Makna Hujan dalam Tradisi Tahun Baru Imlek

1 hour ago 1

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia

16 February 2026 08:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Hujan yang turun saat perayaan Tahun Baru Imlek kerap dimaknai sebagai pertanda baik oleh masyarakat Tionghoa. Dalam kepercayaan tradisional, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan simbol datangnya keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki di awal tahun. 

Makna Hujan dalam Tradisi Tahun Baru Imlek

Air memiliki posisi penting dalam filosofi Tionghoa karena melambangkan kehidupan dan kesuburan. Bahkan, dalam simbolisme budaya dan bahasa Mandarin, air sering dikaitkan dengan aliran kekayaan.

Oleh karena itu, hujan yang turun bertepatan dengan Imlek dipercaya membawa berkah, khususnya bagi aktivitas ekonomi seperti pertanian, perdagangan, dan usaha keluarga.

Kepercayaan ini juga merefleksikan harapan masyarakat agar tahun yang baru berjalan lancar, penuh peluang, serta dijauhkan dari kesulitan ekonomi.

Faktor Musiman dan Penjelasan Kalender Lunar

Di luar makna simbolik, hujan saat Imlek juga memiliki penjelasan secara alamiah. Perayaan Tahun Baru Imlek mengikuti kalender lunar, yang jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Periode ini di banyak wilayah Asia, termasuk Asia Timur dan Asia Tenggara, memang bertepatan dengan musim hujan atau masa transisi cuaca.

Kondisi tersebut membuat hujan saat Imlek menjadi peristiwa yang cukup umum terjadi setiap tahunnya. Meski demikian, bagi masyarakat Tionghoa, hujan tetap dimaknai secara positif sebagai awal yang baik untuk memulai tahun baru.

Di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi yang terus berubah, simbol hujan pada perayaan Imlek menjadi pengingat optimisme bahwa tahun yang baru tetap menyimpan peluang dan harapan akan pertumbuhan yang lebih baik.

Penjelasan BMKG

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan hujan dengan perayaan Tahun Baru Imlek itu sendiri.

Hujan yang kerap turun saat Imlek semata-mata karena momen tersebut bertepatan dengan puncak musim hujan di Indonesia.

BMKG menjelaskan, tingginya curah hujan pada Januari-Februari dipengaruhi oleh pola angin Monsun Asia.

Angin ini bertiup dari Benua Asia yang bertekanan tinggi menuju Benua Australia yang bertekanan rendah, membawa massa udara basah dari Asia dan Samudera Pasifik ke wilayah Indonesia melalui angin baratan.

Artinya, meskipun Imlek tidak memengaruhi cuaca, potensi hujan memang sedang tinggi-tingginya pada periode tersebut.

Sistem penanggalan Imlek menggunakan kalender lunar-solar yakni menggabungkan perhitungan Matahari dan Bulan.

Konsekuensinya, Tahun Baru Imlek hampir selalu jatuh pada Januari atau Februari. Di saat yang sama, sebagian besar wilayah Indonesia memang tengah berada dalam fase puncak musim hujan.

Dengan kata lain, faktor kalender dan siklus monsun menjadi kunci utama. BMKG sendiri memproyeksi hujan akan terjadi di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, pada hari ini, Senin (16/2/2026) atau tepat sebelum perayaan Imlek besok Selasa.

Hanya Terjadi di Indonesia?

Menariknya, sejumlah tokoh Tionghoa menyebut fenomena hujan saat Imlek kemungkinan hanya terjadi di Indonesia. Pasalnya, di negara lain seperti China dan mayoritas wilayah Eropa tidak mengenal musim hujan seperti di Indonesia.

Di belahan dunia tersebut, perayaan Imlek justru kerap bertepatan dengan musim dingin, bahkan turun salju.

Namun bagi masyarakat Tionghoa di Tanah Air, hujan saat Imlek bukanlah hambatan. Sebaliknya, hujan dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.

Semakin deras hujan yang turun, semakin besar pula harapan akan rezeki dan keberkahan di tahun yang baru.

Singkatnya, hujan saat Imlek bukan fenomena mistis, melainkan kombinasi antara siklus monsun dan sistem kalender. Namun di balik sains cuaca, tetap ada nilai kearifan lokal yang memberi makna tersendiri bagi masyarakat.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(dag/dag)

Read Entire Article
| | | |