Dulu Sering Gagal-Ditipu, Pengusaha Muda Sukses Hasilkan Ratusan Juta

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Darah pengusaha mengalir di dalam badan Eric Sinatra. Pemuda berusia 32 tahun tersebut telah menghabiskan separuh usianya untuk menjadi pelaku usaha UMKM. Mulai dari usaha buku tahunan sekolah hingga saat ini penyedia peralatan berbahan dasar stainless steel.

Eric bercerita sejak SMA dia sudah memiliki usaha buku tahunan dan fotografer. Kemudian membeli waralaba ayam goreng yang dikembangkan di daerah Bogor hingga saat ini di bidang manufaktur. Ia mengatakan bahwa tidak pernah menjadi karyawan dan selalu wirausaha karena sudah menjadi tradisi dalam keluarganya.

"Kerja sama orang ga pernah. Langsung dari SMA pun di sekolah gue usaha tuh fotografer buku tahunan. Jadi jadi bisnis juga. Jadi emang udah jiwanya ya," kata Eric kepada CNBC Indonesia dikutip Minggu (30/11/2025).

Menariknya, Eric ide usaha manufaktur stainless steel ini berawal dari meja dapur di warung waralabanya yang memakai kayu sehingga terkesan tidak higienis. Kemudian, dirinya membeli meja dapur stainless steel di pasaran. Tapi harganya tergolong mahal dengan kualitas yang rendah.

Oleh karena itu dirinya kemudian belajar untuk membuat meja dapur dari baja anti karat itu. Setelah puas, kemudian dikembangkan menjadi usahanya sendiri.

"Sebenarnya sih kalau latar belakang main stainless steel itu karena dulu di Pak Gembus, Bogor itu pake meja itu meja kayu. Iya. Nah jadi pengen lah pake stainless steel. Beli yang di pasaran, ternyata yang di pasaran Rp700-800 ribu tuh cepat penyok. Dan dari situ baru coba-coba buat sendiri sih pakai sendiri. Dari situ baru sampe sekarang ya stailess steel," jelasnya.

Meja Stainless Steel oleh EricFoto: CNBC Indonesia
Meja Stainless Steel oleh Eric

Pengalaman sebagai pemilik usaha yang sudah terasah menjadikannya suami yang penuh support kepada istri yang juga empat tahun kebelakang menjadi wirausaha.

"Jadi tuh udah tahu setiap bulan masuk duit gitu. Nah pas mau terjun ke bisnis itu tuh aku kayak takut gitu loh. Ih gila ya ada yang mau beli barang gue gak ya kayak gitu kan. Kalau enggak laku ini barang-barang mau dikemanain. Terus apalagi investasi di keramik kan enggak kecil ya. Kayak hanya untuk tungkunya aja udah Rp35 juta sendiri gitu," sahut Mekar istri Eric.

"Nah yang mendorong aku banget tuh si Erik. Udah bisa, udah tenang aja bisa ntar aku aturin gitu. Udah tunggu 35 yaudah gak apa-apa aku bayarin dulu kayak gitu-gitu. Terus aku kan gak bisa bawa mobil ya. Jadi kayak misalnya aku ada belajar kemana-mana kayak gitu tuh Erik yang anter," sambung Mekar.

Secara spesifik, Eric menerima pesanan custom sesuai dengan design pelanggan. Namun, kebanyakn pesanan berupa maja dapur, kabinet dapur, peralatan dapur, sink dan lainnya dengan beragam grade. Proses produksi dikerjakan di bengkelnya dengan dibantu beberapa pegawai. Pasarnya adalah individu, restoran, hingga pabrik.

Bahkan Eric berperan sebagai supplier peralatan dapur dan wadah makanan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengatakan bahwa permintaan dari SPPG ke depan akan prospektif seiring dengan target jumlah penerima MBG yang meningkat signifikan tahun depan.

Sebagai informasi, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan target 82,9 juta penerima menfaat program MBG tercapai di bulan Februari 2026. Target ini mundur dari yang dipatok sebelumnya di Desember 2025.

"Kita usahakan, ya selambat-lambatnya Februari lah. Tapi kita yakin kita masih bisa kejar tergantung intensitas gangguan yang terjadi, karena sekarang tidak hanya di darat, di udara pun kita sudah mulai di ganggu," katanya saat ditanya wartawan, di Kompleks Istana Kepresidenan, dikutip Minggu (30/11/2025).

Namun, ia mengatakan bahwa tantangan terbesarnya adalah masuknya produk impor dari China dengan harga yang super murah. Sehingga dapat menganggu permintaan barang buatan dalam negeri, termasuk Eric.

"Cuman balik lagi kita sayangnya sama China lagi ya. Ya, balik lagi sayangnya sama China lagi. Agak susah sih. Kayak dulu empernya aja, tempat wadahnya aja itu Rp120.000. China sekarang turun sampai di Rp60.000," keluhnya

Ia berharap, Pemerintah dapat memproteksi usaha peralatan dari dapur yang juga sebagai penunjang MBG dari barang impor murah. Sehingga UMKM seperti dirinya bisa memaksimalkan potensi dari adanya MBG.

"Harusnya sih lihat produk sendiri lah. Karena membantu UMKM Indonesia sendiri kan," permintaan Eric.

Meja Stainless Steel oleh Eric 2Foto: CNBC Indonesia
Meja Stainless Steel oleh Eric 2

Harapan Eric lainnya adalah peningkatan permintaan dari MBG nantinya juag diiringi dengan pelayanan kepada UMKM penunjang seperti Eric. Uatamya adalah terkait pembayaran kepada vendor agar lancar karena sebagai modal operasional dan produksi.

Terkait barang impor dari China yang masih menghantui pasar Indonesia, Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Menteri Perdagangan dalam mencari solusi dari pasar domestik, utamanya UMKM yang tergerus oleh barang impor murah.

"Tadi pembicaraan saya dengan Pak Mendag, langkah awalnya kita akan menentukan HPP. Jadi, HPP beberapa produk-produk. Nanti kita tentukan dulu list nya dulu," terangnya saat ditemui di Bank Indonesia (28/11/20205).

Lebih lanjut, Maman menerangkan ada 10 produk prioritas yang disiapkan untuk diproduksi oleh UMKM dalam melawan produk impor murah dan menciptakan pasar yang lebih sehat.

"Ada 10 item produk misalnya. Yang ini memang diproduksi oleh UMKM kita. Dan kita bisa menyiapkan, bisa memproduksinya," tutur Maman.

Selanjutnya, dari list tersebut, nantinya pemerintah menetapkan HPP yang berlaku bagi produk impor tersebut.

"Nah, itu nanti kita akan list. Lalu mungkin solusi langkah ininya adalah kita tentukan HPP. Jadi, untuk produk-produk yang dari luar, dari Cina, HPP-nya kita batasin. Jadi, dia tidak bisa menjual di bawah itu," kata Maman.

Di sisi lain, Ekonom Pt Permata Bank Tbk menyoroti pentingnya peran Pemerintah dalam mendukung dan memproteksi UMKM di Indonesia.

"Terkait kebijakan, saya melihat pemerintah perlu memperkuat tiga dukungan utama: pembiayaan yang inklusif, peningkatan kapasitas, dan perluasan pasar," ucapnya kepada CNBC Indonesia melalui pesan singkat (17/11/2025).

"Dari sisi pembiayaan, Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM sudah menjadi langkah penting karena mewajibkan bank dan lembaga keuangan nonbank untuk memberikan kemudahan akses pembiayaan UMKM dengan prinsip mudah, tepat, cepat, murah, dan inklusif. Implementasinya perlu diterjemahkan menjadi skema khusus yang sesuai karakter usaha UMKM dan ultra mikro, misalnya pembiayaan berbasis klaster usaha, pembiayaan rantai nilai kepada petani dan nelayan yang terhubung dengan pembeli besar, pemanfaatan data transaksi digital untuk penilaian kelayakan, serta penetapan biaya pembiayaan yang wajar."

Dukungan kedua adalah penguatan kapasitas dan pendampingan. Pembiayaan tanpa peningkatan kemampuan manajerial, pengelolaan keuangan, dan penguasaan teknologi sering berakhir pada kredit bermasalah dan usaha yang tidak berkelanjutan.

Dukungan ketiga adalah kebijakan yang benar-benar membuka pasar bagi UMKM dan ultra mikro. Pemerintah pusat dan daerah perlu konsisten mengalokasikan porsi belanja barang dan jasa untuk diserap dari UMKM, termasuk melalui pengadaan barang pemerintah yang ramah bagi usaha kecil, misalnya paket dengan nilai kontrak yang terjangkau, persyaratan administrasi yang sederhana, dan pendampingan dalam proses tender.

Di luar itu, kebijakan industrial juga perlu mendorong keterhubungan antara perusahaan besar, termasuk BUMN, dengan UMKM sebagai pemasok, penyedia jasa pendukung, maupun mitra pemasaran.

"Dengan cara ini, kontribusi UMKM terhadap ekspor yang saat ini masih sekitar belasan persen dapat didorong naik secara bertahap karena UMKM menjadi bagian dari rantai pasok produk yang menembus pasar regional dan global," ucap Josua.

Di sisi lain, BCA Chief Economist, David Sumual menegaskan bahwa UMKM memegang peran penting dan strategis dalam pertumbuan ekonomi inklusif, khususnya di daerah terpencil, karena mampu menciptakan lapangan kerja, mendistribusikan pendapatan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Telebih lagia danya tren anak muda seperti Eric yang menjadi pengusaha dapat menjadi booster bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kemudian hari.

"Tren anak muda menjadi entrepreneur merupakan katalis positif yang menjanjikan. Anak muda cenderung lebih adaptif terhadap teknologi (AI, e-commerce, media sosial), lebih kreatif dan inovatif, sehingga bisa mengakselerasi UMKM "naik kelas". Peningkatan minat ini juga bisa membantu mendorong rasio kewirausahaan nasional," ujarnya kepada CNBC Indonesia melalui pesan singkat (17/11/2025).

Menurutnya, tantangan terbesar bagi UMKM yang dijalankan oleh anak muda adalah soal permodalan, akses pasar, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, menurutnya perbaikan mencakup akses pembiayaan inklusif seperti perluasan KUR dan subsidi bunga sektor padat karya untuk ultramikro, pelatihan SDM dan digitalisasi, serta memperluas akses pasar ekspor dan keberlanjutan sangat perlu dilakukan.

Terakhir, pesan Eric sebagai pengusaha harus tahan banting dan jangan pedulikan perkataan orang lain. Karena mereka yang lihat dari luar hanya tau enaknya tanpa memedulikan perjuangan di baliknya.

"Orang nggak lihat itu adalah kehilangan-kehilangan itu. Kegagalan-kegagalan itu kayak misalnya aku bakar keramik waktu awal-awal habis berapa tabung gas itu. Gagal semua. Gagal semua, nggak ada yang bisa dijual. Itu kan orang nggak melihat itu. Yang orang lihat kan hanya display yang ada di atas meja. Tapi yang tidak ter-display itu sangat banyak,"katanya.

Eric pun mengatakan kalau dirinya sudah mengalami getirnya menjadi pengusaha seperti gagal usaha hingga ditipu. Tapi hal itu yang kemudian membawanya berada di posisi saat ini dengan omset ratusan juta rupiah per tahun.

"

(ras/ras)

Read Entire Article
| | | |