Harga Listrik dari Pembangkit Sampah Ditetapkan 20 Sen Dolar/kWh

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan tarif jual beli listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berada di angka US$ 20 sen per kilowatt hour (kWh). Pemerintah memang tengah mendorong pemanfaatan sampah jadi energi di 34 kabupaten/kota dalam negeri.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa kebijakan harga tersebut merupakan bagian dari strategi dekarbonisasi perkotaan sekaligus solusi atas krisis sampah yang melanda banyak daerah. Besaran tarif itu sendiri telah disesuaikan agar proyek waste to energy (WTE) itu menarik minat investor.

"Ya, ini harga jual listrik itu kan sudah naik, itu sekitar 20 sen dolar. 20 sen dolar," ujar Yuliot saat ditemui di Jakarta, dikutip Rabu (4/2/2026).

Pihaknya menyadari harga tersebut kemungkinan besar berada di atas Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PT PLN (Persero). Oleh karena itu, pemerintah akan menyiapkan mekanisme subsidi untuk menutup selisih antara harga jual dari pengembang PLTSa dengan kemampuan bayar PLN.

"Ini untuk subsidi itu harus kita hitung lagi, ya berapa kapasitas yang tersedia, ya kemudian dari HPP PLN berapa, kemudian selisihnya itu kan akan dihitung sebagai subsidi," tambahnya.

Saat ini, pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah memetakan 34 kabupaten/kota prioritas yang akan menjadi lokasi pembangunan fasilitas ini. Yuliot menargetkan proses konstruksi di beberapa lokasi dapat dimulai pada pertengahan tahun ini agar operasional komersial bisa tercapai paling cepat dalam 1,5 tahun mendatang.

"Jadi diharapkan tahun 2026, pertengahan ini, sudah ada yang dilakukan groundbreaking. Jadi pada saat groundbreaking kan biasanya penyelesaian sekitar satu setengah tahun itu sampai dengan dua tahun, apabila lahannya sudah tersedia. Jadi diharapkan itu nanti sekitar 2027 sudah ada yang mulai beroperasi," tutup Yuliot.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |