Sulitnya Cari Kerja, Sudah Kirim 5.000 Lamaran Masih Menganggur

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sulitnya mencari pekerjaan masih menjadi cerita yang dihadapi banyak pencari kerja di Indonesia. Bahkan, ada yang mengaku sudah mengirim ribuan lamaran pekerjaan, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan setelah bertahun-tahun.

Cerita tersebut ramai dibagikan warganet di media sosial Threads yang membagikan pengalaman mereka menganggur dan mencari pekerjaan. Salah satunya adalah akun @hand*** yang mengaku sudah hampir tiga tahun mencari pekerjaan dan mengirim lamaran ke lebih dari 5.000 perusahaan.

"Jalan 3 tahun (menganggur) kak, sudah apply lebih dari 5.000++ perusahaan, dipanggil interview cuma 100-an, sisanya di-ghosting," tulis akun tersebut, dikutip Selasa (2/9/2026).

Dari sekitar 100 panggilan wawancara yang diterimanya, menurut pengakuannya, hanya sekitar 10 yang berlanjut ke tahap wawancara dengan user atau calon atasan. Sementara proses rekrutmen lainnya berhenti di tahap wawancara dengan HR. Ia bahkan mengaku sempat mengikuti sesi berbayar seputar cara melamar pekerjaan, tetapi hingga kini belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Cerita serupa datang dari warganet lain. Akun @ifarina**** mengaku sempat mengirim sekitar 1.000 lamaran selama empat bulan pertama menganggur. Namun, setelah setahun belum mendapatkan pekerjaan, ia mengaku sudah tidak lagi aktif mengirim lamaran.

Ada pula akun @nengresahera*** yang mengaku telah menganggur selama sekitar 1,5 tahun. Di tengah pencarian pekerjaan, ia memilih berjualan seblak dan membantu usaha orang tuanya.

Sementara akun @ixxo*** menggambarkan pengalamannya dengan singkat. Ia mengaku sudah dua tahun mencari pekerjaan sejak lulus kuliah.

"2 tahun dari fresh graduate sampai nggak fresh lagi," tulisnya.

Cerita para pencari kerja tersebut muncul di tengah masih besarnya jumlah lulusan pendidikan tinggi yang belum terserap pasar kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan sekitar satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih mencari pekerjaan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR sekaligus Sosiolog Pendidikan Prof Bagong Suyanto menilai salah satu persoalan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi adalah ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja. Perkembangan dunia industri berlangsung cepat, sementara sebagian lulusan perguruan tinggi dinilai belum memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.

"Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," kata Bagong, dikutip dari laman resmi UNAIR.

Bagong menilai, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan lulusan. Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa besar lapangan pekerjaan yang tersedia.

Ia menilai pembangunan industri di Indonesia cenderung mengutamakan industri padat modal yang mengandalkan teknologi, mesin, dan modal sehingga kebutuhan tenaga kerjanya relatif lebih sedikit.

Persoalan lulusan perguruan tinggi juga tidak berhenti pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Belum lama ini, laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bertajuk "Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?" menemukan sekitar 8 juta lulusan sarjana bekerja pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah dibandingkan pendidikan yang mereka miliki.

Fenomena tersebut dikenal sebagai overeducation. Kondisi ini dapat menunjukkan pertumbuhan jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi berlangsung lebih cepat dibandingkan penciptaan pekerjaan profesional yang membutuhkan keterampilan tinggi.

Berdasarkan analisis terhadap Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, LPEM FEB UI juga menemukan lima bidang studi mencakup sekitar 40% dari total pengangguran berpendidikan minimal S1.

Manajemen memiliki porsi terbesar sebesar 10,3%, disusul hukum 9%, ekonomi 8,7%, pendidikan 7,1%, dan akuntansi 5,1%. Ilmu komputer atau informatika juga mencakup sekitar 4,6% dari pengangguran berpendidikan minimal S1.

Namun, LPEM FEB UI menekankan angka tersebut bukan tingkat pengangguran masing-masing jurusan. Data itu menunjukkan komposisi bidang studi di antara kelompok pengangguran berpendidikan minimal S1, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan jurusan tertentu memiliki prospek kerja paling buruk.

Temuan tersebut menunjukkan tantangan pasar kerja bagi lulusan perguruan tinggi bukan sekadar mendapatkan pekerjaan. Persoalan lainnya adalah apakah lapangan kerja yang tersedia mampu menyerap semakin banyak tenaga kerja terdidik dan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikan serta kompetensi mereka.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |