Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara langsung ambruk menyusul jatuhnya harga minyak mentah dunia.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (14/4/2026) ditutup di US$ 128,25 per ton. Harganya ambruk 2,9%.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 1,7% pada Senin.
Harga batu bara ambruk mengikuti harga minyak mentah meski ada kabar baik dari China.
Harga minyak mentah berbalik arah dari kenaikan sehari sebelumnya. Pada Selasa, kontrak berjangka West Texas Intermediate crude turun 7,87% menjadi US$91,28 per barel, sementara Brent crude melemah 4,6% menjadi US$94,79 per barel.
Harga batu bara tetap melemah meski ada kabar baik dari China dan Amerika Serikat (AS).
Administrasi Umum Bea Cukai China melaporkan importir di China meningkatkan pembelian batu bara sebesar 1,3% secara tahunan pada periode Januari-Maret menjadi 116,27 juta ton.
Secara nilai, pasokan batu bara ke China dari negara lain turun 6% pada periode tersebut menjadi US$8,73 miliar.
Pada Maret saja, China membeli 39,05 juta ton batu bara dari luar negeri, naik 26,2% dibanding bulan sebelumnya. Secara nilai, impor meningkat 30,6% menjadi US$2,94 miliar.
Rusia merupakan salah satu eksportir batu bara utama ke China. Berdasarkan Laboratorium Perdagangan Internasional dari Gaidar Institute, pangsa Rusia dalam pasokan batu bara ke China mencapai 29% tahun lalu.
Impor batu bara China naik 14,4% pada 2024, lalu turun 9,6% menjadi 490,27 juta ton pada 2025.
Sementara itu, U.S. Environmental Protection Agency (EPA) resmi mengusulkan pelonggaran regulasi federal terkait pembuangan dan pengelolaan limbah sisa pembakaran batu bara dari pembangkit listrik, yang juga dikenal sebagai coal ash.
Langkah ini membuka peluang pelonggaran kewajiban pembersihan lokasi pembuangan dan persyaratan pemantauan, baik di fasilitas PLTU batu bara yang masih beroperasi maupun yang sudah dinonaktifkan, ketika pemerintahan Donald Trump mendorong lebih banyak pembangkit tersebut kembali memproduksi listrik, sering kali bertentangan dengan prioritas pemilik, utilitas, dan komunitas setempat.
Perubahan yang diusulkan badan tersebut, diumumkan pada 9 April, mencakup pencabutan aturan legacy site surface impoundment, yang diterapkan pada masa pemerintahan sebelumnya dan memperluas kewajiban penutupan lokasi pembuangan serta pembersihan abu beracun di fasilitas lama maupun tidak aktif. Proposal baru EPA menyebut langkah ini bertujuan menghapus persyaratan regulasi tahun 2024 yang dianggap pemerintahan saat ini sebagai "tidak layak dan tidak praktis", yang menurut utilitas membebani produksi energi.
Revisi lainnya akan memberi otoritas negara bagian keleluasaan lebih besar untuk menyesuaikan pemantauan air tanah, tindakan korektif, penutupan kolam penampungan, dan kewajiban pasca-penutupan berdasarkan risiko serta kondisi spesifik tiap lokasi, termasuk penggunaan teknologi baru.
Ketentuan lain akan merevisi definisi pemanfaatan yang bermanfaat (beneficial use) dari residu batu bara untuk pembuatan material seperti semen dan papan gipsum, dengan menghapus kewajiban kajian lingkungan untuk penggunaan non-jalan raya lebih dari 12.400 ton residu tidak terbungkus di lahan. Selain itu, abu batu bara yang digunakan dalam produksi semen di kiln semen dan gipsum hasil desulfurisasi gas buang yang digunakan dalam papan dinding maupun pertanian akan dikecualikan dari regulasi federal.
EPA mengklaim revisi ini berpotensi mengurangi kebutuhan pembuangan limbah abu batu bara sekaligus "meningkatkan kekuatan, daya tahan, dan kemudahan pengerjaan semen dan beton yang dihasilkan."
Masa komentar publik akan berlangsung hingga 12 Juni, dengan dua webinar informasi pada 15 dan 16 April, serta sidang dengar pendapat publik dijadwalkan pada 28 Mei.
India Kelebihan Pasokan
Data sementara Ministry of Coal untuk Maret 2026 menunjukkan total produksi pada Maret mencapai 113,67 juta ton. Target tersebut setara 113,07% dari target bulanan sebesar 100,53 juta ton. Namun, angka ini menunjukkan penurunan tipis 4,09% dibanding produksi Maret 2025.
Produsen utama yakni Coal India Limited memproduksi 84,46 juta ton, setara 90,34% dari target bulanannya. Singareni Collieries Company Limited memproduksi 5,17 juta ton dan tambang captive dan lainnya menyumbang 24,05 juta ton, naik tipis 0,96% secara tahunan.
Untuk keseluruhan tahun fiskal 2025-26, total produksi batu bara mencapai 1,04 miliar ton, turun tipis 0,64% dibanding tahun fiskal 2024-25 yang sebesar 1,047 miliar ton.
(mae/mae)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102047/original/017122200_1737427568-safee-sali_30ea701.jpg)


