Drama AS vs Venezuela di Awal Tahun: Investor Perlu Panik atau Santai?

1 day ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam, bursa saham hijau sementara rupiah melemah
  • Wall Street pesta pora di tengah krisis Venezuela
  • Krisis di Venezuela serta data ekonomi dalam negeri akan menjadi penggerak pasar kemarinkemarin

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada awal pekan ini. Bursa saham menguat sementara rupiah tertekan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pekan ini, Senin (5/1/2026) di zona hijau. Indeks menguat 111,06 poin atau melesat 1,27% ke level 8.859,19 pada akhir perdagangan sesi kedua.
Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru yang dicatatkan IHSG.

Sebanyak 446 saham naik, 246 turun, dan 114 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarinkemarin tergolong ramai atau mencapai Rp 30,32 triliun, melibatkan 70,25 miliar saham dalam 4,01 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.194 triliun atau nyaris mencapai US$ 1 miliar.

Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 38,87 miliar kemarin.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor energi dan barang baku. Sedangkan koreksi paling dalam kemarinkemarin dicatatkan oleh sektor properti.

Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG termasuk BYAN (PT Bayan Resources Tbk), BRMS  (PT Bumi Resources Minerals Tbk), BUMI (PT Bumi Resources Tbk),  TLKM (PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk), dan AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk).  Sedangkan pemberat utama kinerja indeks hari ini termasuk DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk), CUAN (PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk), BMRI (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), GOTO (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk), dan BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk).

Beralih ke pasar valas, mata uang garuda berbalik melemah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan pertama pekan ini, Senin (5/1/2026), seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat serangan militer AS ke Venezuela pada akhir pekan lalu.

Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda bertengger di level Rp16.735/US$ atau melemah 0,12% pada penutupan perdagangan sore ini. Hal ini sekaligus membalikan posisi rupiah ketika berhasil dibuka pada level Rp16.700/US$ atau menguat 0,09% di pembukaan pagi nya.

Penguatan dolar AS di pasar global terjadi seiring meningkatnya selera investor terhadap aset safe haven, setelah eskalasi geopolitik memanas akibat serangan militer AS ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Ketidakpastian geopolitik ini mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah. Namun di saat yang sama, pelaku pasar global juga mulai mengalihkan fokus ke rangkaian data ekonomi penting AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor stagnan di 6,12%.

Read Entire Article
| | | |