Lembang, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan hasil performa mesin kendaraan yang menggunakan bahan bakar biodiesel 50% atau B50. Berdasarkan uji coba yang dilakukan, kualitas B50 tercatat memiliki kandungan air yang berada jauh di bawah ambang batas maksimum yang ditetapkan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan rincian parameter teknis dari hasil pengujian laboratorium dan lapangan. Salah satu hasilnya, angka kandungan air dalam campuran B50 menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas mesin diesel selama masa uji coba jalan.
"Ini yang tadi uji water content sudah keluar angkanya, 208,81 (ppm). Itu berarti di bawah 300 ppm. Lebih bagus karena lebih rendah lebih bagus. Kalau lebih banyak air itulah yang sering disebutkan (mengganggu) performa mesin. Jadi kita tekankan kandungan air itu makin sedikit makin sedikit," ungkapnya di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, dikutip Rabu (22/4/2026).
Memang, pemerintah tengah memperketat spesifikasi teknis B50 dibandingkan program yang sudah berjalan saat ini yakni B40. Parameter monogliserida ditekan menjadi maksimal 0,47% massa dan stabilitas oksidasi ditingkatkan menjadi minimal 900 menit untuk memastikan performa mesin tetap terjaga meski persentase campuran nabati meningkat.
"Jadi persyaratan ke badan usaha bahan bakar nabatinya itu kita syaratkan seperti itu agar performanya bagus. Pastinya ditingkatkan karena performanya ini kan kita uji juga, makanya kita tetapkan spesifikasi B100-nya itu jauh lebih bagus," jelas Eniya.
Selain stabilitas mesin, penggunaan B50 terbukti mampu menurunkan kadar sulfur dalam bahan bakar hingga 50%. Dengan hilangnya separuh kandungan sulfur tersebut, kualitas emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermesin diesel diklaim mulai mendekati standar lingkungan Euro-4.
"FAME ini berfungsi untuk menurunkan sulfur juga. Kalau campurannya 50%, sulfurnya turun jadi 50%-nya. Gak ada kandungan sulfurnya kan terus dicampur menjadi hanya sekitar setengahnya. Kira-kira sih mendekati Euro-4," bebernya.
Terkait kondisi komponen dalam mesin, pihaknya melaporkan bahwa tidak ada kendala signifikan seperti penyumbatan yang mengharuskan penggantian filter secara cepat. Ditambah, konsumsi bahan bakar pada kendaraan yang diuji masih berada dalam rentang standar yang ditetapkan oleh masing-masing pabrikan.
"Nah ini performa mesin tadi dilaporkan tidak ada ganti filter. Tadi dari laporannya tim teknis itu sesuai. Jadi kalau klaim pabrikan 11 (km/liter), ini tadi 11,04, jadi angkanya sesuai klaim pabrikan malahan. Itu bisa kita pastikan," tandasnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi program B50 yang ditargetkan mulai Juli 2026 tersebut diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun. Selain aspek ekonomi, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat menambah lapangan kerja nasional dengan target penyerapan lebih dari 2,2 juta orang tenaga kerja.
Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 ditargetkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026. Adapun, hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel nasional sendiri telah mencapai 3,90 juta kilo liter atau sekitar 24,9% dari total alokasi awal tahun sebesar 15,65 juta kilo liter.
Secara teknis, spesifikasi B50 ditingkatkan untuk menjaga performa mesin, diantaranya dengan menekan kadar air menjadi maksimal 300 ppm dan monogliserida maksimal 0,47% massa. Stabilitas oksidasi juga diperkuat menjadi minimal 900 menit untuk menjamin kualitas bahan bakar tetap prima selama masa penyimpanan dan distribusi di berbagai wilayah.
Pemerintah menargetkan seluruh rangkaian uji coba di sektor otomotif rampung pada Juni 2026, sementara sektor strategis lainnya seperti alat berat dan perkeretaapian akan selesai bertahap hingga akhir tahun. Dengan hasil uji sementara yang menunjukkan performa andal dan aman, B50 siap memperkuat kemandirian energi nasional.
(pgr/pgr)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5145677/original/009587200_1740728790-20250228BL_HTS_Ratu_Tisha_20.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4890948/original/095825900_1720887428-Timnas_Indonesia_-_Ilustrasi_Logo_Timnas_Indonesia_dan_Timnas_Day_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5457703/original/089294400_1767016757-20251229IQ_Persija_vs_Bhayankara_FC-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427463/original/032259100_1764389259-Tomas_Trucha_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429073/original/001791400_1764572941-John_Herdman.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4400289/original/016439100_1681829426-000_334Q8WU.jpg)
