Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 May 2026 17:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal I-2026. Namun, di balik capaian tersebut, ada cerita menarik soal peran China yang semakin besar dalam menopang ekonomi domestik, sekaligus tantangan terhadap neraca berjalan Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39% yoy, sekaligus melampaui konsensus pasar yang dilakukan CNBC Indonesia di kisaran 5,4% yoy.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan 5,52% yoy. Kinerja ini terbantu adanya momentum Ramadan dan Lebaran, pergeseran waktu libur Idulfitri, serta keputusan pemerintah menahan harga BBM subsidi.
Selain konsumsi rumah tangga, dorongan besar juga datang dari belanja pemerintah.
Belanja pemerintah tercatat melesat 21,81% yoy yang utamanya didorong percepatan belanja program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Foto: BPS - distribusi dan pertumbuhan PDB menurut pengeluaran
China Jadi Salah Satu Penopang Ekonomi RI
Di tengah risiko perlambatan ekonomi global, China muncul sebagai salah satu penopang penting bagi ekonomi Indonesia.
Dalam laporan The Focal Point yang juga dirilis BCA, aliran investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) dari China masih menjadi salah satu sumber dukungan eksternal bagi Indonesia.
FDI ke Indonesia naik 5,2% yoy pada kuartal I-2026. Kenaikan ini terutama didorong oleh investor asal China. Sementara itu, komitmen investasi baru dari negara lain terlihat mulai mengering.
Kondisi ini menjadi penting karena pada saat yang sama investor asing justru mencatatkan arus keluar dari pasar keuangan domestik. BCA mencatat investor asing melepas sekitar US$3,47 miliar dari pasar saham dan obligasi Indonesia sepanjang tahun berjalan.
Dengan kata lain, ketika dana asing di pasar portofolio masih keluar, investasi langsung dari China justru masih membantu menjaga cerita pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BCA menilai investasi dari China dapat membantu proses industrialisasi Indonesia.
"FDI dari China dapat membantu proses industrialisasi Indonesia, karena mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja untuk setiap unit investasi dibandingkan FDI dari negara lain," tulis BCA dalam laporannya.
Berdasarkan perhitungan BCA, setiap US$1 juta FDI China menciptakan sekitar 18,4 lapangan kerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan FDI dari negara lain yang menciptakan sekitar 17,3 lapangan kerja per US$1 juta investasi.
Hal ini menjadi penting karena Indonesia masih menghadapi tantangan penyerapan tenaga kerja dan pendapatan rumah tangga yang belum sepenuhnya kuat. Dengan masuknya investasi China, ada peluang tambahan untuk menopang penciptaan lapangan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat.
Namun, BCA juga mengingatkan bahwa investasi China tidak otomatis membuat neraca pembayaran Indonesia menjadi lebih kuat. Pasalnya, jika perusahaan-perusahaan asing milik China semakin dominan, sebagian keuntungan berpotensi dikirim kembali ke negara asal dalam bentuk dividen (repatriasi).
Selain itu, ekspor yang dihasilkan juga belum tentu meningkat signifikan jika nilai tambah di dalam negeri tidak ikut diperkuat.
Selain dari sisi investasi, dukungan China juga terlihat dari arus impor barang murah ke Indonesia.
Di tengah pelemahan rupiah, masuknya barang impor murah dari China dapat membantu menahan kenaikan harga barang di dalam negeri. Kondisi ini membuat konsumen Indonesia masih bisa menikmati harga barang yang relatif lebih stabil.
Foto: BCA - The Focal Point - Chart 2
Namun, manfaat ini datang bersama risiko.
Barang impor murah dari China dapat memperberat tekanan terhadap industri manufaktur lokal. Perusahaan dalam negeri bisa semakin sulit bersaing dengan produsen China yang memiliki skala produksi lebih besar dan rantai pasok lebih efisien.
Jika kondisi ini berlanjut, produsen lokal berisiko semakin tersisih, sementara perusahaan milik China dapat mengambil porsi pasar domestik yang lebih besar.
Pemerintah Makin Lirik Pendanaan Yuan
Peran China juga terlihat dari sisi pembiayaan pemerintah.
BCA mencatat pemerintah Indonesia telah menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau dim sum bond untuk membiayai kebutuhan belanja negara. Instrumen ini menjadi menarik karena imbal hasil obligasi yuan relatif lebih rendah dibandingkan obligasi global.
Di saat yang sama, kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat. BCA mencatat yield acuan SBN naik 77,7 basis poin sejak awal tahun, seiring meningkatnya kebutuhan penerbitan utang.
Belanja pemerintah untuk subsidi dan kompensasi energi juga melonjak 266,5% yoy menjadi Rp118,7 triliun dalam tiga bulan pertama 2026. Kondisi ini membuat pemerintah mencari sumber pendanaan yang lebih murah, termasuk dari pasar obligasi China.
Foto: BCA - The Focal Point - Chart 3
BCA menilai, kondisi tersebut dapat mendorong pemerintah semakin aktif mencari dana dari pasar obligasi China.
"Penerbitan utang yang relatif lebih tinggi dapat mendorong pemerintah untuk terus memanfaatkan pasar obligasi China sebagai sumber pendanaan, yang sejauh ini masih relatif terisolasi dari tren kenaikan imbal hasil obligasi global," tulis BCA dalam laporannya.
Namun, penerbitan dim sum bond bukan tanpa risiko. Salah satu risiko utama adalah currency mismatch atau ketidaksesuaian mata uang.
Risiko ini muncul ketika pemerintah memiliki kewajiban dalam mata uang yuan, sementara penerimaan negara tidak seluruhnya dalam mata uang yang sama. Jika rupiah melemah terhadap yuan, biaya pembayaran utang berbasis yuan bisa ikut meningkat.
BCA mencatat defisit yuan Indonesia terus melebar dalam beberapa tahun terakhir. Pangsa impor Indonesia dari China naik menjadi 37,8% pada Maret 2026, dari 28,1% pada 2019.
Artinya, semakin banyak impor Indonesia yang dibayar dalam yuan. Sementara itu, ekspor komoditas Indonesia ke China sebagian besar masih dibayar dalam dolar AS.
Foto: BCA - The Focal Point - Chart 5
Dengan kondisi tersebut, penerbitan dim sum bond yang semakin besar bisa menambah risiko mismatch dan rollover, terutama jika pergerakan nilai tukar rupiah terhadap yuan tidak menguntungkan.
Tantangan Besar Ada di Neraca Berjalan
Di balik pertumbuhan ekonomi yang kuat, BCA juga menyoroti tekanan terhadap neraca berjalan Indonesia.
Dalam laporan lainnya, yakni Quarterly Economic Briefing, kenaikan konsumsi dan investasi pada kuartal I-2026 memang membantu mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, dorongan tersebut juga meningkatkan kebutuhan impor.
Ekspor Indonesia hanya tumbuh 0,9% yoy pada kuartal I-2026. Pertumbuhan ekspor terutama ditopang oleh ekspor jasa yang naik 9,11% yoy.
Sementara itu, ekspor barang hanya tumbuh tipis 0,17% yoy. Lemahnya ekspor barang terjadi karena adanya penurunan izin produksi untuk beberapa komoditas utama.
Di sisi lain, impor justru tumbuh lebih tinggi, yakni 7,18% yoy. Kenaikan impor ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan barang untuk mendukung pembangunan koperasi Merah Putih dan SPPG, termasuk impor bahan makanan dan peralatan.
"Kenaikan konsumsi dan investasi pada akhirnya membebani neraca transaksi berjalan Indonesia, karena kebutuhan impor meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor," tulis BCA dalam laporannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian dorongan pertumbuhan ekonomi masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.
Dengan kata lain, ketika konsumsi dan investasi meningkat, impor ikut naik lebih cepat. Akibatnya, neraca berjalan Indonesia berisiko semakin tertekan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439016/original/035157100_1765346343-jung_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429808/original/054554400_1764645012-000_32X43LN.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461719/original/099491300_1767433319-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5471129/original/050011600_1768278486-6.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5471328/original/098466900_1768283648-John_Herdman_-8.jpg)
