Heboh Trump Acuhkan Sekutu Arab, Sudah Tahu Ditarget Iran tapi...

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sebenarnya telah diperingatkan mengenai potensi aksi balas dendam Iran terhadap sekutu-sekutu AS di Teluk. Laporan ini muncul pada Selasa (17/03/2026), di tengah klaim Trump sebelumnya yang mengaku terkejut dengan serangan balasan Teheran yang menyasar pangkalan militer dan fasilitas sipil di kawasan tersebut.

Seorang pejabat Amerika Serikat dan dua sumber yang mengetahui laporan intelijen AS mengungkapkan bahwa penilaian sebelum perang sudah mencantumkan risiko tersebut. Meski tidak dinyatakan sebagai sebuah kepastian, potensi serangan Iran ke negara tetangga sudah masuk dalam daftar kemungkinan hasil yang akan terjadi.

"Penilaian intelijen sebelum perang tidak mengatakan bahwa tanggapan Iran adalah sebuah jaminan, tetapi itu tentu saja masuk dalam daftar hasil potensial," ujar salah satu sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan tersebut kepada Reuters.

Namun, Presiden Trump justru memberikan pernyataan yang bertolak belakang saat menghadiri pertemuan dewan Kennedy Center di Gedung Putih pada hari Senin. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa serangan balasan Iran terhadap Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait adalah sesuatu yang di luar dugaan.

"Mereka (Iran) seharusnya tidak mengincar semua negara lain di Timur Tengah ini. Tidak ada yang mengharapkan itu. Kami terkejut," kata Donald Trump.

Pernyataan Trump ini menambah panjang daftar klaim pemerintahannya yang dinilai tidak didukung oleh laporan intelijen resmi, termasuk klaim bahwa Iran akan segera memiliki rudal yang mampu mencapai daratan AS. Berbagai alasan ini digunakan Trump dan pembantunya untuk membenarkan keputusan bergabung dengan Israel dalam meluncurkan perang udara melawan Iran sejak 28 Februari lalu.

Selain risiko serangan ke negara tetangga, Trump juga dikabarkan telah menerima pengarahan sebelum operasi dimulai bahwa Teheran kemungkinan besar akan mencoba menutup Selat Hormuz yang vital bagi ekonomi dunia. Selama dua minggu terakhir, drone dan rudal Iran memang telah menghantam berbagai target di negara-negara Teluk, mulai dari pangkalan militer hingga fasilitas energi.

Ketika ditanya kembali dalam acara penandatanganan di Oval Office pada Senin sore mengenai apakah dirinya benar-benar tidak mendapatkan pengarahan soal risiko serangan Iran ke negara-negara Teluk, Trump kembali membantahnya dengan keras.

"Tidak ada, tidak ada, tidak, tidak, tidak. Para ahli terhebat, tidak ada yang menyangka mereka akan menyerang," tutur Trump.

Sumber kedua yang memahami masalah ini menjelaskan bahwa komunitas intelijen AS sebenarnya telah menilai rencana serangan AS-Israel yang bertujuan membunuh pemimpin tinggi Iran kemungkinan besar akan memicu pembalasan terhadap pos militer dan diplomatik Amerika. Namun, pemerintahan Trump dilaporkan tidak segera memerintahkan evakuasi staf diplomatik dari beberapa kedutaan regional sampai serangan udara benar-benar dimulai.

Komunitas intelijen juga telah memberikan peringatan bahwa Iran memiliki kemampuan dan kemungkinan untuk memperluas pembalasannya kepada sekutu-sekutu Amerika di kawasan tersebut. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih dan Kantor Direktur Intelijen Nasional masih menolak untuk memberikan komentar resmi terkait perbedaan klaim antara Presiden dan laporan intelijen ini.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |