Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak melesat mencapai level tertinggi dalam satu minggu setelah serangan Amerika Serikat di Venezuela meningkatkan permintaan aset safe haven.
Pada perdagangan Senin (5/1/2026), harga emas dunia naik 2,73% di level US$4.448,19 per troy ons. Kenaikan ini membawa emas ke level US$ 4.400 dan tertinggi dalam satu minggu.
Dalam empat hari sebelumnya, emas sempat berkutat di level US$ 4.300.
Pada perdagangan hari ini Selasa (6/1/2026) hingga pukul 06.35 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,16% di posisi US$4.440,97 per troy ons.
Harga emas naik ke level tertinggi dalam satu minggu pada perdagangan Senin, setelah serangan AS di Venezuela menambah daya tarik emas sebagai aset safe-haven.
Pejabat AS mengkonfirmasi bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah ditahan selama penggerebekan akhir pekan di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada.
Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade, yang mendorong investor untuk menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional di Amerika Latin.
Presiden AS Donald Trump mengatakan penangkapan Maduro adalah "langkah tegas" terhadap apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, menambahkan bahwa AS akan memastikan "transisi yang aman dan tertib" di Venezuela.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, tetapi sanksi dan kurangnya investasi selama bertahun-tahun telah secara tajam mengurangi produksi. Tindakan AS meningkatkan ketidakpastian atas pasokan minyak mentah negara tersebut dalam jangka pendek.
"Situasi di sekitar Venezuela jelas telah mengaktifkan kembali permintaan safe-haven, tetapi ini terjadi di atas kekhawatiran yang sudah ada tentang geopolitik, pasokan energi, dan kebijakan moneter," ujar Alexander Zumpfe, seorang pedagang logam mulia di Heraeus Metals Jerman.
Bagi emas, peningkatan tersebut menambah latar belakang yang sudah mendukung. Harga emas batangan telah didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga AS akhir tahun ini, pembelian terus-menerus oleh bank sentral, dan kekhawatiran yang masih ada tentang pertumbuhan global.
Harga emas mencatatkan kenaikan 64% tahun lalu, didorong oleh titik-titik konflik geopolitik dan siklus pelonggaran suku bunga The Federal Reserve AS. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, bersamaan dengan pembelian oleh bank sentral dan aliran ETF memberikan dukungan lebih lanjut.
Sebelumnya, AS menyerang Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada hari Sabtu (3/1/2025), dalam intervensi paling langsung Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama tahun 1989.
Presiden Donald Trump memperingatkan akan adanya serangan lain jika Caracas menolak upaya AS untuk membuka industri minyaknya dan menghentikan perdagangan narkoba, dan mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko atas aliran narkoba ilegal.
Emas adalah aset penyimpan nilai tradisional yang juga berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil.
"Pergerakan lain menuju rekor tertinggi baru kemungkinan akan dipicu jika ketegangan geopolitik meluas lebih jauh atau jika data AS yang masuk memperkuat ekspektasi bahwa Fed harus melakukan pelonggaran yang lebih agresif daripada yang diperkirakan saat ini," ujar Zumpfe.
Sementara itu, pasar menantikan data nonfarm payrolls bulan Desember pada hari Jumat, sambil mengharapkan setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini.






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







