Geger! Eks Perwira Intelijen Timbun 300 Batang Emas di Kediamannya

15 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan perwira senior badan intelijen Amerika Serikat (AS), CIA, David Rush, terseret kasus besar. Ia dituduh menyimpan sekitar 300 batang emas senilai lebih dari US$40 juta atau sekitar Rp713 miliar (kurs Rp17.827/US$) di rumah pribadinya.

Tak hanya itu, pria yang disebut memiliki izin keamanan tingkat tinggi tersebut juga diduga mencuri dana pemerintah dan memalsukan latar belakang pendidikan maupun kariernya selama hampir dua dekade.

Mengutip dokumen pengadilan federal di Distrik Timur Virginia, Rush didakwa melakukan pencurian uang publik setelah penyidik menemukan emas batangan, uang tunai jutaan dolar AS, hingga koleksi jam tangan mewah di kediamannya.

Dalam penggerebekan pada 18 Mei lalu, agen federal menyita sekitar 300 batang emas senilai lebih dari US$40 juta atau setara Rp713 miliar. Selain itu, aparat juga menemukan sekitar US$2 juta tunai (sekitar Rp35,6 miliar) serta 35 jam tangan mewah, sebagian besar bermerek Rolex.

Menurut dokumen penyidikan FBI, Rush sebelumnya beberapa kali mengajukan permintaan dana operasional, termasuk mata uang asing dan emas batangan dalam jumlah fantastis untuk kebutuhan yang disebut sebagai "pengeluaran terkait pekerjaan".

Namun, saat penyelidik memeriksa ruang penyimpanan dekat kantornya, sebagian besar aset tersebut tidak ditemukan. Investigasi kemudian mengarah ke rumah pribadi Rush.

Surat pernyataan FBI menuduh Rush sengaja membawa sebagian dana dan emas yang diperuntukkan bagi kebutuhan pekerjaan ke rumahnya untuk keuntungan pribadi.

Kasus ini pertama kali mencuat setelah penyelidikan internal CIA menemukan dugaan pelanggaran hukum. CIA kemudian menyerahkan kasus tersebut kepada FBI untuk investigasi lebih lanjut.

"Setelah penyelidikan internal CIA mengidentifikasi potensi pelanggaran hukum, Direktur CIA John Ratcliffe merujuk informasi tersebut kepada FBI untuk penyelidikan penegakan hukum," demikian pernyataan bersama CIA dan FBI, seperti dikutip NBC News, Jumat (29/5/2026).

Mereka menambahkan, "FBI bekerja sama erat dengan mitra kami di CIA dan Departemen Kehakiman saat kami terus menyelidiki masalah ini secara menyeluruh. Kami berkomitmen untuk mengikuti fakta, memastikan akuntabilitas, dan menegakkan keadilan sesuai dengan hukum."

Kasus ini juga memicu sorotan terhadap sistem pemeriksaan keamanan pegawai intelijen AS. Pemerintah federal diketahui memiliki mekanisme pemantauan ketat terhadap pegawai yang memegang akses rahasia negara, termasuk pemeriksaan aktivitas keuangan, perjalanan, hingga catatan kredit.

Namun demikian, Rush diduga mampu lolos dari pengawasan selama bertahun-tahun.

Dokumen pengadilan mengungkapkan, Rush diduga memalsukan berbagai informasi dalam lamaran pekerjaannya. Ia mengklaim lulus dari Universitas Clemson dan memiliki gelar pascasarjana dari Rensselaer Polytechnic Institute.

Ia juga mengaku pernah mengikuti pelatihan di Sekolah Pilot Uji Angkatan Laut AS, menjadi pembimbing tesis di Air Force Institute of Technology, serta berstatus pilot Angkatan Laut.

Akan tetapi, seluruh klaim tersebut disebut tidak benar. Penyelidik menyatakan Rush tidak pernah lulus dari institusi yang disebutkan dan Administrasi Penerbangan Federal AS juga tidak menemukan lisensi pilot atas namanya.

Meski dokumen pengadilan tidak secara eksplisit menyebut lembaga tempat Rush bekerja, dua sumber yang mengetahui riwayat kariernya memastikan ia merupakan pejabat CIA.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |