Israel Tetap Kaya dan Ekonominya Jaya Meski Perang Terus, Kok Bisa?

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Israel masih tumbuh kencang meski dihantam perang berkepanjangan. Bursa saham Israel bahkan meroket di tengah memanasnya perang.

Israel terlibat konflik berkepanjangan sejak serangan kelompok militan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu serangan Israel ke Gaza.

Israel juga menyerang Iran bersama AS pada 28 Februari dan bertempur melawan kelompok proksi Iran, Hezbollah, di Lebanon. Selain itu, Israel juga menjadi target serangan dari kelompok Houthi di Yaman.

Meski terlibat dalam perang tetapi anehnya ekonomi negara zionis ini masih tangguh.

Awal bulan ini, bank sentral Israel memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dengan alasan konflik di Timur Tengah.

Namun, cukup mengejutkan karena bank sentral tetap memperkirakan ekonomi Israel akan tumbuh 3,8% pada 2026, meskipun sudah diturunkan sebesar 1,4 poin persentase.

Gubernur bank tersebut, Amir Yaron jika jika konflik di kawasan mereda, ekonomi Israel bisa pulih hingga 5,5% tahun depan.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan ekonomi Israel akan tumbuh 3,5% tahun ini. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat (2,3%) dan Uni Eropa 1,3%

Meski banyak menghabiskan dana perang, Israel memiliki rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang jauh lebih rendah dibanding banyak negara maju lainnya, yaitu sekitar 69,8% tahun ini. Meski sedikit naik dari 2025, angka ini masih jauh di bawah rata-rata G7 sebesar 123,7%.

Tingkat pengangguran Israel juga hanya naik tipis menjadi 3,2% pada Maret 2026. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan AS (4,3%) dan zona Euro (6,2%).

proyeksi pertumbuhan ekonomiFoto: CNBC

Indikator makro lainnya yakni inflasi juga masih baik. Inflasi relatif stabil selama dua bulan sejak perang Iran dimulai, bahkan turun sedikit menjadi 1,9% pada Maret 2026, di tengah lonjakan harga minyak.

Keren Uziyel, analis senior di Economist Intelligence Unit, mengatakan bahwa meskipun ekonomi Israel tumbuh di bawah potensinya akibat perang, beberapa faktor membuatnya tetap tangguh.

Analis senior Economist Intelligence Unit, Keren Uziyel, menyebut kombinasi sektor swasta yang kuat, inflasi rendah, tenaga kerja terampil, dan pertumbuhan yang konsisten menjadi kunci pemulihan dari krisis.

Menurutnya, ekspor teknologi masih menjadi motor utama pertumbuhan Israel selama dua dekade terakhir. Namun, ekspansi juga terjadi di sektor lain seperti gas alam dan industri pertahanan.

Tak hanya itu, Israel juga mencatat lonjakan investasi besar. Pada 2025, terdapat dua transaksi asing terbesar dalam sejarah di sektor keamanan siber, yakni akuisisi Wiz oleh Google senilai US$32 miliar dan CyberArk oleh Palo Alto Networks senilai US$25 miliar yang rampung pada Maret 2026.

Dari sisi demografi, Israel juga diuntungkan. Pertumbuhan populasi mendekati 2% per tahun dengan struktur penduduk yang relatif muda, bahkan kinerja ekonomi per kapita tetap solid dalam 20 tahun terakhir.

Jika gencatan senjata bertahan, ekonomi Israel diperkirakan pulih cukup kuat dan mampu tumbuh sekitar 3% pada 2026.

"Ekspor barang dan jasa berteknologi tinggi menjadi faktor utama di balik dua dekade pertumbuhan kuat dan penciptaan kekayaan, namun ekonomi juga tumbuh pesat di sektor lain, termasuk pengembangan sumber daya gas dan ekspor pertahanan," ujar Uziyel, kepada CNBC International.

Dia menambahkan bahwa faktor demografi Israel juga menguntungkan untuk negara maju, dengan pertumbuhan populasi rata-rata mendekati 2% per tahun selama sebagian besar dua dekade terakhir.

"Menurut standar negara maju, populasi Israel relatif muda. Bahkan secara per kapita, kinerja ekonominya tetap kuat dalam 20 tahun terakhir," katanya.

Sektor energi juga akan melihat investasi signifikan pada 2026-2027, baik dalam pengembangan kapasitas energi terbarukan domestik maupun dalam mendukung peningkatan produksi dan kapasitas ekspor di sektor gas alam.

Namun, Joao Gomes, profesor keuangan di Wharton School, University of Pennsylvania, mengatakan kepada CNBC bahwa ekonomi Israel mulai merasakan dampak perang Iran.

Salah satunya adalah kekurangan tenaga kerja usia produktif yang dimobilisasi untuk konflik serta melemahnya belanja konsumen akibat kekhawatiran keamanan. Ia menambahkan bahwa sektor pariwisata juga terdampak parah, yang semakin menekan pertumbuhan dan pendapatan pemerintah.

Gomes mengatakan bahwa dampak ekonomi jangka panjang akan sangat bergantung pada bentuk kesepakatan damai di Timur Tengah serta persepsi terhadap tingkat keamanan Israel.

Utang pemerintah Israel disebut melonjak signifikan dan akan membutuhkan penyesuaian fiskal.

Namun, kondisi tersebut masih dinilai terkendali selama Israel mampu mencapai kerangka perdamaian yang memungkinkan penurunan belanja pertahanan secara berkelanjutan, sekaligus menjaga kepercayaan investor asing dan kualitas tenaga kerja.

"Dampak perang terhadap reputasi internasional Israel dan daya tariknya bagi wisatawan global mungkin tidak terlalu krusial, tetapi tetap relevan," ujar Joao Gomes kepada CNBC.

Gomes memperingatkan, tanpa kesepakatan damai yang jelas, prospek ekonomi Israel akan jauh lebih menantang. Risiko yang mengintai antara lain keluarnya arus modal, melemahnya mata uang hingga lonjakan inflasi.

Bursa Saham Terbang

Di tengah tekanan geopolitik, pasar keuangan Israel justru menunjukkan performa kuat. Menurut Karen Schwok, CEO Lucid Investments, arus modal justru terus masuk ke pasar domestik.

Sejak awal tahun indeks Tel Aviv 35 melonjak sekitar 20%, setelah naik 51,6% pada 2025. Selama perang Iran, indeks masih mencatat kenaikan sekitar 1%.

bursa saham Israel dibandingkan negara majuFoto: CNBC

Sementara itu, mata uang shekel Israel juga menguat hampir 7% terhadap dolar AS sepanjang tahun ini bahkan naik sekitar 4% selama periode perang.

Kinerja indeks Tel Aviv 35 sepanjang tahun ini bahkan melampaui banyak pasar negara maju, termasuk tiga indeks utama Wall Street.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |