Ekonomi Tetangga Dekat RI Gawat, Bank Sentral Warning

1 day ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Sentral Thailand (Bank of Thailand/BoT) menilai perekonomian negaranya tengah menghadapi tekanan serius, salah satunya akibat penurunan daya saing yang berlangsung secara berkelanjutan. Kondisi ini berpotensi menekan kinerja ekspor, terutama di tengah kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (7/1/2026), BoT menyebut ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu masih dibayangi sejumlah tantangan struktural, mulai dari penguatan mata uang baht, tarif AS, tingginya utang rumah tangga, konflik perbatasan dengan Kamboja, hingga ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum awal Februari mendatang.

Menjelang forum kebijakan moneter, bank sentral memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada paruh kedua tahun lalu hanya mencapai 1,3% secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, ekspor tercatat tumbuh 9,1% pada periode yang sama.

BoT juga menegaskan bahwa risiko deflasi masih tergolong rendah. Ekspektasi inflasi jangka menengah dinilai tetap berada dalam kisaran target bank sentral, yakni 1% hingga 3%.

Namun demikian, penguatan nilai tukar baht disebut memperketat likuiditas, khususnya bagi eksportir kecil dan menengah. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan pengiriman barang ke luar negeri.

"Baht yang menguat membuat tekanan likuiditas semakin terasa bagi eksportir skala kecil dan menengah, dan ini mulai mempengaruhi volume pengiriman," ujar Wakil Gubernur Bank Sentral Thailand, Piti Disyatat, dalam Reuters Global Markets Forum.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Piti tetap optimistis terhadap prospek jangka pendek ekonomi Thailand. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan kembali positif pada kuartal IV-2025.

"Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat akan berada di wilayah positif, dan proyeksi pertumbuhan tahun lalu sebesar 2,2% masih dapat tercapai," pungkasnya.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |