Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak berguguran dipicu aksi jual besar-besaran bandar yang mengambil untung (taking profit).
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 4452,77 per troy ons atau jatuh 0,98% pada perdagangan Rabu (7/1/2026). Penurunan hampir 1% ini berbanding terbalik dengan Selasa di mana emas melesat 1,1%.
Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Kamis (8/1/2026) pukul 06.28 WIB, harga emas global diperdagangkan di US$ 4461,75 per troy ons atau menguat 0,2%.
Harga emas anjlok pada Rabu karena investor melakukan aksi ambil untung setelah reli terbaru. Namun, penurunan tersebut sempat terpangkas setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Data yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat spekulasi akan adanya pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve.
"Kami melihat koreksi hari ini sebagai aksi ambil untung secara umum setelah lonjakan harga sebelumnya," kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, kepada Reuters.
Namun, data ketenagakerjaan yang lebih lemah terus meningkatkan optimisme pelonggaran kebijakan The Fed, yang belakangan menopang harga emas.
Lowongan pekerjaan di AS turun lebih besar dari perkiraan pada November setelah sempat naik tipis pada Oktober. Sementara itu, laporan terpisah dari ADP menunjukkan pertambahan tenaga kerja sektor swasta pada Desember lebih rendah dari ekspektasi.
Data JOLTs menunjukkan lowongan pekerjaan di Amerika Serikat turun sebanyak 303.000 menjadi 7,146 juta pada November 2025. Angka ini merupakan level terendah sejak September 2024 dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,60 juta. Jumlah lowongan pekerjaan menurun di sektor akomodasi dan layanan makanan (-148.000); transportasi, pergudangan, dan utilitas (-108.000); serta perdagangan grosir (-63.000). Sebaliknya, lowongan pekerjaan justru meningkat di sektor konstruksi (+90.000).
Dengan data terbaru, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 61 basis poin tahun ini. Fokus pasar kini tertuju pada laporan non-farm payrolls yang akan dirilis Jumat.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih berlanjut setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap pada akhir pekan. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pada Selasa untuk memurnikan dan menjual minyak mentah Venezuela, sementara White House secara terpisah mengonfirmasi adanya pembahasan mengenai kemungkinan akuisisi Greenland, termasuk potensi keterlibatan militer.
Di tempat lain, bank sentral China memperpanjang rekor pembelian emasnya menjadi 14 bulan berturut-turut pada Desember 2025.
"Data dari China terus menunjukkan permintaan yang kuat dari Asia ... dan sekali lagi menjadi salah satu alasan mengapa kita melihat dorongan kenaikan harga baru-baru ini," kata Meger.
Emas, yang merupakan aset lindung nilai tanpa imbal hasil cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah dan saat ketidakpastian meningkat.




























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











