Ekonomi Iran Tercekik Perang, Pengangguran Naik-Semua Serba Mahal

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga berbagai kebutuhan di Iran melonjak tajam seiring dampak perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Konflik berkepanjangan ini tak hanya memicu inflasi tinggi, tetapi juga menyebabkan jutaan pekerjaan hilang atau terhenti.

Pada awal pekan ini, harga makanan, obat-obatan, mobil, peralatan listrik, hingga produk petrokimia dilaporkan meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini diperparah oleh kombinasi salah urus domestik, serangan terhadap infrastruktur, sanksi Amerika Serikat, blokade laut, serta pemadaman internet hampir total yang telah berlangsung selama 64 hari di Teheran.

Nilai tukar mata uang Iran, rial, juga terpuruk ke level terendah sepanjang masa di pasar terbuka, yakni 1,84 juta rial per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan pelemahan tajam daya beli masyarakat.

Ketidakpastian pasar membuat aktivitas jual beli tersendat. Banyak pelaku usaha dan konsumen memilih menahan transaksi karena khawatir harga akan terus bergejolak dan pasokan barang tidak terjamin.

Sejumlah barang bahkan mengalami lonjakan harga ekstrem. iPhone 17 Pro Max 256GB yang dibanderol US$1.200 (sekitar Rp20,4 juta) di Amerika Serikat, kini dijual hampir 5 miliar rial atau sekitar US$2.750 (Rp46,75 juta) di Teheran. Beberapa toko bahkan menolak menjual produk tersebut karena ketidakpastian harga.

Sementara itu, mobil Peugeot 206 yang diproduksi lokal kini mencapai harga 30 miliar rial atau sekitar US$16.500 (Rp280,5 juta). Mobil impor semakin langka dan dijual hingga lebih dari lima kali lipat harga di negara tetangga seperti Uni Emirat Arab.

Media pemerintah mengakui adanya kenaikan harga harian di pasar otomotif, namun menyebut faktor "psikologis" dan praktik "harga palsu" oleh pedagang sebagai penyebab utama.

Di sisi lain, tekanan ekonomi sangat dirasakan masyarakat. Upah minimum bulanan saat ini kurang dari 170 juta rial atau sekitar US$92 (Rp1,56 juta), meski telah dinaikkan sekitar 60% sejak Maret lalu. Pemerintah juga memberikan subsidi kebutuhan pokok kurang dari US$10 per bulan per orang (sekitar Rp170 ribu).

"Anda melihat harga dan gaji, dan Anda melihat angka-angkanya tidak sesuai," ujar seorang warga Teheran yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (3/5/2026).

"Tidak banyak yang bisa Anda lakukan selain mengubah sedikit yang Anda miliki menjadi sesuatu yang tidak mengalami penyusutan nilai atau membeli sesuatu yang Anda butuhkan yang mungkin tidak mampu Anda beli nanti," tambahnya.

Pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian belum merinci jumlah pekerja yang kehilangan pendapatan. Namun, laporan menunjukkan banyak perusahaan, mulai dari sektor teknologi di Teheran hingga industri baja di Isfahan, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dalam pernyataan resminya, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan negara harus mampu mengalahkan musuh tidak hanya di medan militer, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan budaya.

Ia juga meminta perusahaan untuk menahan diri dari melakukan PHK. "Iran sedang menempuh jalan menuju puncak kemajuan dan perkembangan," katanya.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |