Review Sepekan
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
23 August 2026 09:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara Newcastle menguat sepanjang pekan ini. Pada perdagangan Jumat (21/8/2026), harga ditutup di US$138,25 per ton, naik US$4,65 atau 3,48% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$133,60.
Batu bara mengawali pekan dengan kenaikan 0,34% ke US$134,05 pada Senin. Harga kemudian menguat 0,15% menjadi US$134,25 pada Selasa dan bertambah 0,37% ke US$134,75 pada Rabu.
Penguatan semakin kencang pada dua hari terakhir. Harga naik 1,11% menjadi US$136,25 pada Kamis, kemudian melesat 1,47% dan menutup Jumat di US$138,25.
Dengan demikian, batu bara mencatatkan penguatan dalam lima hari perdagangan berturut-turut. Penutupan tertinggi berada di US$138,25 dan terendah US$134,05, menghasilkan rentang US$4,20 atau sekitar 3,14%.
China: Impor Kembali Meningkat
Permintaan China menjadi salah satu penopang utama harga batu bara. Impor batu bara China pada Juli 2026 mencapai 42,73 juta ton, naik hampir 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pengiriman dari Indonesia menuju China juga meningkat sekitar 20% secara tahunan. Kenaikan impor terjadi setelah produksi domestik China terganggu oleh penutupan dan pemeriksaan sejumlah tambang.
Konsumsi pembangkit listrik di wilayah selatan China ikut meningkat sejak akhir Juli. Sementara itu, produksi domestik belum sepenuhnya mampu mengejar kebutuhan sehingga pembeli kembali melirik batu bara impor.
Namun, curah hujan tinggi dan meningkatnya produksi pembangkit listrik tenaga air masih dapat membatasi konsumsi batu bara. Permintaan China tetap sensitif terhadap perubahan suhu dan cuaca.
Indonesia: HBA Beragam, Pasokan Ekspor Berpotensi Ketat
Pemerintah Indonesia menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) periode kedua Agustus 2026 dengan pergerakan berbeda pada setiap kualitas. Batu bara kalori tinggi mengalami penurunan tipis, sedangkan batu bara kalori menengah dan rendah mencatatkan kenaikan.
Kenaikan terbesar terjadi pada batu bara 5.300 GAR yang menguat 3,91%. Kondisi tersebut menjadi sentimen positif karena batu bara kalori menengah dan rendah mendominasi ekspor Indonesia, khususnya menuju China dan negara-negara Asia Tenggara.
Sentimen lainnya datang dari penguatan Domestic Market Obligation (DMO). Pemerintah telah menugaskan perusahaan tambang menyediakan sekitar 212 juta ton batu bara untuk memenuhi kebutuhan PLN yang diperkirakan mencapai 154 juta ton pada 2026.
Kebijakan tersebut membantu mengamankan pasokan listrik dalam negeri, tetapi berpotensi mengurangi volume yang tersedia untuk pasar ekspor. Pasokan ekspor juga dapat mengetat setelah pemerintah memangkas kuota produksi dibandingkan tahun sebelumnya.
Rencana pemerintah memperkuat pengawasan dan memusatkan transaksi ekspor komoditas strategis turut menjadi perhatian. Proses transisi kebijakan tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian kontrak dan pengiriman batu bara.
India: Produksi Tinggi Menahan Impor
Sentimen dari India masih cenderung negatif bagi pasar batu bara global. Produksi batu bara India pada Juli 2026 mencapai 69,75 juta ton, naik 7,51% secara tahunan.
Total persediaan di pembangkit, tambang, dan jalur distribusi mencapai sekitar 148 juta ton. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi sekitar 62 hari konsumsi pembangkit listrik.
Impor batu bara non-kokas India sepanjang Januari-Juli 2026 juga masih turun sekitar 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Besarnya pasokan domestik membuat India belum perlu meningkatkan pembelian dari pasar internasional secara agresif.
Kondisi tersebut berpotensi membatasi kenaikan harga Newcastle, terutama apabila permintaan dari China mulai melambat.
Tren Teknikal Semakin Bullish
Dari sisi teknikal, harga bergerak di atas rata-rata penutupan lima hari sebesar US$135,51, rata-rata 10 hari US$134,72, dan rata-rata 20 hari US$133,46.
Susunan tersebut menunjukkan momentum bullish jangka pendek. RSI 14 hari berada di sekitar 64,84, menandakan tekanan beli cukup kuat tetapi belum memasuki wilayah jenuh beli.
Harga penutupan Jumat juga menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Juni. Namun, area US$139,40-US$139,70 berpotensi menjadi resistance kuat karena sebelumnya beberapa kali menjadi titik pembalikan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls)




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5312155/original/068813000_1754906267-1000195601.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399028/original/092705400_1761902993-mike.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569659/original/041138100_1777452638-Paul_Munster_vs_Bojan_Hodak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/3162385/original/022516600_1593078778-20200625IQ_The_Jakmania_Esport_08.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347641/original/099453500_1757691462-Logo-Pegadaian-Championship-Liga-2-20252026.jpg)