Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai seiring turunnya harga minyak. Sejumlah kabar positif bahkan tidak mampu mendongkrak harga pasir hitam.
Merujuk Refinitiv, harga batu baar ditutup di posisi US$ 137,5 per ton pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Harganya melemah 0,5%.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya di mana harga batu bara sudah ambruk 1,4% dalam dua hari terakhir.
Melemahnya harga batu bara tak bisa dipisahkan dari turunnya harga minyak mengingat kedua komoditas saling mensubstitusi.
Pada perdaganagn kemarin, harga minyak sempat turun setelah laporan tersebut kesepakatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harga Minyak mentah WTI ditutup naik tipis 0,3% ke US$88,90 per barel, sedangkan Brent turun 0,6% ke US$93,71 per barel.
Kondisi China Masih Bikin Cemas
Bencana tambang batu bara di Shanxi diperkirakan akan menekan produksi batu bara China dalam jangka pendek, sehingga meningkatkan biaya bagi industri baja, pembangkit listrik, dan produsen bahan kimia.
Ledakan di tambang batu bara kokas tersebut memicu gelombang inspeksi mandiri di seluruh China serta penghentian operasi sejumlah tambang di provinsi itu.
Pemerintah pusat juga membentuk tim untuk meninjau standar keselamatan tambang secara nasional. Produksi batu bara di Shanxi, provinsi penghasil terbesar China dengan output 107 juta ton pada April, diperkirakan turun 8% pada Mei.
Namun, pembatasan produksi diperkirakan hanya berlangsung singkat, mungkin sekitar satu minggu. Analis China Coal Transportation and Distribution Association, Li Xiaolong, mengatakan pemerintah kemungkinan menghindari pembatasan besar-besaran menjelang periode puncak konsumsi listrik musim panas.
Shanxi memproduksi sekitar 1,3 miliar ton batu bara per tahun, atau sepertiga dari total produksi tahunan China. Setidaknya 109 tambang, yang mewakili hampir 10% total tambang di provinsi tersebut, dilaporkan telah dihentikan sementara operasinya, menurut Jefferies Financial Group, dikutip dari New Straits Times.
Wilayah sekitar lokasi kecelakaan merupakan pusat produksi batu bara kokas untuk industri baja. Harga batu bara kokas mencatat reaksi terbesar setelah kecelakaan tambang paling mematikan sejak 2009 itu. Kontrak berjangka batu bara kokas di Dalian melonjak 11% sepanjang pekan hingga penutupan perdagangan Rabu.
Meski demikian, dampaknya diperkirakan akan tertahan oleh meningkatnya pasokan dari Mongolia dan Rusia, pemasok utama batu bara kokas bagi China.
Gelombang Panas Musim Panas Dongkrak Permintaan
Konsumsi listrik di China selatan mencetak rekor tertinggi pada Senin, dengan puncak permintaan musiman datang sekitar satu bulan lebih cepat dari biasanya. Indeks harga listrik spot di Guangdong, pusat ekonomi China, melonjak 40% pekan ini.
Cuaca panas dan lembap akibat fenomena El Niño telah meningkatkan suhu serta memicu banjir dan pemadaman listrik di beberapa wilayah selatan China.
Kondisi ini menyulitkan upaya menjaga keamanan energi di tengah pengetatan inspeksi keselamatan tambang. Pemerintah juga memperingatkan risiko longsor yang lebih tinggi, yang dapat semakin menghambat aktivitas pertambangan.
Gangguan produksi batu bara yang lebih lama juga dapat berdampak ke berbagai industri terkait.
Upaya China menghidupkan kembali industri batu bara menjadi bahan kimia, sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, berpotensi terganggu.
Banyak kota besar di Asia mengalami suhu di atas normal lebih cepat dari biasanya, memicu lonjakan penggunaan AC dan meningkatkan tekanan pada pasokan listrik.
China, Jepang, India, Korea Selatan, hingga Asia Tenggara diperkirakan menghadapi gelombang panas berkepanjangan dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini mendorong utilitas meningkatkan penggunaan pembangkit listrik batu bara dan gas demi menjaga pasokan energi.
Lonjakan permintaan listrik berpotensi memperketat pasar batu bara dan gas global yang sebelumnya sudah terguncang akibat konflik AS-Israel melawan Iran.
Meski energi terbarukan terus berkembang, batu bara masih menyumbang sekitar 52% listrik Asia dan diperkirakan tetap menjadi tulang punggung energi kawasan dalam waktu dekat.
Investasi Batu Bara Naik
Laporan International Energy Agency's World Energy Investment memperkirakan investasi di sektor batu bara diperkirakan naik menjadi US$180 miliar tahun ini, meningkat 4% dibanding level 2025 dan menjadi yang tertinggi sejak 2012.
Ekonomi Asia diperkirakan menjadi investor terbesar di sektor batu bara. China menyumbang sekitar 70% belanja pasokan batu bara global, diikuti India yang investasinya melonjak tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir. Negara-negara Barat juga mulai kembali berinvestasi di batu bara.
Australia menggelontorkan investasi US$4,5 miliar untuk batu bara kokas yang digunakan dalam tanur tinggi industri baja pada 2026, terbesar kedua setelah China yang mencapai US$9,3 miliar.
Sementara itu, AS dan Kanada mempercepat proses persetujuan tambang batu bara baru sehingga antrean proyek di kawasan tersebut bertambah menjadi 15 tambang dengan kapasitas gabungan 34 juta ton per tahun.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)











