Amalia Zahira, CNBC Indonesia
07 January 2026 17:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor pertanian Indonesia tengah menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, biaya operasional terus meningkat akibat meningkatnya harga bahan bakar fosil dan di sisi lainnya limbah pertanian masih menjadi persoalan struktural yang belum tertangani secara optimal.
Biaya operasional membengkak sehingga membuat banyak petani harus menanggung tambahan biaya BBM hingga 27,4% untuk operasional pertanian. Limbah pertanian juga masih besar.
Contohnya saja daun cengkeh dan sereh wangi yang kerap dibuang atau dibakar. Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, total produksi sereh wangi mencapai 21.000 kg pada 2019, dengan hampir 35% di antaranya berstatus reject. Tak hanya itu, sekitar 2.600 kg daun cengkeh dilaporkan dibiarkan begitu saja tanpa diolah sehingga menjadi limbah pertanian.
Data laporan dari Kementerian PPN/Bappenas memaparkan kontribusi emisi gas rumah kaca sektor pertanian mencapai 13% dari total emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Emisi gas rumah kaca ini diperkirakan akan mencapai 478,5 juta ton CO2 eq pada tahun 2030, atau setara dengan emisi dari 100 juta mobil dalam satu tahun. Dalam konteks ini, upaya menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar agenda jangka panjang.
Salah satu inisiatif yang mencoba menjawab persoalan tersebut adalah Econella Project, proyek energi terbarukan berbasis ekonomi sirkular yang dikembangkan oleh sekelompok muda-mudi bangsa melalui SDG Leadership Program Batch 5 oleh SDG Academy Indonesia. Azizah, Fitrawan, Nava, dan Soraya dimentori oleh Dr. Eng. Bayu Indrawan, memanfaatkan limbah sereh wangi dan daun cengkeh di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, untuk diolah menjadi bio-additive oil bagi mesin diesel.
Bioaditif dari Limbah: Efisiensi atau Sekadar Alternatif?
Secara teknis, Econella dirancang sebagai bioaditif cair yang digunakan dengan dosis sekitar tiga tetes per liter solar.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bioaditif ini mampu meningkatkan efisiensi pembakaran, menghemat konsumsi bahan bakar, serta menurunkan emisi gas buang seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, dan nitrogen monoksida. Jika diterapkan secara konsisten, penghematan ini berpotensi menekan biaya operasional petani yang selama ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga BBM.
Namun, penggunaan bioaditif ini harus diperhatikan betul-betul. Jenis mesin, intensitas penggunaan, dan skala adopsi menjadi indikator yang harus diperhatikan saat menggunakan inovasi ini. Tanpa dukungan standar teknis dan regulasi yang jelas, bioaditif berisiko hanya menjadi solusi parsial yang sulit berkembang ke pasar yang lebih luas.
Ekonomi Sirkular Dalam Proses Produksi
Econella dalam proses produksinya memanfaatkan Sistem Energi Hibrid berbasis tenaga surya dalam tahap distilasi dan separasi, sehingga konsumsi energi fosil dapat ditekan sejak awal. Limbah hasil produksi pun tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi bio-pelet energi, yaitu limbah organik yang dipadatkan sebagai pengganti batu bara atau kayu bakar.
Dalam konteks kebijakan lingkungan, model produksi seperti ini sejalan dengan upaya mengurangi pembakaran terbuka limbah pertanian yang selama ini menjadi sumber emisi tambahan di pedesaan.
Dimensi Sosial: Petani sebagai Aktor Ekonomi
Dari sisi sosial-ekonomi, Econella mengusung model sociopreneurship. Petani yang sering kali menjadi aktor paling terpinggirkan di rantai pasok, dijadikan sebagai mitra usaha dalam proyek ini.
Para petani turut diberi pelatihan berupa pendataan potensi limbah, penggunaan teknologi, hingga literasi finansial. Dengan skema tersebut, petani diarahkan untuk menjadi lebih mandiri dan memiliki daya tawar yang lebih kuat, sehingga limbah yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi dapat dikonversi menjadi sumber pendapatan baru.
Namun, keberlanjutannya sangat ditentukan oleh kepastian pasar dan konsistensi permintaan. Tanpa skema pemasaran yang solid, risiko ketergantungan pada proyek jangka pendek tetap ada. Oleh karena itu, tim Econella Project mengembangkan inisiatif ini melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan sektor swasta, akademisi, dan pemerintah, dengan harapan memperkuat rantai nilai, memperluas akses pasar, serta memastikan keberlanjutan model bisnis dalam jangka panjang.
Tantangan Skala dan Kebijakan
Tantangan skalabilitas juga menjadi faktor pertimbangan bagi Econella. Meski proyek percontohan kerap berhasil di tingkat lokal, replikasi ke dalam skala nasional masih sulit ditembus tanpa tanpa dukungan kebijakan, insentif fiskal, dan standar produk yang jelas.
Di sisi lain, ketersediaan limbah pertanian sangat bergantung pada siklus produksi komoditas induknya, sehingga keberlanjutan produksi Econella akan ditentukan oleh kepastian pasokan limbah sereh wangi dan daun cengkeh.
Selain itu, adopsi bioaditif di sektor pertanian dan transportasi juga bergantung pada kepercayaan pasar. Pengujian berkala dan transparansi data menjadi kunci agar inovasi ini tidak hanya dipandang sebagai eksperimen, melainkan sebagai solusi yang layak secara ekonomi dan teknis.
Pelajaran bagi Transisi Energi
Econella menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari teknologi besar dan mahal. Inovasi berbasis limbah lokal dapat menjadi bagian dari solusi, terutama jika dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi petani. Dalam kerangka SDGs, proyek ini berkontribusi pada tujuan 7 (energi bersih dan terjangkau), tujuan 12 (konsumsi dan produksi bertanggung jawab), serta tujuan 13 (penanganan perubahan iklim).
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Econella bisa bekerja secara teknis, tetapi apakah inovasi semacam ini dapat masuk ke arus utama kebijakan energi dan pertanian nasional. Jika iya, limbah pertanian yang selama ini dipandang sebagai masalah justru bisa menjadi bagian dari solusi efisiensi energi dan pengurangan emisi Indonesia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







