Harga Batu Bara Terbang ke Langit: Naik 6 Hari Beruntun, Tembus US$147

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terbang ke posisi tertinggi dalam dua bulan. Kenaikan harga minyak dan persoalan pasokan membuat reli berlanjut.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Selasa (1/9/2026) tebang ke US$ 147,75 per ton. Harganya melesat 2,6%.

Kenaikan ini membawa harga batu bara ke posisi tertinggi sejak 11 Juni 2026 atau dua bulan lebih.

Kenaikan harga juga memperpanjang reli batu bara yang terus menguat 6,8% dalam enam hari beruntun.

Lonjakan harga batu bara salah satunya ditopang harga minyak. Penguatan juga didorong tingginya permintaan energi global di tengah kekhawatiran pasokan yang masih berlanjut.

Harga minyak brent ditutup menguat 4,6% ke US$ 94,65 per barel sedangkan WTI naik 0,6% ke US$ 90,77 per barel pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Dalam dua hari, Harga minyak WTI dan brent melonjak 6%.

Minyak dan batu bara adalah dua komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Agen Energi Internasional (IEA) memperkriakan batu bara masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar dunia, dengan produksi hampir 11.000 TWh pada 2026. Lonjakan kebutuhan listrik juga memperlambat upaya menggantikan batu bara dengan energi terbarukan.

IEA memperkirakan batu bara tetap menjadi sumber pembangkit listrik terbesar hingga 2030, sementara belum ada sumber energi alternatif yang mampu menggantikannya dalam skala yang sama.

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah turut memperkuat prospek permintaan batu bara karena mengetatkan pasokan LNG global dan mendorong harga energi.

Di India, sebanyak 45 PLTU dilaporkan memiliki stok batu bara yang sangat rendah. Kondisi ini terjadi ketika permintaan listrik meningkat di tengah El Niño kuat, sementara pasokan batu bara terganggu hujan monsun.

Produksi batu bara Coal India Limited turun 5,7% secara tahunan menjadi 47,5 juta ton (MT) pada Agustus 2026, dari 50,4 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Namun, pasokan batu bara justru naik 5,5% menjadi 60,6 juta ton.

Secara kumulatif April-Agustus 2026, produksi Coal India turun 4,5% menjadi 267,5 juta ton, sementara pasokan meningkat 6,7% menjadi 322,9 juta ton.

Batu bara masih menjadi sumber utama listrik India. Pembangkit berbasis batu bara dan lignit menyumbang 69,54% listrik yang dipasok India pada April-Juni 2026.

Meski produksi menurun, Kementerian Batu Bara India menyatakan pasokan untuk sektor listrik masih mencukupi. Per 4 Agustus, sekitar 148 juta ton batu bara tersedia di PLTU, tambang, dan dalam perjalanan, cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 62 hari.

Ekspor batu bara Indonesia mencatatkan penguatan dari sisi nilai sepanjang Januari-Juli 2026, meski volume pengirimannya ke pasar global justru menurun.

Impor batu bara dan kokas India turun pada Juli 2026, seiring melemahnya impor thermal coal dan petcoke. Total impor mencapai sekitar 20,14 juta ton (MMT), turun 8,54% secara tahunan dan 9,90% dibandingkan Juni.

Namun, impor coking coal bergerak berlawanan arah. Volumenya naik sekitar 14,65% MoM menjadi 6,07 juta ton pada Juli, meski secara tahunan masih turun sekitar 1,28%.

Sementara itu, impor thermal coal turun menjadi 11,43 juta ton. Impor petcoke juga merosot tajam menjadi sekitar 551 ribu ton, level terendah dalam 53 bulan.

Data lain menunjukkan impor coking coal India meningkat dari sekitar 5,34 juta ton pada Juni menjadi 6,07 juta ton pada Juli, atau naik 13,8% MoM. Kenaikan terutama berasal dari Australia, dengan pengiriman dari negara tersebut melonjak 19,7% menjadi 3,78 juta ton.

Kenaikan impor coking coal terjadi di tengah terbatasnya pasokan domestik. Produksi coking coal India pada April-Juni 2026 tercatat turun 10,18% YoY menjadi 13,32 juta ton, sehingga industri baja semakin bergantung pada pasokan impor.

Volume Ekspor RI Turun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor batu bara naik 4,75% menjadi US$14,47 miliar pada Januari-Juli 2026, dari US$13,81 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kenaikan nilai tersebut berbanding terbalik dengan volume ekspor. Pengiriman batu bara Indonesia turun 6,17% menjadi 201,47 juta ton, dari sebelumnya 214,71 juta ton.

(mae/mae)

Read Entire Article
| | | |