Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengejutkan publik dan komunitas internasional dengan pernyataannya bahwa batas terbesarnya dalam menggunakan kekuasaan sebagai pemimpin negara adalah "moralitas saya sendiri" dan tidak membutuhkan hukum internasional.
Ucapan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times, menyoroti keyakinannya bahwa tidak ada aturan global yang bisa menghambat langkah politik atau militernya, kecuali standar pribadinya sendiri.
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada Kamis (8/1/2026) waktu setempat, Trump berkata bahwa kendati hukum internasional memiliki peran, ia sendiri akan menjadi penentu kapan aturan tersebut berlaku bagi Amerika Serikat.
"Ya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang bisa menghentikan saya," ujar Trump. "Saya tidak butuh hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti orang."
Ketika didesak apakah pemerintahannya harus menaati hukum global, Trump menjawab, "Saya melakukannya, tetapi tergantung apa definisi Anda tentang hukum internasional."
Dari Greenland hingga Taiwan
Trump juga menegaskan pandangannya mengenai pentingnya kepemilikan penuh atas wilayah strategis seperti Greenland dalam wawancara tersebut. Ia beralasan kepemilikan penuh lebih efektif daripada hanya perjanjian atau pakta militer.
"Kepemilikan itu sangat penting, karena itu memberikan sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya melalui kontrak atau traktat," katanya sambil membahas opsi-opsi kebijakan luar negeri yang tengah dipertimbangkan pemerintahannya.
Isu Greenland sendiri tengah menjadi sorotan karena Trump telah menyatakan niatnya untuk "menguasai" wilayah Arktik yang kaya sumber daya itu secara penuh, bukan hanya melalui perjanjian militer yang sudah ada dengan Denmark, sesuatu yang menimbulkan kecaman dari sejumlah negara sekutu.
Trump juga kembali membela serangan dan operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penggulingan Presiden Nicolas Maduro. Trump mengeklaim bahwa Maduro telah mengirim anggota geng ke Amerika Serikat dan menggambarkan aksi Washington sebagai respons terhadap ancaman nyata.
"Ini adalah ancaman nyata ... Anda tidak melihat orang-orang membanjiri China. Anda tidak melihat obat-obatan terlarang membanjiri China. Anda tidak melihat semua hal buruk yang kita alami. Anda tidak melihat penjara Taiwan dibuka dan orang-orang membanjiri China," ujar Trump, membandingkan situasi di Venezuela dengan ancaman yang mungkin timbul dari China atau Rusia.
Trump juga berbicara tentang China dan Taiwan, mengatakan bahwa ia telah menyampaikan kekhawatirannya kepada Presiden China Xi Jinping terkait potensi agresi Beijing terhadap Taiwan.
"Itu terserah dia, apa yang akan dia lakukan. Tetapi saya mengatakan kepada dia bahwa saya akan sangat tidak senang jika dia melakukannya dan saya tidak berpikir dia akan melakukannya. Saya berharap dia tidak melakukannya," kata Trump.
Ia menegaskan bahwa ia yakin Xi tidak akan mengambil tindakan tersebut selama masa jabatannya sebagai presiden.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











