. Terlalu Mengontrol Urusan Uang

Jika salah satu pihak berusaha mengendalikan penuh keputusan finansial pasangan, hal ini bisa mencerminkan persoalan kepercayaan yang lebih dalam. Dalam kasus ekstrem, kontrol finansial bahkan bisa masuk kategori kekerasan ekonomi.

Hubungan jangka panjang idealnya melibatkan keputusan bersama, bukan dominasi sepihak dalam pengeluaran, investasi, atau tabungan.

3. Kesenjangan Ambisi (Ambition Gap)

Perbedaan penghasilan bukan masalah utama. Namun perbedaan visi tentang produktivitas dan ambisi dapat menjadi tantangan serius.

Jika satu pihak sangat berorientasi karier sementara yang lain tidak memiliki motivasi membangun stabilitas jangka panjang, ketimpangan kontribusi-baik finansial maupun nonfinansial-bisa memicu ketegangan dalam hubungan.

Para ahli menilai pasangan perlu mendefinisikan arti "sukses" versi mereka sendiri, apakah itu membangun bisnis bersama, memiliki rumah, atau mencapai kebebasan finansial. Tanpa komunikasi terbuka mengenai tujuan tersebut, potensi konflik akan semakin besar.

Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kecocokan finansial kini menjadi salah satu indikator penting keberlanjutan hubungan. Chemistry mungkin memicu ketertarikan, tetapi keselarasan visi keuangan kerap menentukan arah perjalanan jangka panjang.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |