Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara semakin mengangkasa di tengah naiknya harga minyak dan persoalan pasokan.
Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), harga batu bara ditutup di posisi US$ 148,9 per troy ons. Harganya naik 0,78%.
Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 7,6% dalam enam hari beruntun.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 11 Juni 2026.
Kenaikan harga batu bara salah satunya ditopang harga minyak. West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik hampir 1% menjadi US$91,01 per barel, sementara Brent menguat sekitar 1% ke US$95,63 per barel.
Batu bara dan minyak adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Pasar batu bara termal di pelabuhan China menguat karena pasokan mengetat. Arus masuk batu bara melalui jalur kereta ke pelabuhan utara China masih rendah, sehingga pasokan di pelabuhan utama terbatas.
Namun, kenaikan harga menghadapi resistensi pembeli. Konsumen cenderung menahan pembelian karena harga sudah meningkat cukup cepat.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam situasi supply ketat tetapi permintaan belum cukup kuat untuk mendukung reli lebih jauh.
Sebelumnya, pada akhir Agustus, harga batu bara termal di pelabuhan utara China bahkan dilaporkan menembus level tertinggi dalam dua tahun, dan kenaikannya mulai merembet ke pasar batu bara impor.
Kenaikan harga di China terutama dipicu ketatnya pasokan di tingkat tambang. Sejumlah tambang masih menghadapi pembatasan produksi dan inspeksi keselamatan, sementara beberapa tambang juga telah menyelesaikan target produksi Agustus.
Gangguan cuaca turut membatasi aktivitas tambang dan distribusi. Pada saat yang sama, pasokan batu bara impor dari Indonesia juga terkendala keterlambatan persetujuan RKAB dan gangguan transportasi akibat kekeringan.
Permintaan sektor listrik memang mulai turun dari puncak musim panas, tetapi tetap cukup kuat. Konsumsi batu bara harian pembangkit di enam kelompok pembangkit pesisir utama China masih berada di atas 940.000 ton.
Selain pembangkit listrik, permintaan dari sektor kimia, bahan bangunan, dan industri ikut menopang pasar. Sejumlah perusahaan bahkan mulai melakukan restocking untuk kebutuhan musim dingin.
Namun, kenaikan harga dinilai belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan. Sentimen bullish dan keterbatasan pasokan menjadi faktor yang lebih dominan.
Pasokan diperkirakan mulai membaik memasuki September setelah sejumlah tambang kembali beroperasi dan gangguan cuaca mereda. Karena itu, keberlanjutan reli harga akan sangat bergantung pada seberapa kuat permintaan konsumen menyerap kenaikan harga.
Pasar Batu Bara Eropa Menguat, Krisis LNG dan Geopolitik Jadi Pemicu
Pasar batu bara termal Eropa juga menguat memasuki September 2026. Ketegangan geopolitik Timur Tengah, menipisnya cadangan gas, gangguan cuaca, serta pengetatan pasokan batu bara global kembali meningkatkan nilai batu bara sebagai sumber energi untuk menghadapi musim dingin 2026-2027.
Penguatan batu bara Eropa terutama dipicu pasar gas. Konflik Timur Tengah dan ketidakpastian di Selat Hormuz meningkatkan risiko pasokan LNG, sementara cadangan gas Eropa relatif rendah.
Penyimpanan gas Eropa hanya sekitar 62% penuh pada akhir Agustus, membuat kawasan tersebut rentan jika musim dingin datang lebih awal atau gangguan pasokan LNG berlanjut.
Kondisi ini membuat harga gas musim dingin meningkat dan membuat pembangkit batu bara kembali lebih ekonomis dibandingkan gas.
Pasokan Global Makin Ketat, Termasuk dari RI
Gangguan pasokan di Afrika Selatan dan Indonesia, ditambah meningkatnya permintaan China, memperketat persaingan batu bara di pasar seaborne.
Di Afrika Selatan, gangguan jalur kereta menuju Richards Bay menekan pasokan. Sementara itu, Pakistan menjadi pembeli terbesar batu bara Afrika Selatan pada pekan terakhir, sehingga persaingan dengan pembeli Eropa semakin ketat.
Di Indonesia, keterlambatan persetujuan produksi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta gangguan transportasi akibat rendahnya permukaan Sungai Barito turut membatasi pasokan.
China juga mengalami penguatan harga batu bara domestik akibat berkurangnya ketersediaan di pelabuhan utara.
Kenaikan harga di Eropa membuat batu bara dari Kolombia dan Amerika Serikat kembali kompetitif.
Ekspor batu bara AS naik 19,1% secara tahunan menjadi 24,4 juta ton pada kuartal II-2026. Harga batu bara New Orleans 6.000 NAR juga melonjak dari US$85,5 menjadi US$92,9/ton pada 26 Agustus-1 September.
Dengan demikian, harga batu bara Eropa berpotensi bersaing dengan pasar Asia untuk mendapatkan pasokan tambahan.
Prospek batu bara Eropa kini sangat bergantung pada cadangan gas, pasokan LNG Timur Tengah, suhu musim dingin, pembangkit energi terbarukan, dan ketersediaan batu bara global.
Jika musim dingin ringan dan pasokan LNG membaik, kenaikan harga batu bara bisa mereda. Namun, musim dingin yang dingin dan minim angin, ditambah gangguan LNG berkepanjangan, dapat kembali mendorong permintaan batu bara.
Kondisi ini menunjukkan pasar batu bara Atlantik dan Asia semakin terhubung. Gangguan LNG di Timur Tengah dapat merembet ke harga gas Eropa, meningkatkan keekonomian pembangkit batu bara, menarik pasokan dari AS dan Kolombia, serta memperketat persaingan dengan pembeli Asia.
(mae/mae)



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5302683/original/090005400_1754032598-Latihan_Persija_Jakarta-15.jpg)

