Ekonom CSIS Bagikan Resep Bikin Ekonomi RI Tahan Banting di 2026

1 day ago 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti Senior, Departemen Ekonomi, CSIS Deni Friawan memberikan resep agar ekonomi RI akan tahan guncangan pada 2026. Ia sendiri mengungkapkan ada empat tantangan dan tekanan yang dapat menciptakan instabilitas ekonomi dalam negeri pada 2026.

Adapun pertama, ada resiko global dan tekanan dari eksternal. Kemudian kedua, ada permasalahan fiskal dan moneter. Ketiga, terkait dengan lay off atau PHK dan pengangguran usia muda, pengangguran muda dan terdidik.

Deni melihat isu PHK dan pengangguran usia muda ini bisa membahayakan suatu waktu seperti kayak time bomb gitu. Selanjutnya yang terakhir, terkait dengan permasalahan volatilitas dari harga energi dan pangan.

Untuk menghalau risiko ini dan membuat ekonomi RI tahan guncangan, Deni mengungkapkan ada enam rekomendasi kebijakan yang dapat menjaga kondisi fiskal dan ekonomi Indonesia.

"Pertahankan kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana, dengan memprioritaskan pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar untuk menstabilkan ekspektasi di tengah guncangan eksternal dan risiko arus keluar modal," katanya saat acara Media Briefing: "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" pada Rabu (7/1/2026).

Kedua adalah meningkatkan pengumpulan pajak dan efisiensi pengeluaran untuk mempersempit defisit, sambil memperpanjang jatuh tempo utang dan mengurangi ketergantungan pada obligasi pemerintah jangka pendek yang mahal.

Ketiga, tingkatkan koordinasi kebijakan moneter-fiskal dengan menyelaraskan penerbitan obligasi, pembelian bank sentral, dan kebijakan suku bunga untuk menghindari jebakan kebijakan moneter, sambil menjaga independensi Bank Indonesia.

Selanjutnya, targetkan dukungan ke sektor-sektor dengan peningkatan PHK (sektor padat karya), perluas program pasar tenaga kerja aktif, dan percepat pelatihan ulang bagi kaum muda dan pekerja terdidik yang rentan terhadap pengangguran.

Kelima, memperkuat perlindungan sosial, diversifikasi sumber impor (impor bukanlah hal yang tabu), dan bangun cadangan strategis untuk mengelola volatilitas harga pangan dan energi, terutama menjelang Ramadhan dan selama guncangan iklim.

Terakhir, menggunakan periode harga energi yang lebih rendah untuk mereformasi subsidi dan mengalokasikan kembali pengeluaran ke arah investasi yang meningkatkan produktivitas dan inisiatif transisi hijau.

(ras/haa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |