Dunia di Ambang Perang Nuklir, AS Curiga China Mau Macam-Macam

7 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menyoroti lonjakan kemampuan nuklir China setelah berakhirnya Perjanjian New START, satu-satunya kesepakatan yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir antara Washington dan Moskow. Berakhirnya perjanjian tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya risiko perlombaan senjata nuklir global.

Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, Christopher Yeaw, mengatakan New START memiliki kelemahan mendasar karena tidak mencakup China, yang dinilai sedang memperluas arsenal nuklirnya secara cepat dan tidak transparan.

"New START tidak memperhitungkan peningkatan senjata nuklir China yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan," kata Yeaw dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, seperti dikutip The Guardian, Selasa (24/2/2026).

Menurut Yeaw, Beijing secara sadar memperluas persenjataan nuklirnya tanpa memberikan kejelasan mengenai tujuan akhir kebijakan tersebut.

"Terlepas dari klaimnya, China telah memperluas arsenal nuklirnya secara besar-besaran tanpa transparansi atau indikasi apa pun mengenai niat akhirnya," ujarnya.

Perjanjian New START sendiri resmi berakhir pada 5 Februari lalu. Kesepakatan ini membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan. Data International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) menunjukkan kedua negara saat ini memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir.

Washington menilai batasan dalam New START tidak lagi relevan, terutama karena dugaan pelanggaran oleh Rusia dan meningkatnya kemampuan nuklir China. Yeaw mengatakan Beijing berada di jalur untuk memiliki bahan fisil yang cukup bagi lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.

China membantah tudingan tersebut. Duta Besar China untuk Konferensi Perlucutan Senjata, Shen Jian, menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir.

"China dengan tegas menentang distorsi dan pencemaran kebijakan nuklirnya," kata Shen. "Kami tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir apa pun, dengan negara mana pun."

Shen juga menilai tidak adil dan tidak realistis jika China diharapkan bergabung dalam pembicaraan trilateral bersama AS dan Rusia, mengingat skala persenjataan nuklir Beijing jauh lebih kecil dibandingkan kedua negara tersebut.

Di sisi lain, AS kembali menuding China melakukan uji coba nuklir rahasia. Yeaw mengklaim data seismik dari Kazakhstan menunjukkan adanya ledakan bawah tanah berkekuatan 2,75 magnitudo pada 22 Juni 2020, yang diperkirakan setara dengan ledakan nuklir berdaya rendah.

China menolak tuduhan itu dan menyebutnya tidak berdasar. Shen menilai klaim tersebut digunakan Washington sebagai dalih untuk membuka kembali opsi uji coba nuklir oleh AS, yang sebelumnya disinggung oleh Presiden Donald Trump.

Laporan terbaru Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut tidak ditemukan bukti konklusif adanya ledakan nuklir. Analisis citra satelit juga tidak menunjukkan aktivitas mencurigakan di Lop Nur, lokasi uji coba nuklir bersejarah China di wilayah Xinjiang.

Berakhirnya New START menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade dunia tidak memiliki perjanjian yang membatasi penempatan senjata nuklir strategis. Situasi ini memperbesar kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan dan perlombaan senjata baru di tingkat global.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |