Dolar Tembus Rp17.000/US$, Kinerja Rupiah Masih Berdarah-darah

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah sepanjang pekan ini, bahkan menyentuh Rp17.000/1US$. Pelemahan ini terjadi saat mayoritas mata uang Asia pun turut menguat sepanjang minggu. 

Berdasarkan data Refinitiv pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar As berada di posisi US$16.990/1US$ atau melemah 0,09% dibandingkan hari sebelumnya. Sementara secara mingguan, mata uang Garuda melemah 0,18%.

Sementara itu, ringgit Malaysia Thailand jadi mata uang Asia paling terpuruk dengan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS pekan ini jatuh 0,4% menjadi baht 4,04/1US$. 

Mata uang Asia yang juga mengalami pelemahan terparah adalah Korea won yang ambruk 0,17% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini ke won 1.509,8/1US$.

Sementara mata uang Asia yang menguat adalah rupee India yang melejit 2,2%. Penguatan terjadi karena bank sentral India (RBI) telah mengambil langkah-langkah untuk mengekang arbitrase dan perdagangan spekulatif yang bertaruh melawan rupee.

Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk meredakan kekhawatiran seputar risiko terhadap neraca eksternal India karena perang di Timur Tengah terus mengganggu pasar global dan ekonomi pengimpor energi.

Selain itu, Bank Sentral India juga melarang bank untuk menawarkan forward non-deliverable rupee kepada klien residen dan non-residen dan mengatakan perusahaan tidak dapat memesan ulang forward yang dibatalkan. Langkah ini menyusul pembatasan yang lebih ketat terhadap posisi valuta asing bank di pasar domestik.

"RBI tampaknya cukup serius untuk menindaklanjuti peraturan baru untuk mengendalikan pelemahan INR. Perubahan kebijakan lebih lanjut oleh RBI dan pemerintah India untuk mengelola pelemahan INR kemungkinan akan terjadi," kata Michael Wan, analis mata uang senior di MUFG dikutip dari Reuters pada Sabtu (4/4/2026).

Rupiah Ambruk Apa Sebabnya?

Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.000/1US$ pada perdagangan intraday Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026).

Kepala Ekonom David Sumual mengatakan, tekanan yang dihadapi rupiah hari ini lebih disebabkan faktor eksternal, yakni terus merangkak naiknya harga minyak mentah dunia akibat perang di Timur Tengah yang membuat kekhawatiran para pelaku pasar keuangan.

Namun, ia mengakui, permasalahan internal juga tak luput dari faktor penambah tekanan sentimen pelaku pasar keuangan, terutama terkait efek rambatan dari kenaikan harga minyak ke APBN. Akibatnya terlihat terjadi tekanan jual di pasar Surat Utang Negara.

"Jadi masih soal sentimen negatif eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kekhawatiran dampaknya ke APBN. Ada selling pressures yang cukup kuat dari asing di pasar SUN," ucap Sumual kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (4/4/2026).

Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank Faisal Rachman menambahkan, selain masih berlanjutnya sentimen perang Timur Tengah, meski semalam sudah mulai mereda hingga memunculkan risk on sentimen, rupiah justru masih terbebani sentimen negatif di domestik.

Ia menjabarkan, di antaranya ialah keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga bensin non subsidi menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia ke depan sehingga ada risk off dari sisi sana.

Faktor kedua, membaiknya sentimen global membuat BI kemungkinan tidak buru-buru melakukan intervensi di FX market seperti hari-hari sebelumnya. Ketiga, ini sudah masuk ke triwulan kedua dimana pembayaran imbal hasil aset keuangan Indonesia ke non resident secara musiman cenderung meningkat.

"Dan keempat, ada antisipasi juga terhadap rilis data inflasi dan trade balance Indonesia pada hari ini," katanya dikutip Sabtu (4/4/2026).

Pergerakan Dolar Indeks

(ras/luc)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |