Eropa Mendidih, Bisnis Ini Panen Cuan

16 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

20 July 2026 17:30

Jakarta, CNBC Indonesia- Menembus 40 derajat celcius, gelombang panas di Eropa kini berubah menjadi peluang bisnis.

Rumah tangga berbondong-bondong membeli pendingin ruangan, pemerintah menyiapkan belanja infrastruktur yang lebih tahan terhadap suhu ekstrem, dan perusahaan penyedia material konstruksi hingga jaringan listrik mulai mendapat pasar baru.

Perubahan tersebut terjadi seiring suhu ekstrem yang semakin sering muncul. Menurut Copernicus Climate Change Service, gelombang panas kini hadir lebih sering, berlangsung lebih lama, dan mencapai intensitas yang lebih tinggi dibanding beberapa dekade lalu.

World Weather Attribution memperkirakan hampir separuh dari 854 kota di Eropa telah atau akan memecahkan rekor tekanan panas (heat stress) sepanjang tahun ini. Di Prancis, suhu bahkan mencapai 44,3 derajat Celsius, tertinggi dalam sejarah negara tersebut.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga menyebut Eropa memanas lebih dari dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Perubahan pola cuaca tersebut mulai mengubah perilaku masyarakat.

Kepemilikan pendingin ruangan di Eropa selama ini tergolong rendah. International Energy Agency (IEA) memperkirakan penetrasi AC di kawasan tersebut baru sekitar 20%, jauh di bawah Asia maupun Amerika Serikat.

Situasi itu berubah ketika suhu di sejumlah wilayah Jerman melampaui 40 derajat Celsius dan beberapa negara menutup sekolah akibat cuaca panas.

 Permintaan Air Conditioner Naik

Reuters melaporkan produsen elektronik Asia menikmati lonjakan permintaan. Samsung Electronics mencatat pertumbuhan penjualan dua digit pada semester pertama 2026 di Italia, Prancis, dan Spanyol. LG Electronics menyatakan lini produksi AC di Korea Selatan telah beroperasi penuh sejak April untuk memenuhi permintaan pasar domestik dan ekspor.

Permintaan terbesar datang kepada Midea asal China. Perusahaan tersebut menyebut penjualan AC portable PortaSplit melonjak setelah gelombang panas pada akhir Mei. Penjualan melalui kanal e-commerce di Jerman naik sekitar 37% dibanding tahun sebelumnya, sedangkan pengiriman ke Spanyol dan Prancis meningkat 108%.

Model portable buatan Midea banyak diminati karena dapat dipasang tanpa pengeboran dinding, sehingga sesuai dengan aturan bangunan bersejarah di banyak kota Eropa.

Mengutip media China Global Times, penjualan Midea di Prancis, Jerman, Inggris, dan Spanyol meningkat lebih dari 70% secara tahunan. TCL Technology bahkan mengklaim penjualan AC di Prancis melonjak lebih dari 300%, sementara Gree Electric Appliances menyebut sebagian besar pembelinya merupakan pengguna AC pertama.

Gelombang panas juga menguntungkan Thailand sebagai salah satu basis produksi pendingin ruangan dunia. Ekspor AC Thailand ke Eropa pada Mei naik 41,3% menjadi US$130,1 juta.

Selama Januari-Mei 2026 nilainya mencapai US$696,8 juta, naik 16,5% dibanding periode sama tahun lalu. Produksi AC Thailand pada Mei juga tumbuh 20%, ketika output manufaktur nasional sedang melemah.

Orang-orang mendinginkan diri di Air Mancur Trocadero di sebelah Menara Eiffel saat suhu meningkat selama gelombang panas yang melanda sebagian besar negara, di Paris, Prancis, 22 Juni 2026. (REUTERS/Abdul Saboor)Orang-orang mendinginkan diri di Air Mancur Trocadero di sebelah Menara Eiffel saat suhu meningkat selama gelombang panas yang melanda sebagian besar negara, di Paris, Prancis, 22 Juni 2026. (REUTERS/Abdul Saboor) Foto: Orang-orang mendinginkan diri di Air Mancur Trocadero di sebelah Menara Eiffel saat suhu meningkat selama gelombang panas yang melanda sebagian besar negara, di Paris, Prancis, 22 Juni 2026. (REUTERS/Abdul Saboor)

Belanja Infrastruktur

Perubahan yang lebih besar terjadi pada belanja infrastruktur. Reuters menilai fokus investasi di Eropa mulai bergeser. Selama bertahun-tahun, belanja iklim didominasi proyek dekarbonisasi seperti pembangkit energi terbarukan, kendaraan listrik, dan baterai. Kini perhatian mulai mengarah pada ketahanan infrastruktur terhadap suhu ekstrem.

Komisi Ekonomi PBB untuk Eropa (UNECE) memperingatkan jalan raya, rel kereta, jembatan, hingga jaringan listrik semakin rentan terhadap kerusakan akibat panas.

Aspal konvensional lebih mudah melunak saat suhu tinggi sehingga meningkatkan kebutuhan polymer-modified bitumen. Reuters menyebut TotalEnergies dan Shell memiliki portofolio material jalan yang dirancang menghadapi tekanan termal tinggi.

Di sektor konstruksi, Heidelberg Materials, Holcim, dan Sika memasok beton berkinerja tinggi, sealant, serta bahan kimia konstruksi yang mampu memperpanjang umur infrastruktur.

People queue to use a water fountain in Buttes Chaumont park, as temperatures reached up to 35 degrees Celsius, during a period of hot weather in Paris, France, May 25, 2026. REUTERS/Tom NicholsonPeople queue to use a water fountain in Buttes Chaumont park, as temperatures reached up to 35 degrees Celsius, during a period of hot weather in Paris, France, May 25, 2026. REUTERS/Tom Nicholson Foto: REUTERS/Tom Nicholson

Belanja juga mengalir ke sektor transportasi rel. Vossloh, Pandrol, dan voestalpine Railway Systems memasok sistem pengikat rel dan bantalan beton yang dirancang untuk mengurangi risiko deformasi akibat pemuaian logam ketika suhu meningkat.

Jaringan listrik menghadapi tantangan serupa. Konsumsi listrik melonjak karena penggunaan pendingin ruangan, sementara kabel transmisi harus tetap beroperasi dalam suhu tinggi. '

Reuters mencatat Prysmian, Nexans, dan NKT berada dalam posisi yang diuntungkan seiring proyek penguatan jaringan listrik di Eropa. Operator listrik Prancis RTE bahkan berencana membangun sekitar 45.000 kilometer jaringan transmisi dan distribusi hingga 2030.

Sementara itu, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) belum tentu memperoleh keuntungan langsung dari suhu ekstrem.Panel surya memang menghasilkan listrik pada siang hari ketika permintaan listrik sedang tinggi, namun efisiensinya turun ketika suhu panel meningkat.

Kondisi tersebut membuat investasi pada sistem penyimpanan energi, penguatan jaringan listrik, serta teknologi pendingin menjadi lebih penting dibanding sekadar penambahan kapasitas panel surya.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |